Zainab binti al-Harits

Karena sekadar niatan baik itu belumlah cukup 

Oleh: Usth. Gustini Ramadhani

Khaibar adalah suatu daerah subur yang dikelilingi sumber mata air dan benteng-benteng. Sebagai pemukiman kaum Yahudi, jaraknya dari Madinah sekitar 168 km. Di sanalah kaum Yahudi sampai nantinya diusir oleh Umar bin Khaththab a\. Di sana pula mereka menyusun makar untuk melampiaskan dendamnya terhadap Rasulullah ﷺ, Islam, dan kaum muslimin.

Perang Khaibar adalah perang yang sangat menguras tenaga dan pikiran Rasulullah ﷺ, karena kaum Yahudi sangat terkenal licik. Namun dari perang itu pula kaum muslimin memperoleh kemenangan dan ghanimah (rampasan perang) yang banyak. Seperti firman Allah q\ di dalam al-Qur’an (artinya):

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Mahabijaksana. (QS. al-Fath: 18-19)

Banyak kejadian bersejarah terjadi ketika itu, di antaranya kedatangan Ja’far bin Abi Thalib a\ dari Habasyah bersama kaum muslimin yang pernah berhijrah ke sana. Kedatangan Ja’far ini disambut dengan luar biasa gembira oleh Rasulullah ﷺ. Ketika Nabi bertemu dengan Ja’far, baginda mencium dahi Ja’far seraya berkata, “Demi Allah, sesungguhnya aku tidak tahu mana yang lebih menggembirakan aku, apakah kemenangan di Khaibar ataukah kedatangan Ja’far?”

Dan satu lagi kisah yang dapat dicatat oleh sejarah pada perang Khaibar adalah kisah domba beracun yang diberikan seorang wanita Yahudi yang bernama Zainab binti al-Harits, istri Salam bin Misykam, salah seorang pemimpin Yahudi di Khaibar. Ia memendam kebencian mendalam terhadap kaum muslimin, terutama Nabi Muhammad ﷺ.

Itu terjadi karena ayah dan suaminya tewas dalam perang Khaibar yang dimenangkan oleh pasukan Islam. Dia menyaksikan sendiri saat-saat suami dan ayahnya tewas dalam peperangan. Dia pun mengatur siasat untuk membalas dendam.

Saat keadaan sedang tenang, Rasulullah ﷺ diberi hidangan domba panggang beracun oleh Zainab binti al-Harits. Sebelumnya Zainab bertanya, bagian tubuh domba manakah yang paling disukai oleh Rasulullah?

Ada yang mengatakan kepadanya bahwa Rasulullah paling menyukai bagian paha. Maka dia menyusupkan racun lebih banyak di bagian ini, lalu menaburkan ke seluruh bagian domba itu, kemudian membawanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Setelah hidangan itu dihadirkan di hadapan Nabi ﷺ, beliau mengambilnya dan mengunyahnya satu kunyahan, namun beliau tidak menelannya, bahkan daging itu dimuntahkan. Kemudian Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Tulang ini mengabarkan kepadaku bahwa dagingnya beracun.”

Rasulullah memerintahkan supaya para sahabat memanggil Zainab, dan dia pun mengaku bahwa ia sendiri yang telah menyusupkan racun itu ke dalam daging domba. Nabi ﷺ bertanya, “Apa yang mendorongmu untuk melakukan hal itu?”

Zainab menjawab, “Engkau telah bertindak terhadap kaumku seperti engkau ketahui. Oleh karena itu aku pernah berkata, ‘Jika Muhammad seorang raja, aku puas dengan kematiannya. Jika dia seorang Nabi, tentu akan ada yang memberitahu kepadanya.’”

Sementara itu beliau ditemani Bisyr bin al-Ma’rur saat memakan hidangan daging itu. Bisyr mengambil dagingnya, menguyah dan menelannya, sehingga ia meninggal.

Sebagian riwayat mengatakan bahwa Zainab dihukum, sebagian lagi mengatakan ia dimaafkan. Namun Zainab akhirnya memeluk agama Islam dan bersedia dihukum qishash karena menjadi penyebab kematian Bisyr.

Itulah yang terjadi pada Zainab binti al-Harits. Maksud untuk mencari kebenaran dengan cara yang salah sehingga mengakibatkan madharat yang sangat besar. Kita manusia sering sekali melakukan hal yang membahayakan untuk mendapatkan suatu tujuan tanpa memikirkan sebab dan akibat, sehingga ketika sudah terjadi barulah kita menyesal dan menangisi perbuatan kita. Terlebih akibat yang dihasilkan dari perbuatan itu dapat mencelakakan orang yang paling kita cintai. Sedangkan dalam kisah ini yang menjadi korban adalah manusia yang paling kita cintai dari diri kita sendiri, yaitu Rasulullah…!! Na’udzu billahi min dzalik.

Namun apa pun itu, Zainab masih dapat menebus kesalahannya dengan meminta maaf dan menyerahkan dirinya utnuk diqishash sebagai penghapus dosanya. Semoga Allah mengampuninya dan menghapuskan dosa-dosanya.

Sejak peristiwa di Khaibar, tidak ada lagi riwayat tentang efek racun tersebut pada tubuh Rasulullah ﷺ. Bahkan hingga beliau sakit beberapa hari sebelum wafat. Namun sehari sebelum Allah memanggilnya, kepada Aisyah s\ Nabi ﷺ menceritakan rasa sakit yang hebat sebagai dampak dari racun tersebut. “Wahai Aisyah, aku masih merasakan sakit karena makanan yang telah kukunyah ketika di Khaibar. Sekarang saatnya aku merasakan terputusnya urat nadiku karena racun tersebut,” kata Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam seperti diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari.

Efek racun yang masih terasa sampai akhir hayat Rasulullah, itu membuktikan bahwa beliau adalah seorang Nabi dari kalangan manusia biasa, bukan tercipta dari Malaikat yang memang dipilih oleh Allah dan juga merasakan sakit seperti manusia pada umumnya. Beliau tidak kebal dan juga pernah terluka dalam peperangan.


Referensi:

  • Mausu’ah Hayatish Shahabiyyat
  • As-Sirah an-Nabawiyyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *