Tak Kuasa Menanggung Gosip Tetangga

Tak Kuasa Menanggung Gosip Tetangga
Oleh: Ust. Aunur Rofiq bin Ghufron Lc.

Soal:

Assalamu’alaikum. Ustadz, apa yang sebaiknya kita lakukan dalam menyikapi tetangga yang selalu menggosipi kita? Syukran. (Aleshaa, Makassar, +62 852-9880-1XXX)

Jawab:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Hidup ini memang dipenuhi ujian. Terkadang kita dipuji, tak jarang pula kita dicela. Orang yang tidak berilmu biasanya akan mudah dikuasai oleh hawa nafsu, karena hawa nafsu menyenangi perbuatan keji, hawa nafsu, suka mencaci, mencela, membahas aib seseorang bahkan mengada-ada. Allah ﷻ berfirman:

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Yusuf: 53)

Orang yang suka menggosip sebenarnya telah dikuasai oleh setan, tetapi dia tidak sadar. Allah w\ berfirman:

Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. (QS. al-Baqarah: 168-169)

Tetapi orang yang kuat imannya tidaklah dia bersedih hati ketika dicela dan dicaci. Ia harus sadar bahwa celaan itu hanya pekerjaan orang yang bodoh, seperti halnya Rasulullah ﷺ diolok-olok oleh orang kafir, dituduh gila, tukang sihir dan tukang tenung, namun orang yang baik tauhid dan akhlaknya, akan senantiasa tegar dan tetap menjadi orang baik, sekalipun difitnah.

Jika tetangga kita tidak baik, selalu menggosip dan cuek kepada kita, hendaknya kita bersabar, karena musibah akan menghapus dosa. Hendaklah kita menolak olokan mereka dengan kata-kata yang baik, misalnya dengan kata-kata, “Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua.” Banyak dalil yang menjelaskan kita harus menolak kejahatan dengan kebaikan. Firman Allah :

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (QS. Hud: 114)

Abu Dzar a\ berkata, Rasulullah ﷺ berkata kepadaku,

اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا

“Takutlah kamu kepada Allah ﷻdi mana saja kau berada, dan ikutilah kejahatan itu dengan kebaikan maka akan menghapusnya.” (HR. at-Tirmidzi: 1910, al-Jami’us Shahih no. 97)

            Jika yang digosip adalah orang yang baik, insya Allah tidak akan turun derajatnya, karena Allah ﷻyang menjaganya. Di samping kita menolaknya dengan kata-kata yang lembut, maka maafkan mereka karena mereka itu adalah orang yang bodoh, sebagaimana Rasulullah ﷺ dahulu juga memaafkan orang yang tidak beradab kepada beliau serta kasar perilakunya. Bahkan tak hanya memaafkan, belaiu pun memberi hadiah kepada pelakunya. Perhatikan hadits dibawah ini:

  عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رضى الله عنه قَالَ كُنْتُ أَمْشِى مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَعَلَيْهِ بُرْدٌ نَجْرَانِىٌّ غَلِيظُ الْحَاشِيَةِ ، فَأَدْرَكَهُ أَعْرَابِىٌّ فَجَذَبَهُ جَذْبَةً شَدِيدَةً ، حَتَّى نَظَرْتُ إِلَى صَفْحَةِ عَاتِقِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَدْ أَثَّرَتْ بِهِ حَاشِيَةُ الرِّدَاءِ مِنْ شِدَّةِ جَذْبَتِهِ ، ثُمَّ قَالَ مُرْ لِى مِنْ مَالِ اللهِ الَّذِى عِنْدَكَ . فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ ، فَضَحِكَ ثُمَّ أَمَرَ لَهُ بِعَطَاءٍ

Dari Anas bin Malik a\, dia berkata, “Aku sedang berjalan bersama Rasulullah ﷺ, beliau saat itu mengenakan atasan tebal yang berasal dari daerah Najran. Tiba-tiba seorang Arab badui manarik kain itu dengan kuat, sehingga aku melihat bekasnya pada leher beliau akibat tarikan yang amat keras tersebut. Orang itu berkata, ‘Wahai Muhammad, berikanlah harta Allah yang ada padamu.’ Beliau menengok sambil tersenyum, kemudian memerintahkan untuk memberikan sedekah kepadanya.” (HR. al-Bukhari no. 3149, Muslim 3/103)

            Betapa mulia akhlak beliau!! Sudahkah penanya yang dizalimi oleh tetangganya atau kita semua berlaku semisal beliau ﷺ? Nabi disakiti dengan ditarik bajunya, lalu dipanggil bukan dengan gelarnya, dan dimintai harta, walaupun demikian beliau bersabar dan memberi pemberian!! Allahu Akbar.., kapan kita bisa berakhlak seperti beliau? Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada kita semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *