Tafsir Surat Al-Mursalaat Ayat 35-40

Ketika Ucapan Sudah Tidak Lagi Berguna 

Oleh: Ust. Muhammad Aunus Shofy

Surat al-Mursalat [77]: 35-40)

هٰذَا يَوْمُ لَا يَنْطِقُوْنَۙ ,وَلَا يُؤْذَنُ لَهُمْ فَيَعْتَذِرُوْنَ, وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ, هٰذَا يَوْمُ الْفَصْلِ جَمَعْنٰكُمْ وَالْاَوَّلِيْنَ, فَاِنْ كَانَ لَكُمْ كَيْدٌ فَكِيْدُوْنِ, وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ

Ini adalah hari, yang mereka tidak dapat berbicara (pada hari itu), dan tidak diizinkan kepada mereka minta udzur sehingga mereka (dapat) minta udzur. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Ini adalah hari keputusan; (pada hari ini) Kami mengumpulkan kamu dan orang-orang terdahulu. Jika kamu mempunyai tipu daya, maka lakukanlah tipu dayamu itu terhadap-Ku. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.

Di antara dari sekian banyak nikmat pemberian Allah ﷻ adalah nikmat lisan untuk berbicara. Allah yang membuat manusia mampu untuk berbicara dan mudah untuk berkomunikasi antara sesama. Lisan merupakan anggota tubuh yang sangat kecil, namun sangat lincah, paling rajin beraktivitas. Maka perbanyaklah bersyukur atas nikmat yang mulia ini.

Sangat disayangkan, kenyataan yang banyak dilakukan, manusia tidak menggunakan lisan mereka untuk kebaikan dan kemaslahatan, justru mereka gunakan dalam rangka maksiat; mencaci, ghibah, adu domba, berbohong, menyeru kepada kejelekan, bersumpah dengan selain Allah dan mendustakan kebenaran. Inilah penyakit manusia dari golongan musuh Rasul sejak zaman dahulu. Begitu juga dengan kaum muslimin zaman sekarang yang mengaku beriman kepada Allah dan mencintai Rasul, tetapi tidak pernah menjaga lisannya. Mereka selalu mengejek sunnah Rasul, mencaci para ulama yang berjalan di atas sunnah, menggunjing orang yang mengamalkan syariat.

Ingatlah, segala perbuatan pasti ada pertangung jawabannya. Pada suatu hari nanti lisan-lisan akan kelu, mulut-mulut tertutup rapat, sehingga manusia tak dapat berbicara dan mengelak. Mereka tunduk tak berdaya dan dihantui rasa takut disebabkan kezaliman mereka. Dahulu ketika di dunia mampu berkelit, tetapi jika hari kiamat sudah tiba, tak berguna lagi pembicaraan. Penyesalan demi penyesalan akan menyelimuti mereka.

Tafsir Ayat:

Setelah Allah ﷻ menjelaskan bagaimana pemandangan hari kiamat dengan keberadaan api neraka dan sifat-sifatnya, kemudian pada ayat selanjutnya Allah kabarkan tentang sebagian keadaan orang kafir di akhirat nanti.

هٰذَا يَوْمُ لَا يَنْطِقُوْنَۙ, وَلَا يُؤْذَنُ لَهُمْ فَيَعْتَذِرُوْنَ, وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ

Ini adalah hari, yang mereka tidak dapat berbicara (pada hari itu), dan tidak diizinkan kepada mereka minta udzur sehingga mereka (dapat) minta udzur. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu

Ibnu Katsir menafsirkan,[1] “Yaitu mereka tidak dapat berbicara, tidak mampu lagi untuk berbicara, dan mereka tidak diizinkan pada hari itu untuk meminta udzur. Bahkan telah sampai pada mereka bukti-bukti. Dan jatuhlah adzab atas mereka disebabkan kezaliman mereka sendiri, sehingga mereka tidak dapat berkata apa-apa lagi. Dan di hamparan luas hari kiamat memiliki aneka ragam keadaan. Terkadang Allah mengabarkan keadaan ini dan kadang mengabarkan tentang keadaan yang lain, untuk menunjukkan begitu dahsyatnya teror dan malapetaka pada hari itu. Oleh sebab itu, Allah mengatakan setelah setiap pasal (bagian) dengan kalimat ini (وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ ) kecelakaan yang bersarlah pada hari itu bagi orang yang mendustakan.”

هٰذَا يَوْمُ الْفَصْلِ جَمَعْنٰكُمْ وَالْاَوَّلِيْنَ, فَاِنْ كَانَ لَكُمْ كَيْدٌ فَكِيْدُوْنِ

Ini adalah hari keputusan; (pada hari ini) Kami mengumpulkan kamu dan orang-orang terdahulu. Jika kamu mempunyai tipu daya, maka lakukanlah tipu dayamu itu terhadap-Ku. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.

Ibnu Jarir ath-Thabari menafsirkan,[2] “Allah ﷻ mengatakan kepada mereka para pendusta hari kebangkitan pada hari mereka dibangkitkan kembali, ‘Inilah hari keputusan, yang mana Allah akan putuskan di dalamnya dengan kebenaran di antara para hamba-Nya. Kami akan kumpulkan kalian sebagai janji atas kalian, sebagaimana kami dahulu sudah menjanjikan kalian di dunia. Perkumpulan di sini, di antara kalian dan semua yang sebelum kalian dari umat-umat yang binasa. Sungguh telah Kami laksanakan untuk kalian yang demikian itu. Dan Allah sudah menepati untuk kalian dari apa yang Allah dahulu janjikan kepada kalian di dunia dari siksaan-siksaan sebab kedustaan kalian pada-Nya. Bahwa kalian sekarang sudah dibangkitkan, jika kalian memiliki tipu daya untuk lolos dari siksaan Allah maka lakukanlah.’”

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di menjelaskan,[3] “Yaitu jika kalian mampu untuk lepas dari kekuasaan-Ku dan selamat dari hukuman-Ku, maka lakukanlah! Sungguh, kalian tidak memiliki kemampuan dan kekuatan. Sebagaimana Allah berfirman:

يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ اِنِ اسْتَطَعْتُمْ اَنْ تَنْفُذُوْا مِنْ اَقْطَارِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ فَانْفُذُوْاۗ لَا تَنْفُذُوْنَ اِلَّا بِسُلْطٰنٍۚ

Hai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan. (QS. ar-Rahman: 33)

Maka pada hari itu tipu daya orang zalim akan sia-sia, makar dan siasat mereka sudah lenyap, dan menjadi patuh dan tunduk di hadapan siksaan Allah, dan jelaslah kedustaan mereka.”

Faedah ayat:

  • Mulut-mulut orang kafir akan bungkam di hadapan neraka.

Ini merupakan hasil dari adzab batin yang menimpa para pendusta ketika sudah didekatkan kepada mereka neraka Jahannam. Dalam kondisi seperti ini mereka sudah tidak dapat lagi berkata sedikit pun, karena ketakutan dan kecemasan sudah melanda batin mereka. Dan ini menunjukkan bahwa siksaan neraka mencakup siksaan secara hissi dan maknawi; mereka disiksa tubuh sekaligus batinnya. (QS. an-Naml: 85)

  • Tidak ada udzur lagi pada hari kiamat.

Alasan apa pun yang dijadikan oleh para pendusta sebagai pembela mereka di hadapan Allah agar dimaafkan sudah tidak berguna lagi. Itu karena bukti-bukti sudah ditegakkan kepada mereka di dunia, dengan diutusnya para Rasul dan diturunkan kitab-kitab. (QS. an-Nisa’: 165)

Sehingga ketika para pendusta meminta udzur, sudah tidak diterima lagi. Bahkan ketika neraka sudah di depan mata, mereka akan pasrah, tertunduk lesu, sampai-sampai tidak dapat berbicara dan mencari udzur lagi. Mereka sendiri terdiam tidak meminta udzur, dan Allah tidak memberi izin. Sangat lengkap keburukan orang yang zalim di akhirat nanti. (QS. Ghafir [al-Mu’min]: 52)

  • Hari kiamat memiliki posisi yang bermacam-macam.

Hari kiamat adalah hari yang panjang, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas a\.[4] Manusia akan berdiri selama empat puluh tahun untuk menanti keadilan dari Allah ﷻ. Dan pada hari kiamat ada tempat-tempat, waktu serta situasi yang bermacam-macam. Mereka dapat berbicara pada tempat dan situasi tertentu namun tidak boleh pada situasi yang lain. Mereka meminta udzur pada tempat dan situasi yang ini, namun tidak boleh pada tempat yang lain. Mereka dapat berbantah-bantahan di hadapan Allah pada situasi tertentu dan tunduk pasrah pada situasi yang lain. Manusia pada saat tersebut akan melalui berbagai macam situasi dan tempat.

Dari sini diketahui jawaban mengenai anggapan adanya pertentangan dengan ayat yang lain, karena dalam ayat lain Allah menjelaskan, bahwa manusia dapat berbicara dan meminta udzur, sebagaimana dalam ayat berikut:

قَالُوْا رَبَّنَا غَلَبَتْ عَلَيْنَا شِقْوَتُنَا وَكُنَّا قَوْمًا ضَاۤلِّيْنَ, رَبَّنَآ اَخْرِجْنَا مِنْهَا فَاِنْ عُدْنَا فَاِنَّا ظٰلِمُوْنَ, قَالَ اخْسَـُٔوْا فِيْهَا وَلَا تُكَلِّمُوْنِ

Mereka berkata: “Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan adalah kami orang-orang yang sesat. Ya Rabb kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.” Allah berfirman: “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan-Ku.” (QS. al-Mu’minun: 106-108)

  • Semua makhluk di hari kiamat berkumpul dan menunggu keputusan.

Padang mahsyar sangat luas, cukup untuk memuat semua makhluk hidup. Ketika semua manusia dari awal sampai akhir dibangkitkan akan dikumpulkan oleh Allah di tanah yang satu. Bahkan binatang pun dari segala jenis akan dikumpulkan di tempat yang sama. Semua menunggu keputusan yang sama. Allah tidak akan pernah melupakan semua makhluk ciptaan-Nya, baik dari manusia, jin dan hewan. Namun binatang berbeda dengan manusia dan jin. Setelah binatang mendapatkan keadilan, sebagaimana binatang yang tidak bertanduk akan membalas binatang bertanduk yang telah menanduknya di dunia, Allah akan melebur mereka menjadi tanah. Adapun manusia akan melanjutkan ke tempat tujuan akhir yang abadi menuju surga atau neraka. (QS. al-An’am: 38)

  • Tidak ada tipu daya yang dapat mengalahkan muslihat Allah ﷻ.

Sekuat apa pun tipu daya untuk melawan agama dan kebenaran, pasti akan lenyap. Musuh-musuh Islam akan hancur di tangan tentara Allah di dunia, lebih-lebih di akhirat nanti. Mereka akan masuk neraka dan tidak ada bagi mereka penolong sedikit pun. (QS. ath-Thariq: 15-17)

  • Hati-hati sebelum terjatuh ke jurang, para pendusta.

Abdullah bin Muhammad al-Balwi mengisahkan, “Dahulu saya dan Umar bin Nabtah duduk-duduk membincangkan para ahli ibadah dan zuhud, maka Umar berkata padaku, ‘Tidak ada orang yang paling wara’ dan fasih dari Muhammad bin Idris asy-Syafi’i. Pada saat itu saya keluar bersama beliau (asy-Syafi’i) dan al-Harits bin Labid menuju ke Shafa. Dan al-Harits merupakan murid dari Shalih al-Mirri. Lalu dia memulai membaca (dan memiliki suara yang bagus) surat al-Mursalat ayat 35 hingga 36. Lalu saya melihat asy-Syafi’i sudah berubah warnanya, menggigil kulitnya, dan gemetar kuat sampai jatuh pingsan. Ketika sudah sadar, beliau berkata, ‘Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari tempat para pendusta dan berpalingnya orang-orang yang lalai. Ya Allah, untuk-Mu Engkau tundukkan hati-hati orang yang arif dan Engkau rendahkan untuk-Mu hamba-hamba yang rindu. Rabbi, berikan untukku kemurahan-Mu, selimuti aku dengan lindungan-Mu dan maafkan perihal kekuranganku dengan kemuliaan wajah-Mu.’”[5]


[1][1] Tafsir Ibnu Katsir 8/300.

[2] Tafsir ath-Thabari 24/143-144.

[3] Tafsir as-Sa’di hal. 905.

[4] Fathul Bari 8/686.

[5] Ihya’ Ulum ad-Din 1/25.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *