Al-Miqdad bin Amru Radhiallahu ‘anhu

Penunggang kuda yang mahir

Oleh: Ust. Abdur-Rahman al-Buthoni

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki pahala yang terus mengalir buat para sahabat, sekalipun mereka telah lama di alam barzakh lewat kaum yang menghina mereka. Demikian pula Allah menghendaki pahala dan kebaikan bagi Ahlussunnah yang cinta dan wala’ kepada para sahabat dengan membela kehormatan mereka, membantah dan membongkar kesesatan Rafidhah (penolak) yang pada asalnya menolak kekhalifahan Abu Bakar dan Umar, lalu menolak keislaman para sahabat hingga akhirnya menolak al-Qur’an dan Islam serta memiliki keyakinan kufur dan beramal dengan yang bertentangan dengan Islam.

Al-Miqdad termasuk sahabat yang dikecualikan oleh kaum Syi’ah dari kemurtadan. Syi’ah menganggap bahwa Miqdad tetap di atas Islam dan tidak murtad bersama umumnya sahabat, akan tetapi pengecualian ini bukan kebaikan bagi Syi’ah. Sebab, seandainya ada yang berkata, “Semua sahabat malas berdakwah setelah Rasulullah wafat, kecuali beberapa orang.” Tentu ucapan ini merupakan sebuah kejelekan. Lalu bagaimana dengan keyakinan bahwa semua sahabat murtad setelah Rasulullah wafat, kecuali beberapa orang?!

Pengecualian Syi’ah buat al-Miqdad dan sahabat lainnya yang tidak melebihi bilangan jari tangan, justru penghinaan baginya. Sebab beliau pasti tidak ridha jika semua sahabatnya, bahkan banyak sahabat yang terbaik darinya dihukumi sesat. Tak ada orang yang ridha dirinya dipuji sementara sahabatnya yang lebih baik darinya dihina, kecuali hanya kaum Syi’ah yang ridha memuji dirinya dengan mengaku muslim lalu mencaci orang-orang terbaik dalam Islam. Mengaku Islam tetapi ridha menghina al-Qur’an sebagai sumber Islam.

Sungguh aneh bin ajaib kelakuan Syi’ah yang mengaku Islam sementara dalam waktu yang sama mereka juga menghina Islam. Adapun Syi’ah keadaan mereka mengatakan, “Aku muslim, tetapi Islam musuhku. Aku orang Islam, tetapi memusuhi al-Qur’an. Aku muslim, tetapi aku ridha dan berbahagia jika diriku dihukumi musuh Islam dan murtad.”

Syi’ah ridha jika tokoh mereka, Abdullah bin Saba’ dan Khumaini, disesatkan, sebab mereka mengaku Islam tetapi memusuhi Islam. Padahal pengikut Fir’aun dan Abu Jahal tidak ridha jika Fir’aun maupun Abu Jahal disesatkan. Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu dan ahli bait tidak ridha jika sahabat mereka, bahkan lebih baik dari mereka, disesatkan. Tetapi sangat mengherankan tatkala ajaran Syi’ah disandarkan kepada ahli bait, padahal tak ada satu pun dari ahli bait yang memusuhi Abu Bakar dan Umar atau menyesatkan para sahabat.

Anggapan Syi’ah, bahwa hanya sekelompok kecil dari sahabat yang tetap Islam hanya untuk menutupi kejelekan mereka. Sebab jika seluruh sahabat dikafirkan tanpa kecuali maka kebatilan mereka akan ditolak oleh banyak orang. Itu karena kebatilan murni pasti tidak akan bisa diterima. Lain halnya jika kebatilan dicampur dengan sedikit kebaikan, maka banyak yang mau menerimanya. Bukankah dukun jujur sekali dan 99 kali berdusta, tetapi banyak yang percaya dan tertipu dengannya?!

 

KEUTAMAAN AL-MIQDAD

Beliau merupakan Ahli Badar dan ikut serta pada seluruh peperangan. Pada peperangan Badar, al-Miqdad bertindak sebagai penunggang kuda.

Dalam perjalanan perang Fathu Makkah, Rasulullah memerintahkan Zubair, Ali, dan al-Miqdad untuk mengambil surat dari seorang wanita yang berisi pemberitahuan kepada penduduk Makkah tentang kedatangan pasukan Rasulullah. Maka ketiganya pun berhasil mengambil surat tersebut, kemudian diserahkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam.

Yang meriwayatkan hadits dari al-Miqdad adalah Ali, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas dan lainnya. Beliau juga merupakan sosok yang sangat berwibawa.

Miqdad berkata, “Rasulullah pernah mengangkatku untuk suatu jabatan. Tatkala aku kembali beliau bertanya kepadaku, ‘Bagaimana engkau dapati jabatan atau kepemimpinan, wahai Miqdad?’ Jawabku, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak menyangka kecuali semua manusia tunduk padaku. Demi Allah, aku tidak mau lagi menjabat suatu kepemimpinan.’

Alangkah pahamnya para sahabat terhadap amanah dan tanggung jawabnya. Alangkah takutnya mereka terhadap sesuatu yang dibebankan oleh Allah kepada hamba-Nya. Alangkah terus terangnya mereka terhadap sesuatu yang membahayakan diri mereka. Alangkah ikhlasnya mereka dalam amal dan alangkah takutnya mereka jika tidak menunaikan amanah. Alangkah zuhudnya mereka terhadap dunia dan alangkah wara’nya mereka terhadap sesuatu yang berbahaya serta memadharatkan dunia dan akhirat.

Ini keadaan mereka tatkala diangkat sebagai pejabat oleh Rasulullah, lalu bagaimana seandainya mereka yang meminta jabatan atau ingin mencoba dan merasakan beban jabatan dan kepemimpinan? Barangkali mereka akan menangis dalam waktu yang lama, menyesal tiada henti dan taubat berulang kali.

Bandingkan dengan keadaan zaman sekarang, di mana jabatan diharap, dicari, diminta dan diperebutkan. Manusia zaman sekarang memperebutkannya dengan pengorbanan atau dengan tebusan harta yang banyak, bahkan dengan cara zalim dan haram, bahkan dengan menjual akidah, yaitu melalui bantuan dukun ataupun para normal serta wala’ terhadap orang kafir. Tak jarang pula mereka akan marah atau sangat stres ketika tidak berhasil mendapatkannya.

Namun begitu mereka mendapatkannya, maka tanda syukurnya hanyalah berpesta riang gembira, penuh tawa ataupun menari. Dan tatkala amanah dijalankan, sejatinya ia hanyalah kezaliman, karena dengan mengabaikan maslahat dunia dan agama. Amanah jabatan yang dia cari dengan seluruh jiwa raga dan hartanya hanya untuk menebus utangnya, sementara janji yang dia beberkan pada saat kampanye hanya sebagai wasilah untuk memperkaya diri, keluarga dan kelompoknya lewat jabatan tersebut. Subhanallah, dari manakah para pejabat tersebut mengambil teladan?!

Tidakkah mereka mengambil keteladanan dari kepemimpinan Rasulullah, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Mu’awiyah, Umar bin Abdul Aziz dan yang semisal mereka?!

Semoga Allah melindungi kita dan seluruh kaum muslimin dari kejelekan. Semoga kami dan para da’i kepada Allah tidak dituduh ambisi jabatan dengan pengingkaran ini, dan semoga tidak ada yang berkata, “Anda berkata demikian, sebab Anda bukan seorang pejabat dan belum diangkat menjadi pejabat!” Dan semoga tidak ada yang menyangka bahwa penulis dengan pengingkarannya ini menunjukkan bahwa dia cinta dan tamak jabatan atau iri kepada para pejabat dalam dunia mereka.

Ada seseorang yang berkata kepada al-Miqdad, “Sungguh beruntung kedua mata orang ini yang melihat Rasulullah, sesungguhnya kami pun berbahagia jika seandainya melihat Rasulullah.” Maka al-Miqdad berkata kepadanya, “Kenapa seseorang menyangka sesuatu yang dia tidak tahu, jika dia berada padanya, apa yang dia perbuat? Demi Allah, sungguh banyak orang yang menyaksikan Rasulullah, namun Allah menelungkupkan mereka dalam Jahannam, karena tidak beriman dan tidak mempercayainya. Kenapa kalian tidak bersyukur kepada Allah, kalian hanya mengenal Rabbmu lalu kalian membenarkan apa yang dibawa oleh Nabi-Nya? Dan sungguh kalian telah tercukupi dengan musibah yang menimpa orang lain.”

Sungguh, luar biasa nasihat ini bagi yang memahaminya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *