Jadi Keluarga Da’i, Teladani Keluarga Nabi

Oleh: Abu Ammar al-Ghoyami

www.alghoyami.wordpress.com

Dakwah adalah tugas mulia yang diemban oleh para Nabi dan Rasul. Merekalah qudwah para penyeru manusia kepada Allah, dan yang paling mulia di antara mereka ialah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi was salam. Keluarga Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi was salam adalah qudwah keluarga da’i. Anggota keluarga beliau adalah para da’i. Dimulai dari beliau sendiri sebagai imam para da’i, imam para penyeru umat menuju kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu para istri beliau yang tak berhenti berdakwah seperti beliau Shallallahu ‘alaihi was salam. Juga putri-putri beliau yang dikenal meneladani jalan beliau Shallallahu ‘alaihi was salam.

Peran suami da’i

               Peran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam di medan dakwah tentu tidak samar lagi bagi kita. Beliau keluar menyeru umat diawali dari kerabat dekat dan seterusnya menuju seluruh kaumnya. Disebutkan di dalam sebuah riwayat dari Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘anhu berkata, “Suatu hari Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam naik bukit Shafa seraya menyeru, ‘Siaga pagi ini…!’ Sehingga kaum Quraisy berkumpul menuju beliau lalu bertanya, ‘Ada apa denganmu?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi was salam menjawab dengan berkata, ‘Bagaimana pendapat kalian jika aku kabarkan bahwa ada musuh akan menyerang kalian pagi-pagi begini atau pada sore hari, apakah kalian akan membenarkanku?’ Mereka menjawab, ‘Tentu.’ Nabi lalu berkata, ‘Sungguh, aku mengingatkan kalian agar waspada dari adzab (Allah) yang keras!’ Sehingga Abu Lahab berucap, ‘Celakalah kamu! Apakah untuk hal ini kamu mengumpulkan kami?!’ Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firman-Nya, ‘Celaka kedua tangan Abu Lahab, dan benar-benar celaka. (QS. al-Masad)” (HR. al-Bukhari: 4523)

Disebutkan pula di dalam beberapa riwayat, bahwa beliau keluar berdakwah ke pasar, ke kaum dan penduduk kampung, bahkan keluar daerah dan seterusnya. Hari-hari dan waktunya hampir habis untuk dakwah dan menyebarkan ilmu. Begitulah peran da’i penyeru umat menuju kalimat tauhid, la ilaha illallah.

Peran pendamping suami di medan dakwah

Bagaimana peran para pendamping suami, yaitu para istri di medan dakwah yang mulia ini? Aisyah Radhiallahu ‘anha, istri Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam bercerita, bahwa tatkala pertama kali diwahyukan kepada Nabi awal surat al-‘Alaq ayat pertama sampai kelima, yaitu saat beliau beribadah di gua Hira’, lantas beliau pulang ke rumah istri beliau, Khadijah Radhiallahu ‘anha dalam keadaan gemetar menggigil badan beliau sampai masuk ke rumah Khadijah seraya berkata, ‘Selimuti aku….! Selimuti aku…!’ Maka keluarga beliau pun menyelimuti Nabi hingga hilang rasa takutnya. Setelah itu beliau bertanya kepada Khadijah, ‘Wahai Khadijah, ada apa denganku?’ Setelah dikabarkan kejadiannya, beliau menimpalinya, ‘Sungguh, aku tadi khawatir atas diriku.’

Mendengar suaminya mengatakan demikian, Khadijah dengan penuh ketegaran sebagai seorang istri dari imam pada da’i menimpali, ‘Tidak akan (buruk keadaanmu). Bergembiralah. Demi Allah, niscaya Dia tidak akan menelantarkanmu selamanya. Sesungguhnya engkau adalah seorang yang menyambung silaturrahim, jujur dalam bicara, menanggung yang kekurangan, mengupayakan bagi yang tidak memiliki, menjamu dan memuliakan tamu, serta menolong siapa pun yang memperjuangkan kebenaran.’

Setelah itu Khadijah pergi beserta Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam ke saudara sepupunya, Waraqah bin Naufal, seorang ahli kitab dari kalangan Nasrani yang menyalin kitab Injil dengan bahasa Arab. Setelah dikabarkan oleh Nabi tentang peristiwa tersebut maka Waraqah bin Naufal mengatakan, ‘Yang datang kepadamu itu Malaikat Jibril yang pernah datang kepada Nabi Musa. Duhai, sekiranya saat itu aku masih bertubuh kuat sekuat batang kurma. Duhai, sekiranya aku masih hidup saat kaummu mengusirmu.’ Nabi bertanya, ‘Apakah mereka akan mengusirku?’ Waraqah menjawab, ‘Benar. Tidaklah seorang pun yang datang dengan membawa seperti apa yang kamu bawa, kecuali dia pasti akan dimusuhi. Seandainya aku mendapati hari pada saat kau dimusuhi itu, niscaya aku akan kerahkan kemampuanku untuk sungguh-sungguh menolongmu.’” (HR. al-Bukhari: 4670 dan Muslim: 422)

Perhatikan, bagaimana peran Khadijah sebagai istri seorang imam seluruh da’i. Peran dakwah yang sangat luar biasa telah dilakukan olehnya. Perhatikanlah ucapan Khadijah tatkala Nabi mendapatkan wahyu pertama kali dan beliau merasa takut serta gemetar karenanya. Sungguh, ini adalah sebuah perkataan yang tidak mungkin muncul melainkan dari seorang istri yang cerdas, jernih pikirannya, benar-banar paham dengan situasi dan kondisi suaminya. Sebuah kalimat yang hanya keluar dari lisan suci seorang wanita yang disucikan, sebuah siraman hati yang cemas dari Allah melalui ketulusan hati seorang istri yang shalihah.

Khadijah adalah sosok pendamping suami yang setia dalam suka dan duka. Khadijah adalah sosok istri yang sangat memahami siapa suaminya. Dia sangat tahu bagaimana memposisikan diri sebagai istri dan sebagai pendamping setia seorang imam para da’i yang menyeru manusia menuju kalimat tauhid. Khadijah tampil sebagai manusia pertama yang diseru, sekaligus menyambut seruan Rasulullah, Muhammad Shallallahu ‘alaihi was salam, suaminya.

Dia Radhiallahu ‘anha ikut ambil bagian dalam mendakwahkan Islam bersama-sama suaminya. Pedih yang suaminya rasakan, dia pun turut merasakan. Dia turut menghadapi ombak badai dan kerasnya permusuhan para penyembah berhala. Sampai Allah pun mennakdirkan keimanan Zaid bin Haritsah dan keempat putrinya melalui kegigihan beliau mendakwahkan Islam bersama suaminya.

Kita ingat Aisyah Radhiallahu ‘anha. Setelah berusia 9 tahun dia berpindah ke rumah suaminya, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi was salam. Di rumah yang sangat sederhana dan jauh dari kemewahan itu Aisyah mulai membuka lembar kehidupan barunya. Selain harus menjalani kehidupan rumah tangga, dia harus bisa meraup berkah dari ilmu yang diajarkan suami tercinta. Sehingga dia pun mendapat faedah ilmu yang sangat besar dari perjalanan berumah tangga dan berdakwah bersama Rasulullah, sampai dikatakan, seandainya terkumpul ilmu seluruh wanita, niscaya ilmu Aisyah masih lebih utama. Dialah wanita mulia yang menguasai berbagai cabang ilmu; al-Qur’an, Hadits, sejarah, hukum pidana, hukum waris, sastra, kedokteran dan lain-lain. Bahkan –Allahu Akbar– dialah yang kemudian hari menjadi tempat para sahabat menanyakan berbagai masalah yang mereka hadapi. Inilah bukti nyata kesuksesan Aisyah dalam berumah tangga dan berdakwah di sisi Rasulullah.

Di usia yang begitu muda, Aisyah mampu menjalankan tugasnya sebagai istri yang dapat menghadirkan ketenteraman dan kebahagiaan di hati suaminya. Istri yang memperhatikan hak suami dan menaati suami sebagai bentuk ketaatan kepada Rabbnya. Pada saat yang sama Aisyah menjadi seorang istri yang bersabar mendampingi suami dalam rumah tangga sebagai da’i, walau dalam kekurangan harta. Disebutkan dalam sebuah riwayat, hingga terkadang berlalu hari-hari panjang di rumah Rasulullah dan istrinya, Aisyah Radhiallahu ‘anha tanpa terlihat nyala api untuk memasak. Dan kedua suami istri ini menjalani harinya hanya dengan kurma dan air. Inilah kesabaran seorang istri da’i, yang sangat langka dan sulit kita jumpai pada para wanita masa sekarang.

Aisyah senantiasa menemani Rasulullah hingga detik terakhir kehidupan beliau pada tahun 11 H dalam usia 63 tahun. Aisyah saat itu baru berusia 18 tahun, ketika dia harus kehilangan kekasih tercintanya. Setelah Nabi wafat Aisyah tampil sebagai mu’allimah (pengajar) dan da’i wanita yang mengajarkan ilmu kepada para sahabat dan generasi sesudahnya. Sebagai da’i wanita, Aisyah juga senantiasa memberikan nasihat bagi kaum wanita untuk memperbaiki dan meluruskan mereka sampai menjelang wafatnya, pada tahun 57 H, pada usia 66 tahun.

Begitulah besar dan utamanya peran istri mendampingi suami berdakwah. Demikian juga peran istri dalam turut serta berdakwah. Betapa mulia keluarga da’i seperti keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam ini.

Menjadi da’i bukan tugas mereka semata

Tugas dakwah tak hanya diemban oleh para Nabi, Rasul serta keluarga mereka, tetapi menjadi da’i juga tugas kaum mereka, sesuai dengan tenaga dan ilmu yang dimiliki. Dan dakwah ini juga tidak hanya diwajibkan kepada para ulama, tetapi wajib juga atas semua umat, sesuai dengan kemampuan dan ilmu yang dimiliki. Karena setiap umat yang telah Allah beri karunia, berupa ilmu tentang Kitabullah dan Sunnah, wajib menyampaikannya kepada manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi (ilmu) kitab (yaitu), “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya.” (QS. Ali ‘Imran: 187)

Adapun para ulama, merekalah yang diwajibkan menyampaikan hal-hal terperinci dalam Islam, masalah-masalah yang rumit, dan masalah ijtihad. Karena merekalah yang memang berhak dengannya, sebab keilmuan mereka yang luas, dan dalamnya pemahaman mereka akan masalah agama.

Menjadi keluarga da’i

Sebagai umat Rasulullah, kita termasuk dalam seruan itu. Yaitu diseru untuk menjadi keluarga da’i. Tentunya menjadi keluarga da’i sesuai kemampuan tenaga juga ilmu yang dimiliki. Sungguh, betapa mulia dan baiknya rumah tangga da’i. Rumah tangga yang anggota keluarganya sebagai para da’i yang menyeru kaumnya untuk bersama-sama menunaikan kebaikan Islam. Allah memuji sebaik-baik kaum di antaranya ialah keluarga da’i yang mau ber-amar ma’ruf nahi mungkar. (QS. Ali ‘Imran: 110)

Memang tidak mudah beban menjadi keluarga da’i. Suami selain sebagai suami bagi istri, ayah bagi anak-anak, penanggung jawab nafkah lahir batin mereka, ia juga sebagai da’i dengan berbagai kesibukan dan tantangan dakwahnya. Istri juga selain sebagai istri bagi suaminya, ibu bagi anak-anaknya, sebagai ibu rumah tangga di keluarga, ia juga sebagai pendamping suaminya yang memberi dukungan dan turut serta dalam dakwah. Tentu manusia memiliki kemampuan yang berbeda. Namun setiap manusia tentu ingin mendapat kemuliaan berlebih yang memotivasi dirinya untuk sanggup berbuat baik dalam dakwah, meski sekecil apa pun upayanya. Wallahul Muwaffiq.

Maraji’:

  • Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Ibnu Katsir
  • Nisa’ Haula ar-Rosul, Mahmud Mahdi al-Istanbuli dan Musthofa Abu an-Nashr asy-Syalabi
  • Siyar A’lamin Nubala’, Imam adz-Dzahabi
  • Maktabah Syamilah,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *