Tak Usah Iri, Bila Hanya Istidraj

Tak Usah Iri, Bila Hanya Istidraj

Kebahagiaan dalam ukuran kita sebagai umumnya manusia, ialah dengan memperoleh segala yang diinginkan; rezeki melimpah, jabatan mentereng, tempat tinggal mewah, istri shalihah, dan segala fasilitas dari Allah ﷻ lainnya.Hukum seperti ini sudah terjadi semenjak dahulu kala.

Namun, banyak yang masih belum mengerti dan sadar, bahwa tak selamanya pemberian nikmat dan fasilitas oleh Allah ﷻ kepada hamba didasari atas dasar kasih dan cinta.Bahkan, bisa jadi Allah berikan jebakan demi jebakan serupa ‘kenikmatan’ sehingga manusia yang thalih semakin lupa pada Allah yang telah menciptakannya. Pada akhirnya, Allah akan datangkan sebuah adzab dengan tiba-tiba. Saat itulah, orang-orang yang hanya melihat masalah dari ‘kulit’ nya sadar, bahwa pemberian dari Allah yang seperti itu bukanlah nikmat, akan tetapi hanya sebuah istidraj yang membinasakan dan menghancurkan. Na’udzubillahi min dzalik..!!

Lantas, mengapakah kita harus iri hati, atau minimalnya ingin juga memiliki seperti apa yang dipunyai oleh mereka, bila itu sekadar istidraj? Sayangnya, tak banyak yang bisa mengenali istidraj.Karena bentuk istidraj hanya diketahui oleh mereka-mereka yang memiliki ilmu dan takwa kepada Allah ﷻ Lihatlah, kisah pada zaman dahulu yang menimpa Qarunpada zaman Nabi Musa berikut ini:

Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” Berkatalah orang-orang yang di anugerahi ilmu, “Kecelakaan yang besarlah bagimu! Pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan tidaklah diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabra.” Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya kedalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya dari adzab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Qarunitu, berkata: “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa saja yang Dia kehendaki dari para hamba-Nya dan menyempitkannya. Kaluasaja Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita, benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah).” (QS. al-Qashash: 79-82)

Maka, semoga Allah ﷻ melindungi kita semua dari gelapnya mata dan hati sehingga tidak bisa menerima cahaya ilmu yang dapat kita gunakan untuk membedakan antara bentuk-bentuk nikmat dan rupa-rupa istidraj. Wallahua’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *