Ummul Khair

Ummul Khair,  Da’i wanita yang hidup sederhana

Walau jahiliah, Abu Dzar merasa benci dan mengingkari peribadahan kaumnya dan bangsa Arab saat itu. Hati kecilnya berharap, kiranya ada sesuatu yang dapat mengubah keadaan itu. Hingga sampai ke telinganya berita kedatangan nabi yang muncul di Makkah. Dia berkata kepada saudara lelakinya yang bernama Anis, agar pergi menemui nabi baru tersebut dan mengabarkan sedikit tentangnya.

Setelah Anis kembali, ia sampaikan semua yang ia dengar kepada saudaranya. Mendengar semua penuturan Anis, Abu Dzar semakin penasaran dan ingin segera berangkat ke Makkah. Abu Dzar berkata kepada Anis, “Apakah engkau mau menjaga keluargaku agar aku bisa pergi untuk menemui beliau?” Anis menjawab, “Baiklah…, tetapi berhati-hatilah terhadap penduduk Makkah.”

Berkah dari Makkah

Pulanglah Abu Dzar ke kampungnya. Ia segera menemui Anis. Anis bertanya kepadanya, “Apa yang kau lakukan di sana?” “Aku telah masuk Islam”, jawabnya. Anis berkata, “Aku juga telah masuk Islam.” Lalu mereka mendatangi sang ibu dan mengajaknya masuk Islam. Ibu mereka pun setuju.

Abu Dzar lalu menemui istrinya, Ummul Khair. Sang istri menyambut kedatangannya dengan hangat, seraya berkata, “Berbahagialah engkau, wahai Abu Dzar. Engkau telah bertemu dan berbicara dengan beliau ﷺ” Ummu Khair pun mengucapkan syahadat.

Mulai saat itu keluarga mukmin tersebut mengajak kaumnya masuk Islam dengan semangat. Sehingga banyak suku Ghifar yang masuk Islam melalui tangan mereka. Bahkan shalat berjamaah telah didirikan di kampung itu!

 Da’i wanita yang bersahaja

Selesai perang Khandaq, Ummul Khair dan Abu Dzar pindah ke Madinah agar lebih dekat kepada Rasulullah. Ummul Khair pun banyak menimba ilmu dari suaminya. Karena semua yang didapat oleh Abu Dzar dari Rasulullah, pasti akan disampaikan padanya. Ia pun mengamalkan apa yang ia pelajari dan menyampaikannya kepada anak-anak, keluarga serta sahabatnya.

Ummul Khair adalah wanita yang sederhana. Tak pernah ia mengeluh akan kekurangan duniawi, bahkan ia selalu merasa bahagia menjadi istri Abu Dzar. Baginya, semua yang ada pada suaminya adalah kekayaan yang tak terhingga.

Pernah seorang lelaki mengunjungi rumah Abu Dzar. Ia melihat setiap sudut ruang, tapi tak dijumpainya sebuah perabot pun di rumah itu. Ia lantas bertanya, “Wahai Abu Dzar, manakah perabot kalian?” Abu Dzar menjawab, “Rumah milik kami ada di sana (maksudnya, di akhirat), kami mengirimkan ke sana amalan-amalan baik kami.” Laki-laki itu pun paham apa yang dimaksud oleh tuan rumah itu, ia balik bertanya, “Akan tetapi engkau mesti memiliki perabot, selagi masih tinggal di sini (maksudnya dunia)…” Abu Dzar menimpali, “Akan tetapi, pemilik rumah tak membiarkan kami tinggal di dalamnya.”

Semoga Allah meridhai mereka berdua dan melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada kita semua. Amin ….

Untuk orang tua dan pendidik:

  1. Ajarkan kepada anak agar selalu mengingat bahwa kehidupan yang sebenarnya hanyalah di akhirat. Kita hidup di dunia hanya untuk mencari bekal sebanyak-banyak supaya dapat hidup bahagia di sana.
  2. Ajarkan kepada anak, bahwa untuk mendapatkan kebenaran dan kebahagiaan harus dilakukan dengan cara berkorban. Seberapapun pengorbanan yang kita lakukan demi kebenaran, niscaya itu akan berakhir indah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *