Tragedi Ashhabul Ukhdud

Tragedi Ashhabul Ukhdud

Tafsir surat al-Buruj [85]: 4-9

Oleh: Ust. Muhammad Aunus Shofy

قُتِلَ أَصْحَابُ الأخْدُودِ (٤) النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ (٥)إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ (٦) وَهُمْ عَلَى مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ (٧)وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (٨) الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahaterpuji, Yang memiliki kerajaan langit dan bumi; dan Allah Mahamenyaksikan segala sesuatu.

            Tragedi demi tragedi dialami oleh kaum muslimin saat ini. Pahit memang bila dirasa. Sebuah perjalanan sejarah yang mungkin akan menjadi sebuah elegi di masa mendatang. Seakan telah menjadi sunnatullah (keniscayaan) bahwa pembela kebenaran pasti akan mendapat ujian di setiap zaman. Tidak ada yang mendasari berbagai peristiwa memilukan tersebut kecuali karena keimanan kaum mukminin kepada Allah dan keistiqamahan mereka menjalankan syariat.

            Dalam hadits yang panjang riwayat Muslim (8/229-231), Rasulullah ﷺ mengisahkan sebuah tragedi yang menimpa kaum mukminin. Mereka hidup di sebuah negeri yang dipimpin oleh seorang raja yang kafir lagi lalim. Mereka dibakar dalam panasnya api dalam sebuah parit raksasa. Bukan karena apa-apa, namun hanya karena keimanan mereka kepada Allah ﷻ semata. Hanya karena mengakui bahwa Allah sebagai Rabb yang wajib diibadahi, bukan selain-Nya. Merekalah Ashhabul Ukhdud yang juga disebut oleh Allah dalam al-Qur’an surat al-Burūj. Keimanan mereka laksana karang yang tak goyah walau gelombang ujian menerjang. Semoga dengan membaca tafsir ini kita dapat terinspirasi dalam memantapkan keimanan kita yang terkadang layu.

Tafsir ayat:

            Para ulama berselisih tentang kisah ini, sebagian ada yang mengatakan mereka adalah orang Persia. Ketika raja mereka hendak membolehkan pernikahan sesama mahram sehingga para ulama pada saat itu enggan menyetujuinya akhirnya dimasukkan ke dalam parit. Ada juga yang mengatakan itu adalah Dzu Nawas, raja Najran sedang yang disiksa adalah orang-orang Nasrani dari kalangan Najran.[1]

قُتِلَ أَصْحَابُ الأخْدُودِ (٤) النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ (٥)إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ

Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya,

            Al-Qurthubi menafsirkan: “Yaitu dilaknat. Ibnu Abbas mengatakan: ‘Segala sesuatu di dalam al-Qur’an ada lafazh (ﭛ) dibunuh maknanya adalah (لَعَنَ) terlaknat.’”[2]

Syaikh as-Sa’di menjelaskan: “Ini sebuah doa atas mereka dengan kehancuran. Sedang al-Ukhdud adalah lubang yang dibuat di tanah. Ashhabul ukhdud, mereka sekelompok kaum kafir yang di sekitar mereka ada orang-orang yang beriman. Mereka selalu mengajak dan merayu kaum mukmin agar masuk ke dalam agama mereka. Orang-orang mukmin saat itu enggan untuk murtad. Lalu orang-orang kafir membuat parit dan menyalakan api di dalamnya, kemudian mereka menguji orang-orang mukmin serta memperlihatkan api di depannya. Siapa yang memenuhi permintaannya akan dibebaskan, dan siapa yang masih beriman akan dimasukkan ke dalam api. Inilah puncak perlawanan kepada Allah dan kepada orang-orang mukmin, sehingga pantas bagi Allah melaknat serta menghancurkan mereka.”[3]

وَهُمْ عَلَى مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ

Sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman.

            Imam ath-Thabrani menafsirkan: “Mereka dan apa yang dilakukan oleh para prajurit ketika melemparkan orang mukmin ke dalam parit berapi. Mereka saksikan peristiwa tersebut. Mereka hadir dan menyaksikan langsung.”[4]

            Syaikh as-Sa’di menjelaskan: “Ini termasuk keangkuhan dan kekerasan hati yang paling besar, karena mereka menggabungkan antara mengufuri tanda-tanda kebesaran Allah dan melakukan perlawanan, serta memerangi pengikutnya dan menyiksa mereka dengan siksaan yang mampu membuat hati terbelah. Dan kehadiran mereka tatkala melemparkan kaum mukmin ke dalam parit, saat itu tidaklah mereka menyiksa seorang mukmin kecuali ada hal yang membuat terpuji orang mukmin yang dengannya mereka bahagia. Yaitu bahwa mereka beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahaterpuji, yaitu yang mempunyai kemuliaan yang mampu mengalahkan segala sesuatu.”[5]

وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji,

            Ibnu Katsir menjelaskan: “Tidaklah orang mukmin itu memiliki kesalahan di mata mereka (orang-orang kafir) kecuali karena keimanan mereka kepada Allah Yang Mahaperkasa yang tidak terkurangi oleh orang yang berlindung di sisi-Nya…. Meskipun samar perkara tersebut pada kebanyakan manusia.”[6]

الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.

            Syaikh as-Sa’di menafsirkan: “Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, sebagai ciptaan-Nya dan makhluk-Nya. Allah berkuasa atas mereka sebagaimana berkuasanya raja atas kekuasaannya. Dan Allah Mahamenyaksikan segala sesuatu, dengan ilmu-Nya, pendengaran-Nya dan penglihatan-Nya. Apakah orang yang durhaka kepada Allah tidak punya rasa takut atas siksaan Yang Mahaperkasa lagi kuat? Atau mereka tidak mengetahui bahwa mereka adalah milik Allah, tidak ada seorang pun yang memiliki kekuasaan atas yang lain tanpa izin dari pemiliknya? Atau mereka samar bahwa Allah meliputi perbuatan mereka dengan memberikan balasan dari yang dikerjakan? Sekali-kali tidak! Sesungguhnya orang kafir dalam keadaan tertipu, zalim, bodoh dan buta dari jalan yang lurus.”[7]

Faedah ayat:

1- Gambaran kekejian kaum kafir.

            Keberanian dan kelancangan orang kafir yang membabi buta dalam melakukan keburukan terhadap kaum yang beriman sampai melampaui batas. Pembunuhan dan pembakaran, sehingga hati mereka sunyi dari rasa kasih dan rahmat. Oleh karena itu mana simbol-simbol mereka yang mengatasnamakan kemerdekaan, kebebasan, demokrasi dan memuliakan hak asasi manusia? Maka selayaknya kaum muslimin tidak tertipu oleh hal itu.

2- Gambaran kesabaran orang mukmin.

            Sungguh sangat ajaib akhlak orang yang beriman. Jika mereka mendapatkan ujian, mereka bersabar, bahkan mempersembahkan ruh-ruh mereka sebagai tebusan atas agama. Sebab tidak ada kehidupan dan kemuliaan melainkan dengan menjunjung tinggi agama Allah, dengan melihat pahala yang sangat mulia bagi orang yang bersabar.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَالَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَأُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang bersabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. al-Baqarah: 155-157)

Rasulullah bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh sangat ajaib perkara orang mukmin. Segala perkaranya adalah baik, dan hal itu tidak terjadi kecuali pada orang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan ia bersyukur, dan itu lebih baik untuknya, jika tertimpa kesusahan ia bersabar, dan itu lebih baik baginya.” (HR. Muslim: 7692)

3- Kuatnya keimanan orang generasi dahulu.

            Ini sebagai pelajaran bagi umat sekarang. Musibah yang menimpa orang mukmin dahulu tidaklah membuat iman mereka melemah, melainkan malah bertambah kuat. Dan agar mereka mengetahui bahwa jalan menuju surga tidaklah terbentang begitu mudah tanpa halangan, tetapi itu jalan yang sulit dan dikelilingi dengan hal-hal yang dibenci oleh hawa nafsu. Allah ﷻ berfirman:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوْا۟ مِن قَبْلِكُم مَّسَّتْهُمُ ٱلْبَأْسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلْزِلُوا۟ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصْرُ ٱللَّهِ أَلَآ إِنَّ نَصْرَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncang (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. al-Baqarah: 214)

4- Kerasnya hati orang kafir.

            Kisah Ashhabul Ukhdud menunjukkan kakunya hati orang kafir dan tidak adanya rasa kasih sedikit pun. Mereka lemparkan orang mukmin ke dalam parit berapi sedangkan mereka menikmati tontonan itu.

5- Permusuhan orang kafir terletak pada agama.

            Orang-orang kafir memerangi dan membenci kaum muslimin karena terletak pada ketidakridhaan mereka pada Islam, bukan yang lain. Itu terbukti dan tergambar secara jelas pada ayat kedelapan dari surat ini. Sehingga tidaklah benar bila permusuhan ini disebabkan karena masalah kebangsaan atau selain agama.

Wallahu A’lam.


[1] Tafsir Ibnu Katsir 8/366, Jami’ul Bayan 24/270-276, Sirah Ibnu Hisyam 1/34-37.

[2] Tafsir al-Qurthubi 9/276.

[3] Tafsir as-Sa’di 918.

[4] Tafsir al-Qur’anul Azhim li ath-Thabrani surat al-Buruj.

[5] Tafsir as-Sa’di 918.

[6] tafsir Ibnu Katsir 8/366.

[7] Tafsir as-Sa’di: 918.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *