Hati Akan Selalu Selaras Dengan Namanya

Oleh: Ust. Abu Yusuf Ahmad Sabiq Lc.

 
عَنْ حَنْظَلَةَ الْأُسَيِّدِيِّ قَالَ
 وَكَانَ مِنْ كُتَّابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَقِيَنِي أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ كَيْفَ أَنْتَ يَا حَنْظَلَةُ قَالَ قُلْتُ نَافَقَ حَنْظَلَةُ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ مَا تَقُولُ قَالَ قُلْتُ نَكُونُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّى كَأَنَّا رَأْيُ عَيْنٍ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَافَسْنَا الْأَزْوَاجَ وَالْأَوْلَادَ وَالضَّيْعَاتِ فَنَسِينَا كَثِيرًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ فَوَاللهِ إِنَّا لَنَلْقَى مِثْلَ هَذَا فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ حَتَّى دَخَلْنَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ نَافَقَ حَنْظَلَةُ يَا رَسُولَ اللهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا ذَاكَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ نَكُونُ عِنْدَكَ تُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّى كَأَنَّا رَأْيُ عَيْنٍ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِكَ عَافَسْنَا الْأَزْوَاجَ وَالْأَوْلَادَ وَالضَّيْعَاتِ نَسِينَا كَثِيرًا فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِي وَفِي الذِّكْرِ لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلَائِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِي طُرُقِكُمْ وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

Dari Hanzhalah al-Usayyidi (beliau salah satu penulis wahyu Rasulullah) berkata, “Abu Bakar bertemu denganku lalu berkata, ‘Bagaimana kabarmu, wahai Hanzhalah?’ Saya menjawab, ‘Hanzhalah telah munafik!’ Abu Bakar, ‘Subhanallah..! Apa yang barusan kau katakan tadi?’ Saya jawab, ‘Kalau kita sedang bersama Rasulullah, lalu beliau mengingatkan kita tentang neraka dan surga, seakan-akan kita melihatnya secara langsung, namun bila kita pulang, kita tersibukkan dengan istri, anak, dan pekerjaan, maka banyak yang kita lupakan.’ Abu Bakar lalu berkata, ‘Wallahi, saya pun demikian.’ Maka saya dan Abu Bakar mendatangi Rasulullah, saya pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, Hanzhalah telah munafik?’ Rasulullah bertanya, ‘Memangnya kenapa?’ Saya jawab, ‘Wahai Rasulullah, kalau kami sedang bersamamu, engkau ingatkan kami akan neraka dan surga maka seakan–akan kami melihatnya secara langsung, namun apabila kami pulang lalu kami tersibukkan dengan istri, anak, dan pekerjaan, kami banyak lupa.’ Rasulullah bersabda, ‘Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan Nya, seandainya kalian tetap seperti saat kalian bersamaku, niscaya para Malaikat akan menyalami kalian saat di tempat tidur maupun di jalanan, akan tetapi wahai Hanzhalah, sekali tempo, sekali tempo (tiga kali).’” (HR. Muslim: 2750)

 

 

Ketidakstabilan dalam hidup manusia adalah hal yang lumrah, karena segala gerak-geriknya, baik yang zhahir maupun batin dikendalikan oleh segumpal daging dalam tubuh. ‘Al-Qalbu’ yang sudah lumrah diterjemahkan dengan ‘hati’.

Sesuai dengan namanya maka hati selalu berubah-ubah dan berbolak-balik. Karena al-qalbu sendiri dalam bahasa Arab artinya berbolak-bailk.

Itu terjadi dalam semua sisi kehidupan manusia, dari yang paling inti, yaitu keimanan sampai masalah remeh semisal selera makan atau lainnya. Iman tidaklah stabil sebagaimana ditegaskan oleh para ulama. Banyak dalil yang menunjukkan hal ini, di antaranya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam QS. Āli ‘Imrān: 173.

(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.” Maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.

 

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam QS. Maryam: 76.

Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal shalih yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu dan lebih baik kesudahannya.

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam,

 

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

 

Iman itu lebih dari tujuh puluh atau lebih dari enam puluh cabang. Yang paling utama adalah perkataan, ‘Laa Ilaaha Illa Allah’ dan yang terendah adalah membersihkan gangguan dari jalanan, sedang rasa malu itu adalah satu cabang dari keimanan.” (HR. al-Bukhari Muslim)

 

Hadits yang mulia ini menjelaskan bahwa iman memiliki cabang-cabang, ada yang tertinggi dan ada yang terendah . Cabang-cabang iman ini bertingkat-tingkat dan tidak berada dalam satu derajat dalam keutamaannya, bahkan sebagiannya lebih utama dari lainnya. Dan masih banyak dalil lainnya.

 

Ketidakstabilan ini pun terjadi pada masalah masalah remeh seperti selera makan, terkadang seseorang senang sekali dengan sate, lama-lama selera itu akan berubah menjadi kepada yang lainnya. Begitu pula minuman dan semisalnya. Oleh karena itu, sampai dalam persahabatan hendaknya kita tidak melampaui batas, karena bisa jadi akan berubah suatu saat nanti. Rasulullah menegaskan:

 

أَحْبِبْ حَبِيْبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُوْنَ بَغِيْضَكَ يَوْمًا مَا وَأَبْغِضْ بَغِيْضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُوْنَ حَبِيْبَكَ يَوْمًا ماَ

 

“Cintailah kekasihmu sekadarnya saja karena bisa jadi akan menjadi orang yang engkau benci. Dan bencilah orang sekadarnya saja, karena bisa jadi akan menjadi orang yang engkau cintai.” (Shahih, HR. at-Tirmidzi dan lainnya, Ghayatul Maram: 472)

 

Kalau pindahnya hati dalam sesuatu yang sifatnya mubah, maka itu sama sekali tidak bermasalah, karena sah-sah saja seseorang menyenangi makanan tertentu, kemudian dia bosan dan suka makanan lainnya. Tidak mengapa seseorang suka pakaian jenis tertentu, kemudian berubah menjadi pakaian jenis lain.

Tapi saat perpindahan hati dan kebosanan perasaan itu akan berdampak buruk bagi dunia, apalagi akhirat, maka itu yang harus diobati dan dicarikan solusi. Karenanya, dalam masalah keimanan, Allah dan Rasul-Nya menjaga dan mensyariatkan banyak hal agar keimanan tetap stabil, bahkan bertambah dan segera mengobatinya jika terasa berkurang.

 

Sebab-sebab bertambahnya iman

Pertama: Belajar ilmu yang bermanfaat yang bersumber dari al-Qur`an dan as-Sunnah. Hal ini menjadi sebab pertambahan iman yang terpenting dan bermanfaat, karena ilmu menjadi sarana beribadah kepada Allah dan fondasi mewujudkan tauhid dengan benar. Pertambahan iman yang didapatkan dari ilmu bisa terjadi dari beragam sisi, di antaranya:

  1. Saat keluarnya ahli ilmu dalam mencari ilmu.
  2. Duduknya mereka dalam halaqah ilmu.
  3. Mudzakarah (diskusi) antara mereka dalam masalah ilmu.
  4. Penambahan pengetahuan terhadap Allah dan syariat.
  5. Penerapan ilmu yang telah mereka pelajari.
  6. Tambahan pahala dari orang yang belajar dari mereka tanpa mengurangi pahala orang yang belajar tersebut.

Kedua: Merenungi ayat-ayat kauniah. Merenungi dan meneliti keadaan dan keberadaan makhluk-makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang beraneka ragam dan menakjubkan merupakan faktor pendorong yang sangat kuat untuk mengokohkan iman.

Ketiga: Berusaha sungguh-sungguh melaksanakan amalan shalih dengan ikhlas, memperbanyak dan menyinambungkannya. Hal ini karena semua amalan syariat yang dilaksanakan dengan ikhlas akan menambah iman. Karena iman bertambah dengan pertambahan ketaatan dan banyaknya ibadah.

 

Sebab-sebab berkurangnya iman

Sebab-sebab berkurangnya iman ada yang berasal dari dalam diri manusia sendiri (faktor internal) dan ada yang berasal dari luar (faktor eksternal). Faktor internal berkurangnya iman adalah:

 

Pertama: Kebodohan. Inilah sebab terbesar berkurangnya iman, sebagaimana ilmu adalah sebab terbesar bertambahnya iman.

Kedua: Kelalaian, sikap berpaling dari kebenaran dan lupa. Tiga perkara ini merupakan salah satu sebab penting berkurangnya iman.

Ketiga: Perbuatan maksiat dan dosa. Jelas, kemaksiatan dan dosa sangat merugikan dan memiliki pengaruh jelek terhadap iman. Sebagaimana pelaksanaan perintah Subhanahu wa Ta’ala Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menambah iman. Demikian juga pelanggaran atas larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengurangi iman. Namun tentunya dosa dan kemaksiatan bertingkat-tingkat derajat, kerusakan, dan kerugian yang ditimbulkannya, sebagaimana disampaikan oleh Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam ungkapan beliau, “Sudah pasti kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan bertingkat-tingkat, sebagaimana iman dan amal shalih pun bertingkat-tingkat.” (Ighatsatu al-Lahafaan 2/142)

Keempat: Nafsu yang mengajak kepada keburukan (an-nafsu al-ammaratu bissu’). Inilah nafsu tercela yang ada pada manusia. Nafsu ini mengajak kepada keburukan dan kebinasaan, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala jelaskan saat menceritakan istri al-Aziz yang menggoda Yusuf ‘Alaihis salam. (QS. Yūsuf: 53) Nafsu ini menyeret manusia kepada kemaksiatan dan kehancuran iman, sehingga wajib bagi kita berlindung kepada Allah darinya dan berusaha bermuhasabah sebelum beramal dan setelahnya.

 

Sedangkan faktor eksternal berkurangnya iman, antara lain:

Pertama: Setan musuh abadi manusia yang merupakan satu sebab penting eksternal yang mempengaruhi iman dan mengurangi kekokohannya.

Kedua: Dunia dan fitnah (godaan)nya. Menyibukkan diri dengan dunia dan perhiasannya termasuk sebab yang dapat mengurangi iman. Sebab, semakin semangat manusia memiliki dunia dan semakin menginginkannya, maka semakin memberatkan dirinya berbuat ketaatan dan mencari kebahagiaan akhirat, sebagaimana dituturkan oleh Imam Ibnul Qayyim.

Ketiga: Teman bergaul yang jelek. Teman yang jelek menjadi sesuatu yang sangat berbahaya terhadap keimanan, akhlak dan agama. Karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam telah memperingatkan kita dari hal ini dalam sabda beliau,

“Seorang itu berada di atas agama kekasihnya (teman dekatnya), maka hendaknya salah seorang kalian melihat siapa yang menjadi kekasihnya.” (Hasan, HR. at-Tirmidzi)

 

Kehidupan rumah tangga pun sama

Tak terkecuali dari berbolak-baliknya hati juga adalah masalah pasutri. Sangat bisa dirasakan, bahwa cinta kasih yang menjadi salah satu tujuan utama lembaga pernikahan itu terkadang bertambah dan terkadang berkurang, sehingga muncul kejenuhan dan kebosanan dengan pasangan sendiri. Bahkan terkadang sampai kandas di tengah jalan.

Jika ini terjadi maka jangan smapai dibiarkan, karena bila dibiakan berlarut, niscaya akan mengantarkan pada ambang kehancurannya. Solusinya, segeralah tanggap terhadap gejala dan permasalahannya, dan segeralah cari solusi yang tepat. Barakallahu fikum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *