Menjadi Menantu Idaman

Menjadi Menantu Idaman

Oleh: Ust, Ahmad Sabiq. Lc

Insya Allah Anda sepakat dengan saya, bahwa saat ikatan suci pernikahan terajut, maka itu bukan hanya ikatan antara dua anak manusia lain jenis, tapi lebih dari itu adalah ikatan dua keluarga, bahkan bisa jadi keluarga besarnya.

Ikatan pernikahan seorang suami dengan istri akan menimbulkan ikatan suami istri dengan mertuanya masing-masing juga ikatan antara mertua dengan orang tua, yang biasa diistilahkan kalangan masyarakat kita dengan hubungan besan.

Akhirnya dalam dunia pernikahan terjadilah hubungan rajutan keluarga yang beragam, yaitu:

  • Hubungan suami atau istri dengan orang tuanya masing-masing. Hubungan ini sudah terbangun lama, sejak dia terlahir ke alam dunia ini sampai meninggal dunia, tidak bisa dipisahkan dengan apapun.
  • Hubungan suami dengan istrinya.
  • Hubungan suami istri dengan mertuanya masing-masing
  • Hubungan orang tua dengan mertua (besan).

 

Insya Allah, kali ini marilah bersama-sama kita telaah hubungan suami istri dengan mertua dalam tinjauan syar’i nan agung.

Mertua dan orang tua, tak sama tapi serupa

Tidak bisa dipungkiri, bahwa mertua memang bukan orang tua. Karena orang tua (bapak dan ibu) dalam istilah syar’i hanyalah berlaku untuk bapak dan ibu kandung.

Para ulama menjelaskan, bahwa bapak adalah laki-laki yang menjadi sebab seseorang terlahir ke dunia secara syar’I, baik secara langsung maupun tidak. Dan ibu adalah wanita yang melahirkan Anda dan wanita yang melahirkan ibu Anda. Ini berarti mencakup orang tua langsung ataupun kakek dan nenek, baik dari jalur bapak maupun ibu.

Adapun bapak angkat, maka dia bukan bapak secara syar’i, sebagaimana anak angkat juga bukan merupakan anak secara syar’i. hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:

…. Dan Allah tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu … (QS. al-Ahzāb: 4)

Dan ayat ini dilanjutkan dengan firman-Nya:

Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan memakai nama bapak-bapak mereka. Itulah yang lebih adil di sisi Allah. Dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu…. (QS. al-Ahzāb: 5)

Imam al-Qurthubi berkata, “Seluruh ulama tafsir sepakat, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Zaid bin Haritsah Radhiallahu ‘anhu. Para imam hadits telah meriwayatkan dari Ibnu Umar, beliau berkata, ‘Dulu tidaklah kami memanggil Zaid bin Haritsah kecuali dengan Zaid bin Muhammad, sehingga turun firman Allah Ta’ala, ‘Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan memakai nama bapak-bapak mereka….’” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an 14/79)

Demikian juga bapak persusuan, ibu persusuan, bapak tiri, dan ibu tiri. Dan termasuk dalam pembahasan ini adalah mertua.

Ini perlu penulis pertegas di depan, karena sebagian kalangan membawa ayat-ayat yang mewajibkan bakti pada orang tua pada semuanya, baik orang tua kandung, mertua, orang tua angkat, orang tua asuh, dan lainnya.

Namun, apakah berarti tidak ada kewajiban berbakti pada mereka semua? Jawabannya jelas, wajib berbuat bakti pada mereka semua. Karena mereka semua adalah orang-orang yang telah banyak berbuat baik kepada kita. Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam memerintahkan kita untuk membalas kebaikan seseorang meskipun hanya memberikan sebuah hadiah, lalu bagaimana dengan orang yang telah mencurahkan tenaganya dan kemampuannya dalam berbuat baik kepada kita, seperti orang tua asuh, orang tua angkat, dan lainya. Tapi tetap kita katakan, bahwa berbuat baik itu bukan atas nama mereka sebagai orang tua.

Demikian juga dengan mertua, wajib berbuat baik dan bakti pada mereka. Bukan karena mereka sebagai orang tua, tapi karena mereka adalah orang tua dari istri kita atau suami kita.

Bagi seorang istri, mertuanya adalah orang tua dari suaminya. Maka sebagaimana dia wajib untuk berbakti pada suaminya, maka demikianlah dia juga hendaknya berbuat baik pada orang tua suaminya. Karena apabila dia menyakiti mertuanya, maka pasti dia juga akan menyakiti suaminya.

Begitu juga bagi suami. Mertuanya adalah orang tua istrinya. Maka sebagaimana Allah memerintahkan suami untuk berbuat baik pada istrinya, sebagaimana firman-Nya:

Dan pergaulilah mereka (para istri) dengan cara yang baik. (QS. an-Nisā’: 19)

Demikian halnya, dia pun wajib berbuat baik pada orang tua istrinya.

Membangun hubungan harmonis dengan mertua

Dalam kehidupan setiap pasangan, yang pasti saling terkait antara hak dan kewajiban, maka hendaknya kita senantiasa mengedepankan untuk melihat dan memperhatikan kewajiban, dan tidak terlalu menuntut pada hak. Tak terkecuali anak dan mertuanya. Hendaknya masing-masing mencermati apa yang seharusnya dilakukan untuk yang lainnya.

Hal ini diisyaratkan kuat oleh gambaran kehidupan keluarga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam dengan istrinya, bagaimana beliau banyak bersabar atas kekurangan istrinya. Hal ini berlaku juga dalam masalah hak dan kewajiban rakyat dan penguasa. Perhatikan hadits berikut:

 

عَنْ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدِى أَثَرَةً وَفِتَناً وَأُمُوراً تُنْكِرُونَهَا .قُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ فَمَا تَأْمُرُنَا لِمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنَّا قَالَ تُؤَدُّونَ الْحَقَّ الَّذِى عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُونَ اللهَ الَّذِى لَكُمْ.

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihat setelah wafatku para pemimpin yang mementingkan dirinya sendiri, dan kalian akan melihat banyak musibah serta perkara yang kalian ingkari.” Kami katakan, “Ya Rasulullah, dalam kondisi seperti itu apa yang engkau perintahkan bagi kami yang nantinya menemuinya?” Maka Rasulullah bersabda, “Laksanakan kewajiban kalian dan mintalah hak kalian pada Allah.” (HR. al-Bukhari, Muslim)

Karenanya sebagai menantu, berusahalah untuk menjadi menantu yang terbaik. Insya Allah sang mertua pun akan menjadi mertua terbaik untuk Anda, karena balasan itu akan setimpal dengan perbuatan kita. Ada banyak hal yang selayaknya diperhatikan sehubungan dengan mertua, di antaranya:

1.     Berpikir positif kepada mertua.

Perbuatan yang sama, akan berbeda cara kita menyikapinya, tergantung cara pandang kita pada pelaku dan kejadian tersebut. Jika yang ada dalam pikiran kita adalah prasangka baik (husnuzhan) maka kita akan memandang kejadian itu dengan kaca mata yang baik. Sehingga kalau itu baik, akan nampak kebaikannya, namun jika itu jelek maka akan dicari udzur atas perbuatan tersebut. Berbanding kebalikannya, jika pikiran kita jelek, maka yang baik akan tertutup sedang yang nampak hanyalah kejelekan.

Mertua sebagai manusia biasa, maka akan selalu ada kebaikan dan kejelekan pada diri dan perilakunya, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Maka berpikirlah positif terhadapnya, niscaya Anda akan bisa menjadi menantu yang baik.

2.     Memperlakukannya seperti orang tua kandung.

Memang mertua bukan orang tua, sebagaimana yang penulis singgung di atas, tapi perlakukanlah beliau seperti kita memperlakukan terhadap orang tua kita sendiri. Karena dengan anggapan seperti itu maka bakti menantu padanya akan terasa tulus dari hati yang ikhlas. Hormati beliau, hargai pendapat-pendapatnya, pahami keinginannya, sebagaimana kita menyikapi orang tua kita sendiri.

 

  1. Posisikan diri Anda tetap sebagai anak.

Sepandai-pandainya seorang anak, dia tetaplah anak, setinggi-tingginya status sosial anak, dia tetaplah anak. Dan kebalikannya, seawam-awamnya orang tua, dia tetap orang tua, yang harus tetap diposisikan pada posisi yang tepat. Anak tetap sebagai anak, orang tua tetap sebagai orang tua. Demikian jugalah kita dalam menyikapi mertua. Karena dia adalah orang tua pasangan hidup kita, maka orang tuanya dia juga harus merupakan orang tua kita juga.

4.     Memperhatikan apa keinginannya.

Memahami yang tersirat sebelum yang tersurat. Memahami bahasa isyarat dan hati sebelum bahasa lisan adalah sebuah kearifan dalam bergaul dengan sesama, terutama dengan seseorang yang harus dihormati dan dihargai, seperti seorang mertua.

Maka perhatikanlah apa yang menjadi keinginan dan kesenangan mertua, lalu sebisa mungkin melaksanakannya selagi tidak bertentangan dengan ketentuan syariat.

5.     Prioritaskan sang mertua.

Orang akan merasa sangat dihargai kalau dia diprioritaskan dibandingkan dengan lainnya. Demikian juga dengan mertua, akan merasa sangat dihargai oleh menantunya kalau dalam banyak hal dia diprioritaskan. Tidak mesti hanya dalam masalah-masalah yang besar, sampaipun dalam masalah-masalah yang kecil. Karena dalam masalah ini bukan besar dan kecilnya, tapi perasaan sang mertua, bahwa menantunya memperhatikan dia dan mempriortaskannya.

6.     Menjalin komunikasi yang baik.

Jalin komunikasi yang baik dengan mertua, karena posisi dia yang mirip dengan orang tua. Ajak dia musyawarah dalam masalah-masalah kehidupan. Mertua akan sangat merasa dihargai. Sangat berbeda kalau beliau tidak diajak bicara, dia akan merasa kalau dilecehkan oleh menantunya.

7.     Selalu mendengarkan sarannya.

Sebagai konsekuensi dari komunikasi yang baik, adalah mendengarkan saran dan wejangannya, selagi tidak melanggar syariat. Dan jika dalam suatu kondisi sarannya tidak bisa kita terima, maka tolaklah dengan bahasa yang sehalus mungkin dalam suasana yang sebagus mungkin, sehingga dia tidak tersinggung apalagi marah.

8.     Bersikap rendah hati.

Tawadhu’ dan rendah hati terhadapnya serta tidak menyombongkan diri di hadapannya sangat penting untuk menjalin hubungan yang baik dengan mertua, bahkan dengan siapa saja. Dengan seseorang yang selalu rendah hati, dia akan disenangi dan dikagumi oleh sesamanya.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan keluarga kita menjadi keluarga yang sakinah dan penuh dengan cinta kasih, serta menjadi keluarga yang dapat menjalin hubungan baik dengan siapa pun, terutama orang tua dan mertua. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *