Jadilah Muslim yang Bijaksana

Jadilah Muslim yang Bijaksana

 

Oleh: Abu Bakr

DEFINISI BIJAKSANA

Bijaksana (الْحِكْمَةُ) secara bahasa yaitu, menyesuaikan al-haq (kebenaran) dengan ilmu dan akal. (Al-Mufradat fi Gharibil Qur’an, al-Ashfahani, hal. 127)

Secara istilah, bijaksana adalah kebenaran dalam ucapan dan perbuatan serta menempatkan sesuatu pada tempatnya. (AlHikmah fi adDa’wah ila Allah, Syaikh al-Qahthani, hal. 34)

MACAM-MACAM SIFAT BIJAKSANA

Bijaksana ada dua macam:

  1. Bijaksana secara ‘ilmiyyah, yaitu mencermati rahasia dari sesuatu dan mengetahui hubungan antara sebab dan akibatnya.
  2. Bijaksana secara ‘amaliyyah, yaitu meletakkan sesuatu pada tempatnya. (Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim 2/478)

RUKUN- RUKUN BIJAKSANA

Seseorang belumlah bisa dikatakan bijaksana sampai terdapat dalam dirinya tiga hal:

  1. Berilmu (الْعِلْمُ). Seorang pendidik tidak akan dapat bijaksana tanpa ilmu, sedang ilmu tidak bermanfaat jika tidak diamalkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Tidak ada hasad kecuali terhadap dua orang; seseorang yang Allah berikan harta kemudian ia habiskan pada sesuatu yang al-haq dan seseorang yang diberikan al-hikmah yang dengannya ia memutuskan sesuatu dan ia pun mengajarkannya.” (HR. al-Bukhari: 73 dan Muslim: 816)
  2. Lapang dada (الْحِلْمُ). Lapang dada adalah dapat menahan diri dan tabiat jiwa dari hawa amarah. (Al-Mufradat, hal. 129) Langkah pertama dari orang yang lapang dada adalah belajar untuk menahan marah, sedangkan ini butuh usaha yang luar biasa. Jika sifat ini (menahan marah) sudah melekat pada dirinya dan menjadi tabiatnya, barulah dikatakan ia seorang yang lapang dada.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam pernah bersabda, “Bukanlah orang kuat itu yang kuat bertarung, tetapi orang kuat itu adalah yang bisa menahan dirinya tatkala marah.” (HR. al-Bukhari: 5763)

  1. Tenang dan berhati-hati (الأَنَاةُ). Berhati-hati yang dimaksud adalah perilaku bijaksana antara terburu-buru dan lamban. (Al-Akhlaq al-Islamiyyah, Abdurrahman al-Maidani 2/352) Kehati-hatian merupakan bagian dari sifat sabar karena tidak cepat menghukumi sesuatu sebelum mencari kejelasan terlebih dahulu. Berkata ‘Amru bin al-‘Ash Radhiallahu ‘anhu, “Senantiasa seseorang akan memetik buah dari ketergesa-gesaan, yaitu penyesalan.” (Tuhfatul Ahwadzi 6/153)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Penampilan  yang baik, kehati-hatian dan pertengahan (dalam semua urusan) merupakan satu bagian dari dua puluh empat  bagian kenabian.” (HR. at-Tirmidzi: 2010, Shahih Sunan atTirmidzi 2/195)

POTRET SIKAP BIJAKSANA NABI Shallallahu ‘alaihi was salam

  1. Bijaksana dalam melihat tipe orang yang dihadapi.
  2. Beliau mengkhususkan sebagian sahabat dengan berita rahasia, seperti rahasia nama-nama orang munafiq dan para pembuat fitnah hanya untuk Hudzaifah bin Yaman Radhiallahu ‘anhu, karena dia dapat menjaga rahasia. Juga kabar gembira dari beliau bagi Mu’adz Radhiallahu ‘anhu, bahwa siapa saja yang meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala maka ia akan masuk surga, dan Nabi melarang untuk memberitahukan yang lain. Beliau juga menugaskan orang-orang tertentu untuk tugas penting karena memang hanya mereka yang dapat melaksanakannya.
  3. Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam tidak memberitahukan beberapa perkara yang dikhawatirkan akan salah persepsi.
    • Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam sangat mengenal pribadi sahabat sehingga terkadang beliau tidak memberitahukan sesuatu yang bisa salah dipahami. Beliau pernah berkata kepada Aisyah Radhiallahu ‘anha, “Seandainya bukan karena Quraisy akan melampaui batas maka aku akan beritahukan tentang apa yang Allah telah siapkan untuk mereka.” (HR. Ahmad 6/158)
    • Ali Radhiallahu ‘anhu juga tidak mau memberitahukan tentang banyaknya keutamaan orang yang mati syahid melawan kaum Khawarij (teroris) karena khawatir para sahabat akan ujub (bangga diri). Karena itu, sebagian sahabat menyalahkan Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu karena memberitahukan hadits al-‘Uraniyyin kepada Hajjaj bin Yusuf, sehingga ia banyak menumpahkan darah para sahabat karena salah persepsi dengan hadits tersebut.
  4. Variasi jawaban Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam kepada para penanya, walaupun pertanyaannya sama. Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, “Ada seseorang yang datang kepada Nabi bertanya tentang mubasyarah (saling menyentuh/mencium istri) tatkala puasa, maka beliau membolehkannya. Kemudian datang orang lain bertanya dengan yang sama maka beliau melarangnya. Ternyata yang beliau bolehkan adalah orang tua dan yang beliau larang adalah pemuda.” (HR. Abu Dawud: 2387)
  5. Variasi wasiat Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam melihat siapa yang meminta.
    • Tatkala datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam seseorang yang meminta wasiat, beliau berkata, “Jangan marah!” Karena beliau mengetahui orang tersebut suka marah. (Fathul Bari 1/520)
    • Ada seorang Arab badui datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam meminta ditunjukkan amalan yang bisa membuatnya masuk surga, Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam menjawab, “Beribadahlan kepada Allah, jangan menyekutukan-Nya, dirikan shalat wajib, tunaikan zakat wajib dan puasalah Ramadhan.” Beliau hanya menyebutkan amalan-amalan fardhu tanpa menyuruhnya melakukan yang sunnah, karena orang tersebut baru masuk Islam dan Nabi tidak mau memberatkannya. (Fathul Bari 3/265)

Ibnul Qayyim mengatakan: “Di sini ada sesuatu yang harus dipahami, bahwa amalan tertentu  lebih afdhal bagi orang lain. Orang yang kaya, sedekah dan kedermawanannya lebih utama daripada shalat malam dan puasa sunnah. Orang yang pemberani dan kuat yang bisa menggentarkan musuh, diamnya dia di barisan depan lebih afdhal dari haji, puasa dan sedekah sunnah.

Orang alim yang mengetahui sunnah, halal dan haram, jalan kebaikan dan keburukan, hidupnya bersama masyarakat, mengajarkan dan menasihati mereka lebih baik daripada mengasingkan diri dan konsentrasi shalat, membaca al-Qur’an dan bertasbih. Waliyul amri (pemimpin)  yang telah dimanahi untuk mengadili antara hamba, duduknya sebentar meneliti kezaliman dan menolong orang yang terzalimi, menegakkan hudud (hukuman), menolong yang haq dan memberantas yang batil lebih baik baginya daripada ibadah bertahun-tahun.

Barangsiapa yang dikalahkan oleh syahwat kepada wanita, puasa adalah jawaban terbaik baginya daripada menyebut ibadah yang lainnya.” (‘Uddah ash-Shabirin wa Dzakhirah ash-Syakirin, Ibnul Qayyim, tahqiq: Zakariya Ali Yusuf, hal. 93)

  1. Bijaksana dalam metode menghadapi orang.

Nabi terkadang menggunakan cara yang lembut, keras, mengancam atau juga memotivasi, tergantung kondisi orang yang sedang dihadapi.

Bukanlah termasuk bijaksana hanya menggunakan satu cara dalam amar ma’ruf nahi mungkar antara orang tua dan anak kecil, laki-laki dan perempuan, orang yang berpendidikan dan tidak berpendidikan, pejabat dan rakyat, orang yang temperamen dan tenang. Tetapi hendaknya metode juga harus bervariasi disesuaikan dengan umur, pendidikan, tabiat dan lingkungan tempat mereka tinggal.

  1. Bijaksana dalam bercanda.

Canda disukai oleh semua orang, baik anak kecil maupun orang tua karena itu fitrah manusia. Islam pun menganjurkannya selama tidak ada kebohongan dalam canda tersebut. Berkata Syaikhul Islam, “Barangsiapa yang menggunakan suatu yang mubah (diperbolehkan) untuk dapat menyampaikan kebenaran maka termasuk amal shalih.” (Majmu’ Fatawa 28/396)

Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar, “Apabila bercanda itu dimaksudkan untuk menghibur hati orang yang diajak bicara maka sangat dianjurkan.” (Fathul Bari 10/527) Namun janganlah mencandai semua orang tanpa melihat situasi dan kondisi, karena orang alim dan orang tua memilki hak untuk dihormati. Juga, janganlah mencandai orang dungu karena akan cepat tersinggung.

Sebagaimana juga Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam mencandai anak kecil, beliau juga mencandai orang tua.  Anas Radhiallahu ‘anhu berkata, “Ada seseorang yang mendatangi Nabi lantas ia berkata, “Wahai Rasulullah, bawalah saya!’ Nabi berkata, ‘Kami akan membawamu dengan anak unta.’ Orang itu berkata, ‘Apa yang bisa saya perbuat dengan anak unta?’ Nabi berkata, ‘Bukankah unta itu berasal dari anak unta?’” (HR. Abu Dawud: 4998)

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan kita untuk berhias denga sifat ini. Wallahul Muwaffiq ila sabil ar-rasyad.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *