Ilmu Bagaikan Air Hujan

Oleh: Ust. Abu Faiz Shalahuddin.

 

Dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda:

مَثَلُ مَا بَعَثَنِى اللهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا ، فَكَانَتْ مِنْهَا طَائِفَةٌ طَيِّبَةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ ، فَأَنْبَتَتِ الْكَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ ، وَكَانَ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ ، فَنَفَعَ اللهُ بِهَا النَّاسَ ، فَشَرِبُوا مِنْهَا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا ، وَأَصَابَ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى ، إِنَّمَا هِىَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً ، وَلاَ تُنْبِتُ كَلأً ، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِى دِينِ اللهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِى اللهُ بِهِ ، فَعَلِمَ وَعَلَّمَ ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا ، وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللهِ الَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ

Permisalan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya adalah bagai ghaits (hujan yang bermanfaat) yang menyentuh tanah. Maka ada tanah yang baik, yang bisa menyerap air sehingga menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Di antaranya juga ada tanah yang ajadib (tanah yang bisa menampung air, namun tak bisa menyerap ke dalam), maka dengan genangan air tersebut Allah memberi manfaat untuk banyak orang, sehingga manusia dapat mengambil air minum dari tanah ini. Lalu manusia dapat memberi minum untuk hewan ternaknya, dan manusia dapat mengairi tanah pertaniannya. Jenis tanah ketiga adalah tanah qi’an (tanah yang tak bisa menampung dan tak bisa menyerap air). Inilah permisalan orang yang memahami agama Allah, kadar manfaat baginya ajaran yang Allah mengutusku untuk membawanya. Dia mengetahui ajaran Allah dan dia mengajarkan kepada orang lain. Dan demikianlah orang yang tidak mengangkat kepalanya terhadap wahyu, dia tidak mau menerima petunjuk yang Allah mengutusku dengannya.” (HR. al-Bukhari 1/160 dan Muslim: 2282)

 

Di musim penghujan, hampir setiap hari turun hujan, cuaca menjadi dingin, tanah menjadi lembab dan basah, tak berselang lama, rerumputan hijau akan mulai bermunculan di sana-sini menjadikan bumi ini indah dan hijau. Meski demikian ada juga di sebagian daerah, meski turun hujan, namun rerumputan hijau pun seakan enggan muncul ke permukaan.

Namun tidak hanya begitu pandangan seorang muslim, mereka tidak hanya melihat zhahirnya. Tidak tahukan kita, bahwa air hujan yang turun dari langit lalu diterima oleh bumi itu bagaikan wahyu Allah yang diturunkan kepada manusia? Maka gambaran keadaan bumi yang menerima air hujan, sama persis dengan keadaan manusia saat menerima wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa ilmu yang disampaikan kepada mereka.

Ilmu bagai air hujan

Ilmu berupa wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala, digambarkan oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi was salam bagaikan ghaits (air hujan), karena keduanya memiliki kesamaan dalam hal menumbuhkan dan menghidupkan sesuatu yang asalnya mati. Sebagaimana hujan akan menghidupkan kembali bumi yang kering dan menumbuhkan pepohonan, demikian juga ilmu dan wahyu Ilahi, dapat menghidupkan hati-hati manusia yang gersang, menumbuhkan dan menghidupkan kembali keimanan dalam diri seseorang.

Tanpa ilmu, hati seseorang menjadi gersang, keimanan pun semakin menipis, bila tidak segera disiram dengan wahyu Allah, bisa jadi ia akan mati dan punah. Inilah hakikat yang banyak dilalaikan oleh manusia. Mereka sibuk untuk memenuhi kebutuhan fisik mereka, bahkan akan gelisah dan panik bila kebutuhan fisik mereka tidak terpenuhi, namun mereka tidak pernah merasa gundah tatkala kebutuhan batin tidak tercukupi. Mereka tidak pernah peduli keimanan mereka yang semakin menipis atau akhlak yang semakin rusak dan bobrok, karena yang diprioritaskan hanya kesejahteraan jasad, bukan kesejahteraan hati.

 

Hati butuhkan makan

Sebuah tanaman akan tumbuh baik dan sehat bila selalu disiram dan dijaga dengan baik. Demikian juga dengan keimanan seseorang, hendaklah selalu disirami dengan wahyu Allah berupa ilmu dari al-Qur’an dan hadits Nabi. Jika makanan fisik kita tidak pernah kurang, makanan batin pun harus dicukupkan. Bila tidak, maka yang terjadi adalah ketimpangan, mereka hanya sehat jasad tapi sakit batin; hanya sehat badan, tapi bejat moral dan akhlak.

Bukan berarti kita tidak perlu menjaga kesehatan fisik dan badan kita, sehingga menjadi seorang yang uring-uringan, loyo dan tidak punya semangat, tidak demikian. Tetapi hanya menjaga fisik tanpa menjaga batin, itu yang keliru.

Kalau demi menjaga kesehatan, anak-anak kita harus diberi imunisasi agar kebal terhadap penyakit atau menjaga dari virus jahat yang bisa berbahaya bagi tubuh, maka sudahkah kita mengimunisasikan akidah anak-anak kita supaya tetap terjaga, tidak terkotori oleh virus kesyrikan, takhayul dan khurafat?!

Kalau kita rela meluangkan waktu di tengah-tengah kesibukan kita untuk olah raga agar badan kita tetap bugar dan sehat, tetapi sudahkah kita meluangkan waktu kita untuk “olah batin” kita, dengan mendatangi majelis-majelis taklim, dengan menadaburi al-Qur’an, memahami dan mengilmuinya untuk kita amalkan..??!!

 

Manusia seperti tanah

Dalam hadits di atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam menjelaskan bahwa ada 3 jenis tanah, tatkala air hujan turun membasahi bumi.

Pertama, tanah thayyibah. Tanah ini memiliki sifat-sifat tanah yang subur, yang bisa menyerap air hujan dengan baik, sehingga bisa menumbuhkan rerumputan dan tanaman yang bisa dimanfaatkan oleh manusia dan binatang ternak. Dan inilah jenis tanah yang terbaik.

Kedua, tanah ajadib. Sebuah tanah yang tak mampu menyerap air, tapi bisa menampung air hujan, sehingga air yang tergenang itu dapat dimanfaatkan oleh hamba Allah untuk diminum atau dialirkan untuk mengairi tanaman mereka. Sehingga manusia masih bisa mengambil manfaat dari jenis tanah ini.

Ketiga, tanah qi’an. Sebuah jenis tanah yang tidak bisa menumbuhkan tanaman karena tandus dan tidak bisa menampung air di atasnya, namun air hujan itu hanya berlalu saja melewati tanah itu, tanpa mampu memanfaatkannya atau menampungnya.

Maka demikian pula keadaan manusia dalam menyikapi wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ada orang-orang yang tatkala ilmu dan wahyu Allah disampaikan, mereka menerima dengan baik, memahaminya, mengamalkan dan mengajarkan kepada manusia yang lain, sehingga orang lain dapat mengambil manfaat darinya. Merekalah orang-orang terbaik yang pahala mereka akan selalu mengalir karena merekalah yang menunjukkan kebenaran dan mengajarkannya. Merekalah para ulama pewaris para Nabi yang menggabungkan antara ilmu dan dakwah.

Golongan kedua adalah manusia yang mereka menerima ilmu dan petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan baik. Mereka pun dapat memahaminya dan mengamalkannya, namun tidak memiliki fiqh (pemahaman) yang dalam, sehingga mereka kurang mampu memahamkan manusia. Merekalah para penghafal al-Qur’an dan hadits, namun bukan ahli fikih. Setidaknya manusia masih bisa mengambil manfaat dari hafalan mereka, meski mereka tidak dapat menjelaskan lebih dalam, karena terkadang orang yang diajarkan lebih memahami daripada orang yang mengajarkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam pernah bersabda:

نَضَّرَ اللهُ امْرَءاً سَمِعَ مِنَّا شَيْئاً فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَهُ , فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ

“Semoga Allah memperbagus keadaan seseorang, yang dia mendengar sesuatu dariku lalu dia menyampaikannya seperti apa yang dia dengar. Dan terkadang orang yang disampaikannya itu lebih dalam pemahamannya dari pada orang yang mendengar langsung.” (HR. at-Tirmidzi: 2659)

Golongan ketiga adalah manusia yang tidak dapat mengambil manfaat dan kebaikan dari wahyu Allah. Mereka mendengar tapi tidak dapat memahami Kalamullah, mereka melihat tapi tidak terdorong untuk melakukannya, merekalah manusia terburuk yang tidak dapat mengambil manfaat apalagi mengajarkan kepada manusia.

 

Jadilah manusia terbaik

Manusia terbaik adalah mereka yang bisa mengambil manfaat dari wahyu Allah, mencari ilmu, mengamalkan dan mendakwahkan kepada orang lain, sehingga dia memberi manfaat kepada dirinya dan orang lain. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam pernah mengatakan:

خيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Sebaik-baik manusia adalah yang paling memberikan manfaat bagi orang lain.” (Al-Jami’ ash-Shaghir, no. 11608)

Dan sebaik-baik manfaat yang diberikan kepada orang lain adalah manfaat untuk kebaikan seseorang di akhiratnya kelak. Karena itulah kehidupan yang kekal, dan kebahagiaan yang sesungguhnya, dengan cara berdakwah dan mengajaknya kepada jalan kebenaran. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَالِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئاً

Siapa yang mengajak kepada petunjuk, maka ia mendapat pahala semisal dengan pahala orang mengikutinya dengan tapa mengurangi dari pahala mereka sedikit pun.” (HR. Muslim: 2674)

Semoga kita senantiasa diberikan rezeki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa istiqamah dalam menempuh jalan ilmu, mengamalkan dan mendakwahkannya, dan kita selalu memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ilmu yang bermanfaat, rezeki yang thayyib, serta amalan yang diterima. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *