Jangan Jadi Maling Teriak Maling

Oleh :Abu Usamah

 

Mungkin Anda akan sedikit berpikir tentang maksud judul di atas. Atau mungkin akan mulai menebak-nebak apa yang akan dituliskan di lembar ini. Wajar.

Bermula ketika membolak-balik buku yang ada di rak, tentu kita sudah sangat sering membaca atau melewati tulisan “Dilarang memperbanyak isi buku tanpa izin tertulis dari penerbit,” atau tulisan, “All right reserved,” dan tulisan yang semacamnya.

Rupanya tak hanya di dalam dunia perbukuan dan tulis-menulis saja kata-kata semacam itu didapati.Dalam benda-benda produksi yang dipatenkan oleh pemiliknya kita juga dapat jumpai; program komputer, video, rekaman, dan yang lainnya. Demikianlah hal itu ada pada produk buatan muslim maupun non-muslim. Tahukah Anda mengapa tulisan tersebut dipajang?? Ternyata secara tabiat, manusia (muslim dan kafir) tak mau dicurangi. Siapa saja yang fitrahnya masih berfungsi, akan menganggap tindakan pencurian atau bentuk kecurangan lain sebagai tindakan negatif yang harus dihapuskan dalam kehidupan.

Namun dalam banyak kejadian yang ada, sering terjadi orang yang tak ingin dicurangi, namun secara tak sadar (atau bahkan sadar) dia malah mencurangi hak yang lain. Berikut ini misal-misalnya:

 

Ingin surga dan kenikmatannya, namun beramal penuh perhitungan

Pada awal-awal surat al-Muthaffifin Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan kecelakaan sebagai balasan bagi orang yang suka berbuat curang dalam timbangan dan takaran. Selanjutnya Allah menggambarkan bentuk kecurangan tersebut pada ayat ke-2 hingga ke-3. “Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.”

Dalam ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi permisalan kepada kita tentang kecurangan dalam muamalah yang menyangkut hak sesama manusia.Namun kita sering lupa tatkala membaca ayat ini tentang makna yang tersirat.Pernahkah hati kita tersindir dengan makna yang tersirat?

Kita sering meminta kesehatan kepada Allah dan kelancaran dalam rezeki.Kita pun sering memohon kepada Allah agar memberikan anak-anak yang shalih dan shalihah penyejuk mata.Kita juga sering meminta kepada Allah dengan permintaan yang banyak. Dan pada saat itu terkadang kita sedikit “memaksa”, agar Allah cepat memberikan apa yang kita minta. Bahkan kita yang “agak pintar” sering menyitir firman Allah dalam QS. Ghafir (al-Mu’min) ayat 60 yang memerintahkan para hamba untuk berdoa, karena Allah pasti akanmengijabahi doa hamba-Nya.Padahal di saat yang sama, kita sering perhitungan dalam melaksanakan ibadah!

Pernahkah kita berpikir, betapa curangnya kita kepada Allah?!Kita meminta dengan layanan yang serba cepat, namun kita tak melaksanakan syarat dan ketentuannya.Terkadang kita berdoa tidak dengan hati yang khusyuk, namun ingin segera dikabulkan.Kadang pula kita bertaubat dengan niat yang setengah-setengah, namun hati kita ingin semua dosa kita lebur tak tersisa.Kita juga sering meminta surga Allah yang tertinggi, namun amalan kita tak berbanding lurus dengan cita-cita mendapatkan surga. Allahul musta’an….

Betapa curangnya kita.

 

Pesan,“Jangan dibajak!” namun masih doyanbajakan

Kembali lagi dalam dunia percetakan, dan sebenarnya dapat kita kiaskan pada yang lainnya.Sering kita membaca pesan-pesan larangan membajak buku atau tulisan yang telah diterbitkan. Namun terkadang kita curang dengan membiarkan alat-alat yang membantu kita menghasilkan prodak buku tersebut masih dalam status bajakan.

Mungkin ada yang berdalih, “Untuk non-profit atau usaha yang tidak besar, masih bisa ditolerir. ”Maka siapa yang membuat pengecualian seperti ini?Jawabnya adalah, pembelaan diri yang bersifat curang dan berat sebelah. Cobalah berpikir objektif. Jika barang buatan kita dipergunakan secara ilegal, sedangkan kita sudah memberikan pengumuman bahwa dilarang membajak, namun ada seorang yang berani berkata kepada kita dengan kalimat di atas, apa reaksi kita?

Ada juga sebagian yang niatnya bagus, namun ternyata masih belum bisa selamat dari jerat-jerat kecurangan terhadap sesama. Mereka mengatakan, “Jika untuk berdakwah, kita tidak mendapatkan keuntungan. Makanya, kita tidak perlu pusing dengan program dan softwear asli ataukah bajakan.”

Ada lagi yang mengatakan, bahwa semua prodak non-muslim boleh digunakan, walaupun tanpa seizin mereka.Karena mereka tak memiliki kehormatan. Allahul musta’an

Lagi-lagi semua argumen tersebut bersumber dari kecurangan dan bersifat berat sebelah.Sebab, siapa yang mengatakan berdakwah tidak menguntungkan? Jika tidak menguntungkan, mengapa ada surga dan neraka? Mengapa Rasulullah dan para sahabat mau menjadi da’i? Bila Rasulullah dahulu berdakwah dengan modal (sering memberi/ dermawan), maka da’i sekarang pun juga harus bermodal bila ingin membuat tulisan bagi masyarakat.Apalagi bila kita masih memikirkan “upah” selain akhirat.

Kemudian, anggaplah orang-orang kafir tak memiliki kehormatan, maka mengapa Rasulullah dan para sahabatnya menghormati perjanjian dan klausul-klausul yang disepakati oleh muslim dan kafir? Bahkan Rasulullah terkenal tak suka mengkhianati perjanjian yang dibuat. Itu berarti Rasul bukan orang yang curang!

 

Mari merenung sejenak

Judul “Maling Teriak Maling” mungkin terdengar agak kasar. Namun tak mengapa, karena obat jarang yang terasa manis. Jika perasaan kita tersentuh, atau bahkan tersentil dengan tulisan yang ada di lembar ini, itu pertanda fitrah kita masih berfungsi.

Maka di penghujung tulisan ini kami mengingatkan diri sendiri khususnya dan para pembaca dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala pada QS.al-Muthaffifin ayat 4-7 (artinya):

 

Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar.Yaitu hari ketika manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam? Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam Sijjin.

 

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni kita semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *