Agar Aktivitas Dunia Menjadi Ibadah

Oleh: Ust. Abu Yusuf Ahmad Sabiq Lc.

عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِى وَقَّاصٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – قَال:
إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا ، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِى فِى امْرَأَتِكَ

Dari Sa’d bin Abi Waqqash, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Sesungguhnya tidaklah engkau menginfakkan hartamu untuk mencari wajah Allah, kecuali engkau akan diberi pahala. Sampaipun apa yang engkau berikan untuk makan istrimu.” (HR. al-Bukhari, Muslim)

 

Pada tahun 10 Hijriah, saat Haji Wada’, sahabat Sa’d bin Abi Waqqash Radhiallahu ‘anhu sakit parah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam pun membesuknya. Sa’ad berkata, “Wahai Rasulullah, saya sekarang sakit parah, padahal saya orang kaya dan tidak ada yang akan mewarisi hartaku, kecuali seorang putriku. Bolehkah saya bersedekah dengan 2/3 hartaku?” Beliau menjawab, “Jangan.” Sa’d bertanya, “Kalau setengahnya, bagaimana?” Beliau menjawab, “Jangan.” Sa’d kembali bertanya, “Jika sepertiga?” Maka Rasulullah menjawab, “Kalau sepertiga boleh, namun sepertiga itu sudah banyak. Sungguh, seandainya meninggalkan keturunanmu dalam kondisi kaya, itu lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam kondisi miskin yang meminta-minta pada orang lain.” Beliau pun bersabda, “Dan sesungguhnya tidaklah engkau menginfakkan hartamu untuk mencari wajah Allah kecuali engkau akan diberi pahala. Sampaipun apa yang engkau berikan untuk makan istrimu.” (HR. al-Bukhari, Muslim)

 

Mahasuci Allah yang menjadikan nafkah keluarga termasuk bagian infak yang diharapkan dengannya wajah Allah. Oleh karenanya Islam memerintah umatnya untuk bekerja dan melarang menjadi pengangguran serta menggantungkan diri pada orang lain. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda,

 

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ ، وَإِنَّ نَبِىَّ اللهِ دَاوُدَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

 

“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada dia makan dari pekerjaan tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Dawud ‘Alaihissalam makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. al-Bukhari)

 

Beliau Shallallahu ‘alaihi was salam juga bersabda :

لأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا ، فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ

 

“Jika salah seorang diantara kalian membawa kayu bakar pada punggungnya, itu lebih baik daripada meminta-minta pada manusia. Sama saja apakah orang memberinya atau menolaknya.” (HR. al-Bukhari)

 

Suatu ketika Umar melihat seorang pemuda yang berada di masjid saat waktu dhuha, maka beliau bertanya kepadanya. Lalu dia menjawab, “Saya sedang berdoa kepada Allah, semoga Allah memberiku rezeki, maka Umar Radhiallahu ‘anhu  berkata, “Keluarlah dan carilah rezeki, karena langit tidak akan pernah menurunkan hujan emas dan perak!”

Rasulullah juga sangat tegas melarang meminta-minta, kecuali dalam kondisi terpaksa. Qabishah bin Mukhariq al-Hilali berkata,

تَحَمَّلْتُ حَمَالَةً فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- أَسْأَلُهُ فِيهَا فَقَالَ « أَقِمْ حَتَّى تَأْتِيَنَا الصَّدَقَةُ فَنَأْمُرَ لَكَ بِهَا ». قَالَ ثُمَّ قَالَ « يَا قَبِيصَةُ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لاَ تَحِلُّ إِلاَّ لأَحَدِ ثَلاَثَةٍ رَجُلٍ تَحَمَّلَ حَمَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَهَا ثُمَّ يُمْسِكُ وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ – وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُومَ ثَلاَثَةٌ مِنْ ذَوِى الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ لَقَدْ أَصَابَتْ فُلاَنًا فَاقَةٌ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ – فَمَا سِوَاهُنَّ مِنَ الْمَسْأَلَةِ يَا قَبِيصَةُ سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا ».

 

“Saya menanggung sebuah beban tanggungan, maka saya datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam menanyakan hal itu, maka beliau bersabda, ‘Berdirilah sampai datang kepada kami sedekah, lalu kami akan perintahkan untuk memberimu.’ Kemudian beliau bersabda, ‘Wahai Qabishah, sesungguhnya meminta-minta tidak halal bagi seseorang melainkan dalam 3 perkara. (1) Seseorang yang menanggung tanggungan, maka halal bagi dia untuk meminta-minta sampai dia mendapatkannya, lalu berhenti, (2) dan seseorang yang terkena musibah yang menghabiskan hartanya, maka boleh meminta-minta sampai dia mendapatkan sesuatu untuk menyangga hidupnya, (3) dan seseorang yang sangat miskin dengan diakui oleh 3 orang ahli ilmu dari kaumnya, bawa si fulan ini dalam kondisi sangat miskin, maka boleh baginya minta-minta sampai dia mendapatkan apa yang bisa menyangga hidupnya. Adapun selain itu, wahai Qabishah, maka adalah harta haram yang dimakan secara haram oleh pelakunya.” (HR. Muslim)

 

Dan orang yang minta-minta padahal tidak terpaksa, apalagi kalau hanya bertujuan untuk memperkaya diri, maka ancamannya sangat berat di sisi Allah.

 

Saudaraku, segala perbuatan hamba bisa bernilai ibadah, sampaipun berkumpulnya seorang lelaki dengan istrinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam menjelaskannya saat mengobati kegusaran para sahabat yang tidak mempunyai kecukupan harta untuk disedekahkan. Abu Dzar Radhiallahu ‘anhu  mengadu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam,

 

يَا رَسُولَ اللهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالأُجُورِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّى وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ. قَالَ « أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ وَفِى بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ أَيَأْتِى أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ « أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ ».

 

“Ya Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa, namun mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” Rasulullah bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan sesuatu yang kalian bisa bersedekah dengannya? Sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, amar ma’ruf nahi mungkar adalah sedekah, bahkan kumpulnya salah satu kalian dengan istrinya adalah sedekah.” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, apakah salah satu dari kami melampiaskan syahwatnya bisa mendapatkan pahala?” Maka Rasulullah bersabda, “Apa pendapat kalian jika dia melampiaskannya dalam perkara yang haram, bukankah dia akan mendapatkan dosa? Begitu pula jika dia melampiaskannya dalam perkara yang halal, maka dia akan mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)

 

Kata para ulama, “Orang yang beruntung adalah orang yang menjadikan rutinitas hariannya bernilai ibadah, dan orang yang sengsara adalah yang menjadikan ibadahnya hanya sebagai rutinitas belaka.”

 

Bagaimanakah caranya?

Lalu bagaimana caranya? Perhatikan dua resep berikut:

Pertama: Niatkan semua aktivitas kita untuk ibadah dan kebaikan. Niat inilah yang akan menjadikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa. Niatkan keluar Anda dari rumah menuju tempat kerja untuk menjalankan perintah Allah dalam mencari nafkah dan untuk bekal dalam beribadah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda:

 

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

 

“Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang itu tergantung terhadap apa yang dia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu untuk Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia maka dia akan mendapatkannya, atau hijrahnya untuk seorang wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu tergantung pada apa yang dia hijrah untuknya.” (HR. al-Bukhari: 1, Muslim: 1907)

 

Kedua: Tegakkan syariat Allah dan Rasul-Nya dalam rutinitas kehidupan kita. Perhatikan aturan halal dan haram, adab, serta lainnya. Hubungkan semua aktivitas kita dengan ajaran Islam yang mulia. Baik dalam hidup berumah tangga, pendidikan anak, kurikulum pendidikan, hidup bermasyarakat, serta lainnya.

Jadikan semua aktivitas dari bangun tidur sampai tidur lagi sesuai dengan aturan Allah, niscaya semuanya akan bernilai ibadah. Saat bangun tidur, segera ingat apa yang Allah dan Rasul-Nya syariatkan. Begitu pula saat masuk keluar kamar mandi, saat ganti baju, saat keluar dan masuk rumah, saat makan dan minum, dan yang lainnya. Alangkah indahnya hidup yang setiap detiknya bernilai ibadah.

Inilah salah satu rahasia kenapa para penuntut ilmu agama dimudahkan oleh Allah masuk surga, sebagaimana dalam sabda Rasulullah, “Barangsiapa yang menempuh jalan guna menuntut ilmu (agama), niscaya Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.”

Karena dengan ilmu, seorang hamba mengetahui apa yang seharusnya dia kerjakan dan tinggalkan dalam setiap aktivitas kehidupannya. Wallahul muwaffiq.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *