Di Balik Isu Kesetaraan Gender

Oleh: Abu Zaid Zahir al-Minangkabawi

 

Jika Anda pernah berkunjung ke Jakarta, maka Anda akan mengatakan Jakarta adalah kota yang luar biasa. Luar biasa megahnya dengan deretan gedung-gedung pencakar langit, jalanan yang bersimpang siur, ramai dan tidak lupa dengan macetnya. Belum lagi di malam hari, kerlap-kerlip lampu yang begitu menawan, menghiasi setiap sudut terkecil kawasan perkotaan.

Memang sepertinya banyak hal yang luar biasa di kota ini, membuat heran setiap orang yang baru menjajakinya. Orang-orang di kota ini seolah tidak pernah beristirahat, berpacu dengan waktu dan keringat supaya tidak tertinggal oleh orang lain.

Perekonomian luar biasa, perputaran uang sangat cepat. Peluang kerja? Entahlah. Tetapi buktinya setiap habis lebaran selalu bertambah saja jumlah orang baru yang datang ke kota ini. Benar, ia punya daya tarik tersendiri.

Suatu hari, kami baru saja keluar dari Stasiun Pasar Senen, melewati sebuah proyek perbaikan jalan. Pengerjaannya tengah berlangsung. Ada eskavator dan beberapa kendaraan proyek lainnya. Para pekerja pun tengah sibuk dengan job masing-masing. Ada beberapa di antara mereka yang berdiri berjejer sambil memperhatikan keadaan sekitar. Sepertinya sedang menunggu perintah baru dari atasan.

Tidak ada yang aneh dari mereka. Seperti biasa; baju kerja, sepatu bot, lengkap dengan helm di kepala, dan tidak lupa keringat dan rasa letih menghiasi wajah mereka. Namun, setelah mobil kami mendekat, baru kami sadar bahwa dua orang di antara mereka adalah perempuan. Sambil bercanda, pak sopir kami berceletuk ke arah saya, “Persamaan gender.”

Beberapa tahun sebelumnya, masih di kota yang sama, saya sempat heran, takjub sekaligus prihatin. Ketika hendak membayar ongkos Kopaja, ternyata kernetnya adalah seorang perempuan. Waktu itu mungkin belum terpikirkan. Tetapi setelah mendapat inspirasi dari Pak Sopir tadi, mungkin sekarang saya juga akan berceletuk, “Persamaan gender.”

 

Kesetaraan gender

Isu kesetaraan gender ini memang sudah menjadi isu yang tiada habisnya. Bahkan semakin hari semakin meningkat, terus diperjuangkan baik di tingkat eksekutif maupun legislatif. Apalagi setiap bulan April, selalu kembali menghangatkan topiknya. Sebab, katanya, Ibu Kartinilah salah satu pejuang yang getol memperjuangkan hak-hak perempuan di negeri kita ini.

Gender yang dimaksud di sini, tentu bukan jenis kelamin laki-laki atau perempuan, karena dalam masalah ini pasti semua sepakat mengatakan bahwa keduanya berbeda. Akan tetapi, lebih ditekankan pada peranan dan fungsi yang ada dan dibuat oleh masyarakat.

Jika isu tersebut sebatas pada hal itu, kita mungkin tidak terlalu ambil pusing. Tetapi kenyataannya juga merembet membawa nama Islam. Dengan sorak-sorai mereka mengatakan Islam tidak adil, Islam mendeskriminasikan kaum perempuan, mengekang perempuan dalam rumah seperti seekor burung dalam sangkar. Mereka tidak boleh ikut serta dalam banyak hal, serta celoteh-celoteh lainnya.

Dan yang membuat kita juga tak habis pikir, yang menjadi pejuangnya ternyata mereka yang mengaku muslim atau muslimah. Kemudian yang menambah prihatin, banyak umat Islam yang termakan isu tersebut, mulai dari yang awam sampai kaum intelektual. Cukup sudah semua.

Entah apa motivasinya, tetapi seandainya mereka mau mempelajari dan merenungi syariat Islam, tentu mereka akan menyadari bahwa justru Islam-lah yang menyelamatkan, melindungi, mengangkat serta menempatkan wanita pada tempat yang mulia.

Buktinya, di zaman Jahiliah kaum wanita mengalami nasib yang sangat tragis. Ia diakui keberadaannya, tetapi tidak dihargai kedudukannya. Bahkan ada yang sampai menyebutkan bahwa wanita di zaman itu tak ubahnya sebagai barang mainan. Di waktu malam menjadi alas tidur dan di waktu siang menjadi alas kaki.

Wanita yang berparas cantik dijadikan pemuas nafsu. Jatuh dari pelukan satu lelaki ke lelaki yang lain. Terkadang, juga bisa dijadikan suguhan tamu sebagai jamuan dan penghormatan. Laksana hidangan yang bisa dilahap kapan saja dan oleh siapa saja. Wanita sama sekali tidak punya harga diri.

Lantas Islam datang, menyelamatkan dan meletakkan mereka pada tempat yang sangat mulia. Hanya saja, masih banyak pihak yang gelap mata, sehingga belum melihat hal itu. Dan kalau pun melihat, mereka pura-pura tak tahu.

Kota percontohan

Hari ini, sepertinya masa suram itu hendak dikembalikan lagi oleh manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab dengan dalih ‘kesetaraan gender’. Mereka ingin kaum wanita itu busuk seperti busuknya mereka.

Lihat saja keadaan wanita sekarang, mereka dijadikan alat untuk mencapai tujuan; harta, kekuasaan, kepuasan dan seterusnya. Coba lihat iklan-iklan di media, baik cetak maupun elektronik, hampir semuanya wanita. Bayangkan saja, iklan oli saja ada wanitanya!

Kembali ke cerita semula. Tampaknya Jakarta ini mau dijadikan kota percontohan dari kesetaraan gender yang kebablasan itu. Pokoknya, wanita dan laki-laki tidak ada bedanya. Wanita juga boleh berkiprah di ranah politik, pemerintahan, ekonomi termasuk hingga menjadi kuli pada proyek pengerjaan jalan serta kernet bus.

Saya masih teringat, ada yang mengatakan; “Kenapa sulit mencari lapangan pekerjaan? Kenapa banyak laki-laki pengangguran? Jawabannya, karena sebagian besar dari pekerjaan laki-laki sekarang telah beralih ke tangan perempuan.” Sepertinya itu benar….

 

Kebebasan dan kemerdekaan

Berbicara tentang kebebasan dan kemerdekaan perempuan, justru hal itu ada pada aturan yang telah disyariatkan Islam. Bukan pada kebebasan yang dikonsepkan oleh orang-orang zaman sekarang; “wanita boleh melakukan apa saja, mereka bebas, jangan halangi karier mereka, jangan tutup mata mereka untuk melihat dunia, karena mereka punya hak juga.”

Sebagai seorang muslim tentu kita percaya bahwa tidak ada syariat yang akan membawa pada keburukan. Bahkan kita yakin setiap ketentuan Allah pasti di baliknya ada hikmah dan kebaikan yang luar biasa.

Jika seorang muslimah yang masih memiliki iman mau berkata jujur dari lubuk hatinya yang terdalam, maka ia akan mengatakan bahwa kebebasan perempuan hari ini adalah sebuah kepura-puraan. Raga mereka bebas, tetapi batin mereka justru terjajah oleh perasaan bersalah. Karena mereka sadar bahwa Allah memang telah menciptakan laki-laki dan perempuan dengan perbedaan.

Inilah Ibunda Maryam yang jelas-jelas mengatakan hal itu, seperti yang dihikayatkan oleh Allah dalam al-Qur’an.

Dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. (QS. Ali ‘Imran: 36)

Jadi, wahai saudariku, jangan mau menjadi korban dari propaganda ini meski banyak sekali orang yang menyorakkannya. Anda telah dimuliakan oleh Islam maka jagalah kemuliaan itu. Seruan itu hanyalah tipuan. Ibarat seorang yang menawarkan air kepada Anda yang tengah kehausan. Begitu segar kelihatannya, tetapi ternyata itu bukan air tawar, namun air laut. Sekali diminum, Anda akan semakin kehausan lantas mati dalam keadaan tertimpa penderitaan di atas penderitaan. Sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah kehausan, tertipu pula.

Wallahul muwaffiq.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *