Bagaimana Menyikapi Musibah?

Oleh: Abu Ammar al-Ghoyami

www.alghoyami.wordpress.com

 

Bila kita berbicara tentang musibah, tentu tak seorang pun di antara kita yang mau ditimpanya, apalagi mengharapkan. Memang musibah identik dengan hal yang menyengsarakan, sehingga wajar bila tidak ada yang suka. Selain itu, akibat dari musibah adalah penderitaan, sementara tidak ada juga yang mau hidupnya dirundung derita.

Musibah dan akibatnya ada berbagai bentuk. Ada musibah yang mengakibatkan terancamnya keamanan dan kesejahteraan, ada yang memunculkan krisis ekonomi sampai bencana kelaparan, ada yang berakibat rusaknya harta benda bahkan sampai melenyapkan seluruhnya, ada yang menimbulkan kematian massal, bahkan sampai membinasakan suatu negeri beserta bangsanya, dan ada pula yang berakibat gagal panen dan sebagainya.

Di dalam rumah tangga juga banyak macam musibah yang mungkin menimpa. Anggota keluarga jatuh sakit atau kematian seseorang di antara mereka, hilang harta karena pencurian, perampokan sampai kebakaran yang meludeskan seluruh harta, istri ditinggal suami dengan talak atau suami ditinggalkan istri dengan khulu’ (cerai dengan imbalan harta oleh istri), sampai kematian salah satu di antara mereka, dan masih banyak lagi. Seluruhnya adalah musibah yang pernah menimpa manusia di sepanjang kehidupannya, meski mereka tidak mengharapkannya.

 

Musibah ada sebabnya        

Kita semua yakin bahwa semua kejadian telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan dengan takdir-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi melainkan Allah penentu dan penciptanya. Namun perlu dipahami bahwa takdir Allah terjadi dengan sebab-sebab yang Dia kehendaki. Seperti itu juga musibah yang menimpa. Banyak perkara yang menjadi sebab ditimpakannya musibah, seperti kezaliman para penguasa, kezaliman orang kaya, kezaliman para tokoh masyarakat, juga termasuk kezaliman seluruh masyarakatnya. Terbukti, tidak sedikit musibah yang Allah timpakan kepada umat-umat terdahulu karena berbagai kezaliman mereka. Salah satunya sebagaimana yang Allah telah sebutkan dalam firman-Nya:

 

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (QS. al-Isrā’: 16)

 

Mereka durhaka kepada Allah dengan kekuasaan dan kekayaan mereka. Mereka sombong dengan merendahkan orang lain dan menolak nasihat kebenaran. Mereka merasa memiliki kekuatan, pengikut, harta yang banyak dan semisalnya. Sehingga mereka merasa aman dari petaka. Allah menyebutkan ungkapan kesombongan mereka di dalam firman-Nya:

 

Dan mereka berkata, “Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak- anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali kami tidak akan diadzab.” (QS. Saba’: 35)

 

Mereka menyangka dan meyakini bahwa kenikmatan besar yang mereka dapat di dunia menunjukkan bahwa mereka dikasihi Rabbul ‘alamin dan tidak akan diadzab di akhirat. Padahal Allah tidak menyukai kekufuran dan kezaliman, bagaimana Dia mengasihi mereka seperti yang mereka yakini? Sungguh, ini merupakan kesalahan yang nyata.

Berbuat zalim itu banyak sikap dan bentuknya, berupa mendustakan utusan Allah, menghina dan melecehkan mereka, berbuat dosa dan maksiat, dan termasuk merasa aman dari adzab Allah pun merupakan kezaliman. Seluruhnya merupakan sebab-sebab ditimpakannya musibah sebagaimana yang telah disebutkan di dalam beberapa ayat al-Qur’an.[1]

 

Kiat menangkal musibah

Tabiat manusia berusaha menjauhi musibah. Bahkan berbagai usaha dilakukan untuk menangkal musibah. Namun karena tidak semua orang mengetahui usaha yang tepat, akhirnya banyak yang berbuat salah sehingga tidak dimengerti bila sejatinya mereka justru telah mengundang musibah.

Sebenarnya Islam telah menunjukkan usaha yang tepat untuk menangkal musibah. Yaitu dengan bertaubat dan istighfar dan menghindar dari seluruh sebab datangnya musibah. Itulah usaha yang tepat untuk menangkal musibah. Jadi, bukan dengan meminta perlindungan kepada para normal, dukun, dan semisalnya. Atau meminta perlindungan kepada para Nabi, khususnya kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi was salam, atau kepada para Wali, para Syaikh, dan orang-orang shalih yang sudah mati dengan memanggil-manggil mereka, atau meminta perlindungan kepada setan dengan memberikan sesaji dan tumbal, atau meminta perlindungan dengan memakai jimat, rajah dan semisalnya. Semuanya merupakan sebab pengundang musibah, bukan sebab penangkal musibah. Karena semuanya merupakan kezaliman yang nyata. Hal ini yang mestinya diberitahukan kepada kaum muslimin supaya dimengerti. Caranya, dengan gencar berdakwah dan menebarkan ajaran Islam yang benar. Wallahul muwaffiq.

Hikmah di balik musibah

Allah tidaklah melakukan sesuatu melainkan dengan hikmah ketuhanan yang tinggi. Demikian juga di balik musibah yang menimpa pun ada hikmah yang baik yang dikehendaki-Nya. Memang tidak semua orang mengetahuinya, lebih dari itu tidak semua orang mendapatinya. Hal ini karena tingkatan iman seorang yang satu dengan yang lainnya berbeda. Ada orang yang kokoh imannya, ada yang lemah, ada pula orang kafir dan tidak lagi beriman.

Musibah bagi seorang yang beriman merupakan kejadian atas kehendak dan takdir Allah, di antaranya supaya hamba ini mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas seluruh makhluk-Nya. Lain lagi bagi orang kafir, musibah bagi mereka semata-mata bencana yang merusak alam dan merugikan kehidupan mereka. Jelas sekali bahwa demikian itu bertentangan dengan iman dan menyelisihi nash-nash al-Qur’an. Sehingga hikmah musibah bagi mereka hanya sebagai hukuman dan adzab yang disegerakan di dunia sebelum mereka diadzab kelak di akhirat dengan adzab neraka. Na’udzu billah minannar.

Kalau kita pelajari al-Qur’an, kita akan dapati berbagai hikmah di balik musibah, antara lain:

  1. Sebagai pelajaran dan nasihat

Musibah yang didapati di sekitar kehidupan seorang yang tidak beriman maupun yang beriman merupakan pelajaran dan nasihat agar mereka yang kafir kembali menuju iman dan khusus bagi yang beriman serta masih menggeluti dosa agar segera ingat dan bertaubat kepada Allah. Ini merupakan bukti bahwa musibah, meskipun pahit namun demi kebaikan manusia. Inilah hikmah mulia di balik musibah. (QS. al-Ahqāf: 27)

 

  1. Penghapus dosa-dosa

Hikmah ini khusus bagi orang yang beriman. Dan tidak ada seorang mukmin yang tidak pernah ditimpa musibah, sekecil apapun wujudnya. Bahkan musibah itu sendiri memang baik bagi orang-orang yang beriman. Karena tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala menimpakan musibah kepada hamba-Nya yang beriman melainkan untuk menghapuskan dosa-dosanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda:

 

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا ، إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

 

Tidaklah menimpa seorang muslim pun sebuah keletihan, tidak pula kesakitan, tidak pula kedukaan, kesedihan, kepedihan, atau kepiluan, sampai sebuah duri yang menusuk pun melainkan Allah akan hapuskan dengannya sebagian dosa-dosanya. (HR. al-Bukhari: 5318 dan Muslim: 2572, dan ini lafazh al-Bukhari)

 

  1. Sarana memperbanyak pahala

Di saat seorang mukmin mengetahui bahwa musibah itu dari Allah sebagai ujian dan sebagai penghapus dosa maka ia dengan mudah tabah, sabar dan bahkan bersyukur kepada Allah atas musibahnya. Dengan sikap baiknya tersebut seorang mukmin bisa memperbanyak pahala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda:

 

عَجِبْتُ مِنْ قَضَاءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ حَمِدَ رَبَّهُ وَشَكَرَ وَإِنْ أَصَابَتْهُ مُصِيبَةٌ احْتَسَبَ وَصَبَرَ الْمُؤْمِنُ يُؤْجَرُ فِى كُلِّ شَىْءٍ حَتَّى فِى اللُّقْمَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى فِى امْرَأَتِهِ

 

“Saya heran terhadap ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas seorang mukmin, jika dia mendapatkan kebaikan dia memuji Rabbnya dan bersyukur, dan jika ditimpa kemalangan ia berharap pahala (kepada Rabbnya) dan bersabar. Seorang mukmin akan diberi pahala atas seluruh (urusan)nya, sampai sesuap makanan yang dia angkat ke mulut istrinya (pun berpahala).” (HR. Ahmad: 1575 dihasankan oleh Syaikh Syua’ib al-Arnauth)

 

Karenanya, sebagian ulama salaf berkata, “Andaikan tidak ada musibah di dunia, tentu kita akan datang kelak pada hari Kiamat dalam keadaan merugi tanpa membawa pahala.”[2]

 

  1. Sarana mendapat ampunan, kesejahteraan dan hidayah

Bagi seorang beriman yang sabar menghadapi musibah, tabah dan berharap pahala dari Allah maka akan diberikan baginya shalawat (ampunan atas dosa-dosa), rahmat dan hidayah hidup menuju dunia akhirat yang sejahtera. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan balasan seperti itu di dalam penutup ayat 175 dari surat al-Baqarah.

Tentunya masih banyak lagi hikmah yang baik di balik musibah, namun sekiranya hanya empat hal tersebut saja sudah cukup bagi seorang beriman sebagai bekal meraup kebaikan di balik musibah yang menimpanya.

 

Bagaimana seorang mukmin menyikapi musibah?

Dengan mengetahui berbagai hikmah yang baik di balik musibah, seorang mukmin akan menyikapi musibah dengan sikap yang paling baik pula. Karena musibah juga sebagai ujian agar diketahui siapa yang benar imannya dari siapa yang dusta imannya. Maka sikap seorang mukmin menghadapi musibah pun terwujud dalam bentuk ketegaran di dalam menghadapi ujian.

 

  1. Seorang mukmin akan mengembalikan musibah kepada Allah.

Dengan prinsip inilah seorang mukmin mampu tegar dan tetap istiqamah di atas imannya. Oleh karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan:

 

Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS. al-Hadīd: 22)

 

  1. Menuju muhasabah (introspeksi diri).

Tidak mudah bagi seseorang untuk melihat kesalahannya sendiri. Namun bagi orang beriman, musibah merupakan salah satu perkara yang mengantarkannya menuju muhasabah. Sehingga dia akan tahu bahwa Allah mendatangkan musibah semata-mata karena kesalahan dan dosanya, bukan karena kezaliman-Nya, karena Dia Subhanahu wa Ta’ala tidak berbuat zalim sedikit pun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang ucapan Nabi Adam ‘Alaihi salam dan istrinya, Hawa ‘Alaihas salam yang beriman:

 

Keduanya berkata, “Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. al-A’rāf: 23)

 

Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Diri-Nya:

 

Tidak ada yang ditunggu-tunggu orang kafir selain dari datangnya para Malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau datangnya perintah Rabbmu (agar datang adzab untuk membinasakan mereka). Demikianlah yang telah diperbuat oleh orang-orang (kafir) sebelum mereka. Dan Allah tidak menganiaya mereka, tetapi merekalah yang selalu menganiaya diri mereka sendiri. (QS. an-Nahl: 33)

 

Inilah yang menjadikan seorang mukmin tidak menuduh atau menyalahkan Allah Rabbul ‘alamin dengan musibah apapun yang menimpa mereka.

 

  1. Bertaubat dan beristighfar kepada Allah.

Dengan kerendahan dirinya di hadapan Allah, yang senantiasa didurhakai dengan berbagai maksiat dan dosa, seorang yang beriman akan segera bertaubat dan istighfar kepada-Nya, memohon ampunan dan meminta dihapuskan kesalahannya. Karena hal itu merupakan solusi terbaik agar dihindarkan dari musibah dan dianugerahi kesejahteraan hidup. Allah menyebutkan seruan Nabi Nuh ‘Alaihi salam kepada kaumnya:

 

Maka aku (Nuh) katakan kepada mereka, “Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan kirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan melimpahkan harta dan anak-anakmu, serta mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nūh: 10-12)

 

  1. Berlindung dan bertawakal kepada Allah..

Musibah pasti akan menimpa, sehingga seseorang hanya bisa berlindung kepada Allah dari buruknya musibah baginya, dan ia berserah diri kepada-Nya semata. Yang demikian sebagai bentuk pengamalan firman Allah dalam surat at-Taubah ayat 51.

Berlindung dan bertawakal dengan menyerahkan segala urusan kepada Allah semata, diiringi berharap kebaikan dari balik musibah yang menimpa dengan melakukan amal shalih kepada-Nya. Begitulah bukti benarnya iman dan takutnya mukmin kepada Allah.

Orang-orang kafir berharap pengampunan dari Allah,, akan tetapi mereka tetap berbuat jahat dan tidak mau taat. Inilah penipuan setan agar manusia hanya merasa takut tetapi tidak mau berusaha untuk menyelamatkan dirinya dari siksaan Allah. Berbeda dengan orang mukmin, mereka berupaya untuk mengamalkan amalan shalih karena cintanya kepada Allah, dan karena takut siksa-Nya. Di antaranya, berupa ditimpakannya musibah. Juga karena berharap ampunan dan rahmat-Nya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufiq kepada kita semua sehingga kita tetap istiqamah di atas iman dan sunnah meski musibah apapun yang terjadi pada diri kita. Amin.

[1] Silakan pelajari QS al-A’raf: 98-99, Yunus: 13, Hud: 27, al-Ahqaf: 25 dll.

[2] Al-Iman bil Qadha’ wal Qadar, Syeikh Muhamad bin Ibrahim Al-Hamud, halm: 106

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *