Agar Terhindar dari Kekufuran dan Kefakiran

Oleh: Abu Ilyas Zaenal Musthofa

 

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Engkau.” (HR. Abu Dawud no. 5090, dihasankan oleh Syaikh Ibnu Baz dalam Tuhfatul Akhyar hal. 26)

Faedah:[1]

  1. Isti’adzah atau meminta perlindungan (dalam hal yang tidak ada seorang pun mampu untuk melindunginya selain Allah) merupakan jenis ibadah yang harus ditujukan kepada Allah. Orang yang meminta perlindungan kepada selain Allah bisa terjerumus pada kesyirikan, karena ia telah menggantungkan harapannya kepadanya, bersandar kepadanya serta mengagungkan sesuatu yang ia mintai perlindungan tersebut. Namun jika ia meminta perlindungan kepada selain Allah dalam hal yang dia mampu maka hal ini diperbolehkan, semisal orang yang meminta perlindungan pada orang lain dari serangan binatang buas dan sebagainya.
  2. Kufur merupakan dosa besar yang harus kita jauhi. Para ulama membagi kufur menjadi 2 bagian, kufur ashghar (kecil) dan kufur akbar (besar). Kufur ashghar adalah setiap maksiat yang disebut kufur oleh syariat namun tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari Islam. Misalnya; kufur nikmat, membunuh seorang muslim, mencela nasab, meratapi mayit, menasabkan seseorang bukan pada bapaknya dan sebagainya. Adapun kufur akbar adalah setiap keyakinan, perkataan, perbuatan atau meninggalkan suatu perbuatan yang bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam. Misalnya; mengingkari salah satu dari rukun Islam atau rukun iman, mendustakan apa yang dikabarkan oleh Allah dan Rasul-Nya, dan sebagainya.
  3. Fakir terbagi menjadi 2, fakir harta dan fakir hati. Di antara keduanya yang paling berbahaya adalah fakir hati, dan itulah kefakiran yang hakiki. Hatinya tidak pernah puas dengan nikmat yang ada. Seberapa pun banyaknya nikmat yang diberikan hatinya selalu kurang. Kefakiran yang seperti inilah yang dikhawatirkan bisa menjerumuskan seseorang ke dalam kekufuran.
  4. Di antara hal-hal yang bisa menyelamatkan dari kefakiran hati:
  5. Meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah.
  6. Melatih diri untuk bersifat qana’ah dan ridha terhadap rezeki yang ada.
  7. Banyak-banyak bersyukur.
  8. Berdoa kepada Allah.
  9. Adanya nikmat dan adzab kubur merupakan salah satu keyakinan Ahlussunnah yang berdasarkan al-Qur’an maupun hadits yang mutawatir, maka barangsiapa yang mengingkarinya maka ia termasuk kelompok yang tersesat.
  10. Di antara hal-hal yang menyebabkan adzab kubur adalah:
  11. Menyia-nyiakan perintah Allah.
  12. Melanggar larangan-Nya.
  13. Mengadu domba antar sesama.
  14. Tidak menjaga diri dari kencingnya.
  15. Shalat dengan tidak bersuci terlebih dahulu.
  16. Hendaknya seorang muslim tidak melupakan doa di atas ketika pagi dan sore hari (dibaca sebanyak 3 kali). Allahu a’lam.

[1] Tahdzib Tashil al-‘Aqidah al-Islamiyyah karya Abdullah bin Abdul Aziz al-Jibrin, Asbabu Adzabi al-Qabri wa Kaifiyatu an-Najati Minhu karya Ibnu al-Qayyim, Mengungkap Rahasia Kekayaan dan Kemiskinan karya Hafidz al-Musthofa dan lainya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *