Arwa binti Abdul Muththalib

Arwa binti Abdul Muththalib s\

Oleh: Ustadzah Gustini Ramadhani

Ia sebagaimana wanita sahabat lainnya, teladan bagi wanita muslimah. Arwa telah berjuang di jalan Allah dengan lidah dan kejujurannya, dalam setiap ruang lingkup Islam yang dilaluinya. Sulit ditandingi semangatnya dalam menyampaikan nasihat dan menunjuki manusia untuk menempuh jalan keadilan dan kebenaran, serta mengembalikan hak kepada yang berhak, sesuai dengan kemampuannya tanpa merasa sungkan atau malu.

Arwa wanita yang sangat istimewa di zamannya, karena ia pandai bersyair dan sangat fasih dalam berbicara. Ketika berbicara dengannya orang-orang akan terpaku dan terpesona mendengar keindahan bahasanya. Kelebihan itu menyempurnakan kedudukannya sebagai seorang putri bangsawan Quraisy yang terpandang dan disegani. Ia adalah bibi Rasulullah ﷺ.

Ia termasuk orang-orang yang terdahulu masuk Islam dan ikut berhijrah ke Madinah serta ikut berjuang mempertahankan Islam bersama Rasulullah ﷺ. Ialah Arwa binti Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdi Manaf al-Qurasyiyyah, bibi Rasulullah ﷺ.

Lika-liku perjalanan Islam Arwa

Pada masa jahiliyyah ia menikah dengan Umair bin Wahab bin Abdi Manaf. Dari pernikahan itu ia dikaruniai seorang putra yang bernama Kulaib (menurut referensi lain Thulaib). Setelah Umair meninggal, ia pun dinikahi oleh Artha’ah bin Syurahbil dan dikaruniai seorang putri yang bernama Fatimah.

Ahli sejarah berselisih pendapat tentang keislaman dirinya dan juga saudarinya, Atikah. Ishaq dan Ibnu Hibban termasuk ulama yang berpendapat bahwa tidak ada seorang pun bibi Nabi yang masuk Islam kecuali Shafiyah, adapun ulama selain mereka berpendapat bahwa, bibi-bibi Nabi yang masuk Islam adalah Shafiyah dan Arwa.

Suatu hari, orang-orang di sekitarnya memberitahukan bahwa putranya, Kulaib (Thulaib) bin Umair, masuk Islam di rumah al-Arqam bin Abil Arqam al-Makhzumi. Sepulang dari sana, Kulaib langsung menemui ibunya dan berkata, “(Wahai Ibu), saya telah mengikuti agama Muhammad dan saya memeluk Islam karena Allah.”

Ibunya menjawab, “Sesungguhnya orang yang paling berhak kamu dukung dan bela adalah sepupumu (Muhammad). Demi Allah, seandainya saya mampu sebagaimana kaum laki-laki, maka saya akan selalu membelanya.”

Kulaib berkata, “Kalau memang demikian, apa yang menghalangi ibu untuk masuk Islam dan menjadi pengikutnya, padahal saudara Ibu, Hamzah bin Abdul Muththalib telah masuk Islam?” Ibunya menjawab, “Saya mau melihat saudara-saudariku terlebih dahulu. (Kalau mereka masuk Islam), saya akan menjadi salah satu dari mereka (masuk Islam juga).”

Kulaib berkata, “Sesungguhnya saya memohon kepadamu, demi Allah, untuk mendatanginya (Muhammad), memberi salam kepadanya, mempercayainya, dan bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadati kecuali Allah dan Muhammad itu adalah utusan Allah.” Ibunya pun menuruti perintaan buah hatinya tersebut.

Setelah masuk Islam, Arwa binti Abdul Muththalib termasuk wanita yang paling gigih membela Rasulullah dan menyuruh putranya untuk selalu taat serta patuh kepada Rasulullah ﷺ.

Tegar hadapi rintangan

Suatu hari, Abu Jahal telah mempersiapkan sekelompok orang kafir Makkah untuk menganiaya Rasulullah. Mendengar hal itu, Kulaib bin Umair langsung pergi menemui Abu Jahal lalu memukulnya hingga kulit Abu Jahal terkelupas. Seketika itu juga gerombolan tersebut menyeret Kulaib dan mengikatnya. Tidak lama kemudian, datanglah Abu Lahab membebaskannya.

Orang-orang memberitahu perihal Kulaib yang membela Rasulullah kepada ibunya seraya berkata, “(Wahai Arwa, tahukah engkau bahwa putramu telah menjadi pembela Muhammad?” Dengan tegas Arwa menjawab, “Hari yang terbaik bagi Kulaib adalah hari di mana dia membela putra pamannya (Muhammad), karena memang apa yang dia bawa adalah kebenaran yang datangnya dari Allah!” Mereka bertanya, “Kalau begitu, engkau juga pengikut Muhammad?” Arwa menjawab, “Benar!”

Mendengar hal tersebut, sebagian orang-orang kafir melaporkan keislaman Arwa kepada Abu Lahab. Datanglah Abu Lahab menemui Arwa dan berkata, “Sungguh, suatu berita yang mengejutkan atas kamu yang telah mengikuti Muhammad dan meninggalkan agama Abdul Muththalib!”

Arwa menjawab, “Memang sudah seharusnya demikian. Sekarang, berdirilah di samping putra saudaramu (Muhammad) untuk menolong dan membelanya. Apabila sudah jelas perkaranya (kebenaran Muhammad bagimu), maka kamu boleh memilih antara ikut dengannya atau kamu tetap dalam agamamu.”

Sambil berpaling pergi, Abu Lahab menjawab, “Kita disegani di kalangan Arab. Bagaimana kita harus tunduk dengan orang yang datang dengan agama baru?!” Arwa menimpali sanggahannya dengan satu bait syair:

“Sesungguhnya Kulaib telah menolong putra pamannya. Ia (Kulaib) juga Rasulullah dalam lindungan-Nya dan ia infakkan hartanya untuk perjuangannya.”

Perdebatan antara Abu Lahab dan Arwa menggambarkan pada kita sosok ibu yang tegar dan tegas dalam membela putranya yang memperjuangkan kebenaran.

Arwa berkata, “Berlinanglah air mataku dan memang sudah selayaknya untuk berlinang lantaran (bapakku) yang enggan menerima kebenaran karena rasa malu.”

Ketika Rasulullah ﷺ wafat, Arwa sangat bersedih dan berduka karena kehilangan orang paling dicintainya dan menandai terhentinya wahyu dari langit.

Demikianlah sosok ibu teladan wanita muslimah kali ini. Arwa binti Abdul Muththalib s\ yang selalu mencurahkan perhatiannya kepada perjuangan Rasulullah ﷺ dan selalu menyeru putranya untuk mendukung dan membela perjuangan Rasulullah. Arwa, sang ibu teladan meninggal dunia sekitar tahun 15 H pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab radhiallahu.

Referensi:
– Al-Ishabah
– Usdul Ghabah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *