Suhaimah binti Mas’ud

Suhaimah binti Mas’ud Radhiallahu anha

Oleh: Ustadzah Gustini Ramadhani

Malam sebelum terjadi perang Uhud, Abdullah bin Amr al-Khazraji al-Anshari berwasiat kepada putra tunggalnya agar tetap tinggal bersama sembilan saudarinya di rumah, karena tidak seorang pun yang bisa menggantikan posisinya untuk menjaga mereka selain dia. Ia berwasiat, “Wahai Putraku, aku merasa akan terbunuh dalam perang, dan aku tidak akan membiarkan orang lebih terhormat dariku kecuali engkau, setelah Rasulullah. Dan aku mempunyai utang yang mesti engkau bayar, maka bayarkanlah dan sayangi adik-adik perempuanmu, serta didik mereka sebaik-baiknya.”

Esok harinya, apa yang diucapkan Abdullah menjadi kenyataan. Ia menjadi orang pertama yang terbunuh dari barisan kaum muslimin pada perang Uhud. Setelah ayahnya wafat, maka Jabir melaksanakan wasiat ayahnya. Pertama-tama ia mendatangi Rasulullah seraya mengadukan tentang utang ayahnya yang banyak, sementara ia hanya bisa membayar sedikit dari hasil kebun mereka, karena ia juga menggantungkan kehidupan sehari-hari mereka dari sana. Kalau demikian adanya maka mungkin utang itu baru akan lunas setelah bertahun-tahun. Mendengar pengaduan Jabir, Rasulullah pun berdiri dan berjalan menuju tempat penyimpanan kurma Jabir dan berkata, “Panggil orang-orang tempat ayahmu berutang!” Setelah mereka tiba, Rasulullah menakarkan kurma yang ada dalam lumbung itu untuk mereka sampai semua utang ayah Jabir lunas. Beliau melunasi utangnya dengan kurma hasil panen tahun itu. Jabir yang penasaran melihat ke lumbung kurma miliknya itu dan sungguh menakjubkan! Kurma dalam lumbung itu masih utuh seperti semula, seakan tak pernah diambil.

Setelah utang ayahnya terbayar, Jabir mulai berpikir untuk mencari seorang pendamping hidup yang dapat membantunya mendidik adik-adiknya. Mari kita lihat siapakah wanita pilihan Jabir bin Abdullah….

Mendampingi Jabir mendidik keluarga

Inilah pilihannya. Wanita yang bersahaja bernama Suhaimah binti Mas’ud, yang tak lain adalah putri bibinya. Ialah wanita pilihan Jabir, menyisihkan wanita-wanita muda cantik yang selalu menjadi dambaan setiap pemuda. Jabir tidak memilih mereka hanya karena mengharap keridhaan Allah, karena itu Allah juga memberikannya yang terbaik. Allah menjodohkannya dengan seorang wanita yang penuh berkah. Ia memang bukan seorang gadis, tetapi seorang janda yang sudah berumur namun ia adalah istri yang sangat patuh pada suami dan telaten, serta dapat membuktikan bahwa wanita-wanita Anshar memang ahli dalam hal melayani suami. Yang paling utama, ia wanita yang bagus agamanya.

Jabir bin Abdullah Radhiallahu anhu menceritakan kisahnya yang amat terkenal. Ia berkata, “Aku menikah dengan seorang perempuan pada masa Rasulullah. Aku bertemu dengan Nabi. Beliau bertanya, ‘Wahai Jabir, apakah kamu telah menikah?’ Aku menjawab, ‘Iya.’ Beliau bertanya, ‘Dengan perawan ataukah janda?’ Aku menjawab, ‘Dengan janda.’ Beliau bertanya, ‘Mengapa kamu tidak menikahi perawan, sehingga kamu bisa bercanda dengannya?’ Aku menjawab, ‘Wahai Rasulullah, aku mempunyai beberapa orang saudari. Aku khawatir jika istriku menjadi penghalang hubunganku dengan mereka.’ Beliau bersabda, ‘Sudah benar jika memang demikian. Sesungguhnya, seorang perempuan itu dinikahi karena agamanya, hartanya, dan kecantikannya. Hendaklah kamu mengutamakan perempuan yang memiliki agama, niscaya kamu tidak akan merugi.’”

Jawaban Rasulullah ini menjadi keistimewaan tersendiri bagi Suhaimah. Secara tak langsung Nabi telah memuji kebaikan agamanya. Betapa tidak, ia adalah wanita yang bersegera masuk Islam ketika itu dan berbai’at kepada Rasulullah. Di sisi lain Jabir sangat membutuhkan pendamping yang dapat mendidik adik-adiknya. Bukan gadis belia yang sebaya dengan mereka, sehingga akan terjadi perselisihan di antara mereka disebabkan sifat mereka masih kekanak-kanakan.

Jabir merasa sangat bahagia dengan adanya Suhaimah. Seorang pendamping setia yang banyak membantunya meringankan beban yang dipikulnya. Dengan berkurangnya beban itu, Jabir dapat mewujudkan impiannya untuk terus mengikuti Rasulullah dalam setiap peperangan bersama Rasulullah ﷺ, kecuali Badar dan Uhud, karena saat itu ia dilarang oleh ayahnya lantaran harus menjaga adik-adiknya.

Saling menjaga dan membantu dalam ketaatan

Jabir dan Suhaimah saling menjaga dan saling membantu dalam mencari keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Mereka selalu hadir dalam setiap kejadian penting bersama Rasulullah, khususnya ketika terjadi perang Khandak. Saat para sahabat sedang menggali parit yang akan dijadikan sebagai pelindung. Ketika itu mereka menemukan sebongkah batu besar yang sangat sulit mereka pecahkan. Mereka mengadukannya kepada Rasulullah ﷺ. Rasulullah pun berkata, “Biarkanlah, aku akan turun untuk menghancurkannya.” Rasulullah pun turun ke parit dan berdiri menghadapi batu itu, sementara perut beliau diganjal batu untuk menahan lapar. Karena sudah tiga hari Rasulullah dan para sahabat tidak makan. Rasulullah mengambil linggis dan memukul batu itu hingga hancur seperti pasir. Jabir melihat Rasulullah yang mengganjal perutnya dengan batu merasa sangat sedih, ia pun menghadap beliau dan berbisik, “Wahai Rasulullah, apakah aku boleh pulang ke rumah?” Beliau menjawab, “Pulanglah.”

Sesampai di rumah ia berkata kepada Suhaimah, “Aku melihat Rasulullah menahan lapar yang sangat, yang tidak dapat ditahan oleh manusia biasa. Apakah engkau mempunyai sesuatu (yang bisa dimakan)?” Suhaimah menjawab, “Aku hanya punya sedikit gandum dan seekor kambing kecil.” Tanpa pikir panjang, Jabir pun menyembelih kambing itu dan memotong-motong dan membersihkannya kemudian di masak. Ia juga mengambil gandum dan menumbuknya kemudian ia menyerahkannya kepada Suhaimah untuk dijadikan roti. Ketika melihat bahwa daging sudah hampir lunak dan adonan hampir mengembang, Suhaimah meminta suaminya memanggil Rasulullah. Sesampai di Khandaq, Jabir menemui Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, kami telah memasakkan sedikit makanan untukmu. Marilah, ajak satu atau dua sahabatmu bersamamu.” Rasulullah berkata, “Berapa banyak?” Jabir lalu menerangkan porsi makanan yang ada.

Ketika Rasulullah mengetahui jumlah makanan, beliau lalu berteriak, “Wahai sahabatku yang ada di parit! Sesungguhnya Jabir telah membuatkan makanan untuk kalian. Mari, kita pergi ke rumahnya..!” Beliau pun berkata kepada Jabir, “Pulanglah, temui istrimu dan katakan padanya, ‘Jangan turunkan pancimu, dan jangan panggang rotimu sampai aku datang.’” Jabir pun pulang, namun dalam perjalanan ia dihantui kebimbangan dan rasa malu yang sangat, karena bagaimana bisa makanan sedikit itu cukup untuk orang sebanyak itu?!

Di rumah ia langsung menemui istrinya dan berkata, “Celakalah kita! Rasulullah akan datang bersama semua sahabat yang ada di Khandaq!” Istri yang shalihah itu pun menjawab dan berusaha menenangkan suaminya, “Apakah beliau menanyakan kepadamu, berapa banyak makananmu?” Jabir menjawab, “Ya.” Istrinya meyakinkan dan berkata, “Tenangkan dirimu. Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Saat itu Jabir tersadar. Setelah mendengar perkataan istrinya itu ia merasa tenang. Tak lama setelah itu Rasulullah bersama rombongannya pun datang. Kemudian beliau berkata kepada Suhaimah, “Bawa ke sini adonanmu! Pangganglah dan jerangkan pancimu serta jangan turunkan dari tungku..!” Kemudian beliau membagi roti dan meletakkan daging di atasnya, dan menghidangkannya kepada para sahabat. Mereka makan sampai kenyang. Namun makanan yang ada di panci dan adonan roti masih utuh, tidak ada yang kurang. Kemudian Rasulullah berkata kepada Suhaimah, “Makan dan hadiahkanlah..!” Suhaimah pun makan sampai kenyang, kemudian ia bagikan sisanya untuk tetangga selama seharian penuh.

Demikianlah Suhaimah dapat menyelesaikan masalah dengan tenang dan penuh kedewasaan. Ia mempunyai keyakinan yang jarang dimiliki orang lain, yaitu keyakinan bahwa Rasulullah tidak akan mempermalukan mereka, kerena sebelumnya beliau telah bertanya dan tentu beliau telah memperkirakan segalanya.

Dalam kisah ini dapat kita lihat kesempurnaan akhlak Rasulullah. Beliau tidak mendahulukan kepentingan pribadi, tetapi lebih mementingkan orang lain, dan selalu ingin bersama dalam segala keadaan bersama sahabatnya, susah maupun senang. Dan tingginya kesabaran para sahabat. Mereka rela berkorban dengan jiwa, raga serta harta untuk membela agama Allah. Tak heran bila Allah meridhai mereka.

Referensi:

–          Al-Ishabah

–          Mausu’ah min Hayatish Shahabiyat

–          Shuwarun min Hayatish Shahabah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *