Waspadalah, Riya’ Terselubung Selalu Mengintai Kita

Waspadalah, Riya’ Terselubung Selalu Mengintai Kita 

Oleh: Abu Usamah al-Kadiri

Secara fitrahnya, manusia pastilah senang jika dirinya dipuji. Saat pujian datang -apalagi dari seseorang yang istimewa dalam pandangannya- tentulah hati akan bahagia. Berbunga-bunga, bangga, senang. Itu manusiawi. Namun hati-hatilah, jangan sampai riya’ menghiasi amal ibadah kita karena dalam setiap amal ibadah yang kita lakukan selalu dituntut keikhlasan.

Niat yang ikhlas amatlah diperlukan dalam setiap ibadah karena ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya sebuah amal di sisi Allah. Sebuah niat dapat mengubah amalan kecil menjadi bernilai besar di sisi Allah ﷻ dan sebaliknya, niat pun mampu mengubah amalan besar menjadi tidak bernilai sama sekali.

Di sisi lain, setan selalu memperbarui cara untuk menggelincirkan manusia agar terseret menuju neraka. Di antara cara menyesatkan manusia yang selalu diperbarui oleh setan adalah dengan memasang jebakan-jebakan riya’ yang sangat halus, sehingga sering tidak disadari oleh kebanyakan dari kita.

Iblis selalu berusaha menjerumuskan anak manusia di dalam jebakan riya

Riya’ menjadi salah satu pintu favorit Iblis untuk menjebak manusia. Hal ini tidak akan terjadi, kecuali karena faktor pendukung yang kuat. Yaitu karena setiap manusia memiliki kecenderungan ingin mendapatkan pujian, kepemimpinan dan kedudukan tinggi di hadapan orang lain. Juga karena riya’ tidak akan terlihat atau diketahui kecuali oleh pelakunya sendiri dan  Allah ﷻ. Perhatikan hadits Rasulullah ﷺ berikut:

 « إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ. قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لأَنْ يُقَالَ جَرِىءٌ. فَقَدْ قِيلَ.ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ فِى النَّارِ وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ. قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ .وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ فِى النَّارِ. وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ. فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِىَ فِى النَّارِ ».

Sesungguhnya yang pertama kali diputuskan perkaranya pada hari kiamat adalah seorang yang meninggal sebagai syahid, lalu dibawa ke hadapan Allah ﷻ dan diperlihatkan nikmat-nikmat dari-Nya, lalu ia mengakuinya. Maka ia ditanya, ‘Lantas, apa yang telah engkau perbuat dengannya?’ Ia menjawab, ‘Aku berjihad di jalanmu sehingga terbunuh sebagai syahid.’ Allah berkata, ‘Kau dusta! Dirimu berjuang karena ingin dikatakan sebagai orang pemberani, sedangkan kau telah mendapatkannya.’ Kemudian diperintahkanlah dirinya agar dilemparkan ke dalam neraka.

Yang setelahnya adalah seorang mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta mendalami  al-Qur’an dan mendapatkannya. Lalu Allah memperlihatkan nikmat-nikmat dari-Nya dan ia pun mengakuinya. Maka ia ditanya, ‘Apa yang kau perbuat dengannya?’ Ia menjawab, ‘Aku belajar, mengajar ilmu dan mempelajari al-Qur’an karena Engkau.’ Allah berkata, ‘Kau berdusta! Akan tetapi engkau belajar ilmu supaya dikatakan sebagai seorang yang pandai, dan engkau belajar al-Qur’an agar disebut qari’, dan itu sudah kau dapatkan.’ Kemudian diperintahkanlah dirinya agar dilemparkan ke dalam neraka.

Dan seorang lagi yang telah Allah luaskan harta baginya. Ia pun dihadapkan kepada Allah ﷻ dan diperlihatkan nikmat-nikmat dari-Nya. Ia pun mengakuinya. Allah berkata padanya, ‘Apa yang telah engkau perbuat dengannya.’ Ia berkata, ‘Aku tidak meninggalkan satu jalan pun yang Engkau cintai untuk dinafkahi kecuali aku akan inffakkan hartaku di dalamnya karena-Mu.’ Allah mengatakan, ‘Kau dusta! Akan tetapi engkau tidak melakukan hal itu kecuali hanya supaya bisa dikatakan sebagai seorang dermawan.’ Kemudian diperintahkanlah dirinya agar dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim: 5032)

Padahal kita hanya diperintah untuk beribadah kepada Allah ﷻ semata dan mengharap wajah-Nya. Allah ﷻ berfirman:

وَمَا تَفَرَّقَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَتْهُمُ الْبَيِّنَةُ ۗ

Padahal mereka tidak diperintah kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. Al-Bayyinah: 5)

Fenomena riya’ yang terselubung[1]

Setan tidak berhenti berusaha menjadikan amalan anak Adam tidak bernilai di sisi Allah ﷻ. Di antara cara jitu setan adalah menjerumuskan anak Adam dalam berbagai model riya’. Sehingga didapati sebagian orang yang ‘kreatif’ dalam melakukan riya’, yaitu riya’ yang sangat halus dan terselubung. Di antara contoh kreatif riya’ tersebut adalah:

Pertama: Seseorang menceritakan keburukan orang lain, seperti pelitnya orang lain, atau malas shalat malamnya, tidak rajin menuntut ilmu, dengan maksud agar para pendengar paham bahwa ia tidaklah demikian. Namun ia adalah seorang yang dermawan, rajin shalat malam dan rajin menuntut ilmu. Secara tidak langsung ia ingin supaya para pendengar mengetahui akan amal ibadahnya.

Macam yang pertama ini adalah model riya’ terselubung yang paling buruk, di mana ia telah terjerumus dalam dua dosa; yaitu mengghibah saudaranya sekaligus riya’. Dan keduanya merupakan dosa besar. Selain itu ia telah menjadikan saudaranya yang ia ghibah menjadi korban demi memamerkan amalan shalihnya.

Kedua: Seseorang menceritakan nikmat dan banyaknya karunia yang telah Allah ﷻ berikan kepadanya, akan tetapi dengan maksud agar para pendengar paham bahwa ia adalah seorang yang shalih. Karena hal itulah maka ia juga berhak untuk dimuliakan oleh Allah ﷻ dengan memberikan banyak karunia kepadanya.

Ketiga: Memuji gurunya dengan pujian setinggi langit agar ia juga terkena imbas pujian tersebut, karena ia adalah murid sang guru yang ia puji setinggi langit tersebut. Pada hakikatnya ia sedang berusaha untuk memuji dirinya sendiri, bahkan terkadang ia memuji secara langsung tanpa ia sadari. Seperti ia mengatakan, “Syaikh Fulan atau Ustadz Fulan memang luar biasa ilmunya.. Sangat tinggi ilmunya, mengalahkan syaikh-syaikh atau ustadz-ustadz yang lain. Alhamdulillah, saya telah menimba ilmunya tersebut selama sekian tahun.”

Keempat: Merendahkan diri tetapi dalam rangka untuk riya’, agar dipuji bahwa ia adalah seorang yang low profile alias rendah hati. Inilah yang disebut dengan “merendahkan diri demi meninggikan mutu”.

Kelima: Menyatakan kegembiraan akan keberhasilan dakwah, seperti banyaknya orang yang menghadiri pengajian, atau banyaknya orang yang mendapatkan hidayah dan sadar, akan tetapi dengan niat untuk menunjukkan bahwa keberhasilan tersebut karena kepintaran dirinya dalam berdakwah.

Keenam: Ia menyebutkan bahwa orang-orang yang menyelisihinya telah mendapatkan musibah. Ia ingin menjelaskan kepada orang-orang bahwa ia adalah seorang wali Allah yang tidak layak diganggu. Sebab, barangsiapa yang mengganggunya pasti akan disiksa atau diadzab oleh Allah ﷻ. Ini adalah bentuk tazkiyah (merekomendasi) diri sendiri dengan cara yang terselubung.

Ketujuh: Ia menunjukkan dan memamerkan kedekatannya terhadap para da’i atau para ustadz, seakan-akan bahwa dengan dekatnya dia dengan para ustadz itu menunjukkan ia adalah orang yang shalih dan disenangi para ahli ilmu. Padahal kemuliaan di sisi Allah ﷻ bukan diukur dari dekatnya seseorang terhadap ustadz atau syaikh, akan tetapi dari ketakwaannya. Ternyata kedekatan terhadap ustadz juga bisa menjadi ajang pamer dan persaingan.

Kedelapan: Seseorang yang berpoligami lalu ia memamerkan poligaminya tersebut. Jika ia berkenalan dengan orang lain, serta merta ia akan sebutkan bahwa istrinya ada 2 atau 3 atau 4. Ia berdalih ingin menyiarkan sunnah, akan tetapi ternyata dalam hatinya ingin pamer dan riya’. Poligami merupakan ibadah, maka memamerkan ibadah juga termasuk dalam riya’.

Inilah sebagian bentuk riya’ yang terselubung, semoga Allah ﷻ melindungi kita dari terjerumus dalam bentuk-bentuk riya’ terselubung tersebut. Tidak perlu kita menuduh orang terjerumus dalam riya’ dan meninggikan diri sendiri. Akan tetapi tujuan dari tulisan ini adalah agar kita sadar dan mau mengoreksi diri sendiri sebelum mengoreksi orang lain.

Hanya kepada Allah ﷻ tempat meminta hidayah dan taufik.


[1] Subjudul ini dirangkum sepenuhnya dari: https://www.firanda.com/index.php/artikel/penyakit-hati/379-riya-terselubung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *