Susu Menurut Al-Qur’an, Hadits dan Penelitian Modern

Susu Menurut Al-Qur’an, Hadits dan Penelitian Modern 

Oleh: Beta Sagita Jayasaputra, S.T.P

Para pembaca, semoga Allah merahmati kita semua. Membahas makanan-makanan yang Allah sebutkan di dalam al-Qur’an tidaklah mudah. Apalagi jika dihubungkan dengan kesehatan. Prinsipnya, semua makanan yang dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya tentulah makanan yang baik. Namun, tahu dari manakah kita bahwa suatu makanan itu dianjurkan? Tentunya hal ini perlu penjelasan dari orang-orang yang mengerti tentang ilmu fikih.

Maksudnya, jika didapati dalam sebuah ayat atau hadits bahwa ada seorang Nabi memakan suatu makanan, apakah itu berarti makanan tersebut bernilai sunnah ketika dimakan? Ataukah Nabi tersebut memakan makanan itu karena tidak ada makanan yang lain? Yang dengan sebab itu, bukanlah makanannya yang perlu diteladani, melainkan kesabaran Nabi tersebut menerima berbagai cobaan hidup. Termasuk cobaan hidup adalah kekurangan makanan yang bergizi.

Jikapun ada hasil-hasil penelitian yang menyebutkan bahwa makanan-makanan tersebut adalah menyehatkan, kita tidak bisa langsung mengatakan bahwa Allah atau Nabi-Nya mensunnahkan makanan tersebut karena mengandung zat gizi ini dan itu. Mengapa? Karena berbeda dengan ilmu agama, ilmu sains (ilmu yang berdasarkan penelitian/ uji coba) semakin bertambah tahun maka semakin modern dan terungkap fakta-fakta baru yang cukup sering membantah penelitian-penelitian terdahulu.

Seseorang pernah bertanya kepada Syaikh Ibnu ‘Utsaimin: “Apakah boleh menafsirkan Al-Quran al-Karim dengan teori ilmiah modern?”

Maka Syaikh berkata:

تفسير القرآن بالنظريات العلمية له خطورته، وذلك إننا إذا فسرنا القرآن بتلك النظريات ثم جاءت نظريات أخرى بخلافها فمقتضى ذلك أن القرآن صار غير صحيح في نظر أعداء الإسلام؛ أما في نظر المسلمين فإنهم يقولون إن الخطأ من تصور هذا الذي فسر القرآن بذلك، لكن أعداء الإسلام يتربصون به الدوائر، ولهذا أنا أحذر غاية التحذير من التسرع في تفسير القرآن بهذه الأمور العلمية ولندع هذا الأمر للواقع، إذا ثبت في الواقع فلا حاجة إلى أن نقول القرآن قد أثبته، فالقرآن نزل للعبادة والأخلاق، والتدبر، يقول الله : عز وجل (كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ) (ص:29)

Penafsiran al-Qur’an dengan berbagai teori-teori ilmiah mempunyai bahaya tersendiri. Bahaya itu terjadi jika kita menafsirkannya dengan berbagai macam teori, lalu muncul teori-teori lain yang menyelisihinya, hal ini akan berakibat al-Qur’an dianggap tidak benar oleh musuh-musuh Islam.

Adapun menurut kaum muslimin, mereka akan mengatakan bahwa kesalahan ini berasal dari pandangan orang yang menafsirkannya. Tetapi musuh-musuh Islam, mereka senantiasa menantikan munculnya hal-hal yang membahayakan bagi ajaran Islam.

Oleh karena itu, saya memberi peringatan sekeras-kerasnya agar tidak tergesa-gesa dalam menafsirkan al-Qur’an dengan perkara-perkara ilmiah ini. Kita biarkan saja sampai kenyataan (fenomena) berbicara. Jika suatu fenomena telah terjadi, tidak perlu kita katakan bahwa al-Qur’an sudah menetapkan hal tersebut. Al-Qur’an turun untuk mengajarkan tentang ibadah, akhlak dan untuk ditadaburi (diresapi tafsirnya-pen). Allah w\ berfirman (artinya),

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.’ (QS. Shad: 29)” (Kitabul ‘Ilmi hal. 105)

Dengan demikian, tulisan kali ini hanya akan membawakan ayat al-Quran, al-Hadits dan penelitian tentang susu. Penelitian itu bisa salah, bisa benar. Sedangkan al-Qur’an dan ajaran Rasulullah ﷺ pasti benar. Penelitian ini bukanlah tafsir dari al-Qur’an, namun sekadar informasi bahwa penelitian itu memang ada.

Allah ﷻ berfirman tentang susu:

وَاِنَّ لَكُمْ فِى الْاَنْعَامِ لَعِبْرَةً ۚ نُسْقِيْكُمْ مِّمَّا فِيْ بُطُوْنِهٖ مِنْۢ بَيْنِ فَرْثٍ وَّدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَاۤىِٕغًا لِّلشّٰرِبِيْنَ

Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (QS. an-Nahl: 66)

Dari Ibnu Abbas , Rasulullah ﷺ bersabda:

إذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامًا فَلْيَقُل اللّهُمّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ . وَمَنْ سَقَاهَ اللهُ لَبَنًا ، فَلْيَقُلْ اللّهُمّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ فَإِنّهُ لَيْسَ شَيْءٌ وَيُجْزِئُ عَنْ الطّعَامِ وَالشّرَابِ غَيْرُ اللّبَنِ

“Jika salah seorang di antara kamu memakan makanan, hendaklah dia berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada makanan ini dan berilah kami makanan yang lebih baik dari ini.’ Jika Allah menakdirkannya meminum susu, hendaklah dia berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada susu ini dan tambahkanlah susu untuk kami.’ Karena sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang mencakup fungsi makanan dan minuman selain susu.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, Shahihul Jami’: 6045)

Dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah ﷺ bersabda:

عَلَيْكُمْ بِأَلْبَانِ الْبَقَرِ فَإِنَّهَا تَرُمُّ مِنْ كُلِّ الشَّجَرِ وَ هُوَ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ

“Hendaklah kamu mengonsumsi susu sapi. Karena sapi memakan segala jenis pepohonan dan susunya merupakan obat dari segala penyakit.” (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak, Shahihul Jami’: 4059)

Berkata Donald Deane:

“Sebuah tim yang terdiri dari para ilmuwan Australia pimpinan Dr. Marti Kramski di Universitas Melbourne telah menyuntikkan protein HIV kepada beberapa sapi hamil. Mereka menemukan bahwa sapi-sapi tersebut setelah melahirkan memproduksi susu yang mengandung antibodi terhadap HIV. Dengan kata lain, sapi-sapi tersebut menjadi kebal secara efektif terhadap wabah penyakit tersebut.

Para peneliti kemudian memanen antibodi-antibodi tersebut dan menemukan bahwa antibodi-antibodi itu dapat mencegah virus agar tidak menginfeksi manusia. Kramski berkata, ‘Dari susu tersebut, kami mampu memanen antibodi-antibodi yang spesifik melawan permukaan protein HIV. Kami sudah mengetes antibodi-antibodi ini dan di laboratorium kami. Kami menemukan bahwa antibodi-antibodi tersebut mengikat HIV sehingga ikatan tersebut mencegah virus menginfeksi dan memasuki sel manusia.’” (http://tsminteractive.com/can-milk-prevent-hiv/)

Penulis berkata:

“HIV yang dimaksud adalah Human Immunodeficincy Virus. Yaitu suatu virus yang mengakibatkan penyakit AIDS pada manusia.

Belum ada eksperimen ilmiah yang membuktikan bahwa susu yang diminum bisa membuat seseorang kebal terhadap penyakit AIDS. Adapun para peneliti yang dipimpin Dr. Marti Kramski sedang meneliti lebih lanjut agar susu sapi bisa menjadi produk pencegah HIV. Salah satunya, mereka mengusulkan untuk membuat krim dari susu khusus tersebut (dari sapi hamil yang sudah disuntikkan protein HIV) untuk bisa dioleskan di farji wanita sebelum berhubungan kelamin. Wallahu a’lam.


Rujukan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *