Empat Hal yang Harus Kita Pertanggungjawabkan

Oleh: Abu Usamah

 

عَنْ أَبِيْ بَرْزَةَ الْأَسْلَمِي قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيْمَ فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيْمَ أَبْلَاهُ

Dari Abu Barzah al-Aslami Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda,

“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba ketika hari kiamat kelak hingga ia ditanya tentang umurnya; untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya; untuk apa dia amalkan, tentang hartanya; dari mana dia dapat dan untuk apa ia belanjakan, dan tentang badannya; untuk apa ia letihkan.” (HR. at-Tirmidzi: 2417, al-Khathib al-Baghdadi dalam Iqtidha’ al-‘Ilmi al-‘Amal, dishahihkan oleh al-Albani dalam as-Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 946)

 

Perbedaan antara orang yang beriman dan orang yang kufur, ialah keyakinan orang mukmin bahwa hidup di dunia merupakan sarana untuk menentukan tempat kembali mereka di akhirat kelak; yang baik maupun yang buruk. Mereka juga meyakini bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, berbeda dengan kehidupan akhirat yang kekal abadi. Karena itulah orang-orang mukmin berupaya mengumpulkan semua sebab yang dapat memperindah keadaan mereka di akhirat dan melaksanakannya. Dan hal ini sangat berbeda keadaannya dengam orang-orang yang kafir yang senantiasa menikmati kelezatan dunia tanpa memikirkan kehidupan akhirat. (QS. Muhammad: 12)

Untuk itu mewujudkan cita-cita di atas, maka mereka selalu menjaga kewajiban mereka ketika berada di dunia, sebelum mereka mempertanggungjawabkannya kelak di akhirat. Yaitu tanggung jawab terhadap empat hal; umur, ilmu, harta, dan badannya semasa hidup di dunia.

 

Tanggung jawab manusia terhadap umur

Nikmat umur yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita merupakan anugerah yang agung. Walaupun usia umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi was salam tergolong pendek bila dibanding dengan umat-umat terdahulu, namun tetap saja kita harus bertanggung jawab terhadap pemberian Allah tersebut. Untuk apakah kehidupan yang singkat itu kita habiskan? Apakah untuk ketaatan atau kedurhakaan?

Di sisi lain kita tahu, bahwa umur yang diberikan oleh Allah tersebut memiliki batas akhir. Sehingga apabila telah datang masa habisnya, tidak ada yang bisa mengakhirkan atau memajukan. (QS. al-A’raf: 34)

Namun sungguh aneh, kebanyakan amaliah manusia menunjukkan bahwa mereka kurang peduli terhadap kenyataan ini. Ketika diseru untuk melaksanakan ketaatan atau bergegas menuju pintu taubat setelah berbuat maksiat, kebanyakan manusia memilih menunda-nunda hingga masa tua. Padahal, siapa yang bisa menjamin jika kita masih bisa bernapas esok hari? Karena itulah tugas kita sebagai hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, ialah selalu waspada dan mempersiapkan laporan pertanggungjawaban setiap saat bila dibutuhkan. Jangan sampai ketika mau datang menjemput, laporan pertanggungjawaban kita terhadap umur yang diberikan oleh Allah masih berantakan dan penuh masalah.

Jangan sampai keadaan kita seperti orang-orang yang digambarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam QS. Fathir ayat 37 berikut ini:

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, “Ya Rabb kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang shalih berlainan dengan yang telah kami kerjakan.” Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (adzab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun.

Tanggung jawab terhadap ilmu

Nikmat selanjutnya yang harus kita pertanggungjawabkan ialah karunia ilmu. Bagai pisau bermata dua, ilmu bisa mendatangkan kebahagiaan bagi pemiliknya, pun bisa menyeret si empunya menuju jurang kebinasaan, sebagaimana orang-orang Yahudi yang dilaknat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam ayat ke-7 dari surat al-Fatihah. Karena itulah, hendaknya kita selalu berhati-hati menjaga nikmat ilmu ini, dengan cara mengamalkannya disertai hati yang ikhlas karena Allah. Karena barangsiapa yang ilmu dan amalnya tersusupi penyakit riya’ atau sum’ah, maka neraka lebih layak baginya.

Hendaknya kita selalu ingat, bahwa salah satu golongan yang menjadi bahan bakar pertama di neraka ialah orang-orang yang mengilmui agama namun ia mengamalkan ilmunya tersebut karena perasaan riya’ dan pujian orang lain. (HR. at-Tirmidzi: 2382, dishahihkan oleh al-Albani)

 

Tanggung jawab terhadap harta

Nikmat selanjutnya yang harus kita pertanggungjawabkan ialah karunia harta kekayaan. Dalam masalah harta, Allah Subhanahu wa Ta’ala membedakannya dari nikmat-nikmat yang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan bertanya mengenai harta kita; dari mana didapat dan untuk apa ia belanjakan. Hal ini menunjukkan bahwa saat kita bermuamalah dengan harta, kita harus senantiasa memperhatikan cara kita mendapatkan harta dan bagaimana cara kita membelanjakannya. Dan pertanyaan seperti ini akan diajukan oleh Allah kepada kita, walaupun harta itu berasal dari yang halal.[1] Inilah yang dimaksud oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam dalam hadits yang shahih, bahwa orang-orang yang banyak harta akan diberatkan dengan hisab dan perhitungan.

اِثْنَتَانِ يَكْرَهُهُمَا ابْنُ آدَمَ : يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَ الْمَوْتُ خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ مِنَ الْفِتْنَةِ وَ يَكْرَهًُ قِلَّةَ الْمَالِ وَ قِلَّةُ الْمَالِ أَقَلُّ لِلْحِسَابِ

 

“Dua hal yang dibenci oleh (kebanyakan) anak Adam; (Pertama) kematian padahal kematian itu lebih baik untuk seorang mukmin daripada tertimpa fitnah (ujian berupa kekufuran, kesesatan, kemaksiatan dan yang lainnya).[2] (Kedua) sedikitnya harta, padahal sedikitnya harta lebih mempersingkat perhitungan.” (HR. Ahmad 5/427, 428, Abu ‘Amru ad-Dani dalam al-Fitan, dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 813)

Namun karena tabiat manusia memang menyukai harta, maka Rasul mengingatkan kita semua agar jangan terlalu menyenangi harta, sebab harta membutuhkan pengelolaan yang benar dan teliti. Jika sampai salah saat mengelolanya, harta tersebut akan menyeret kita ke neraka Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menyala. Sebagai misal, ialah keadaan orang-orang yang tak mau membayar zakat, menyantuni orang miskin dengan hartanya. Mereka pun dilemparkan ke dalam neraka Saqar. (QS. al-Muddatstsir: 39-47)

Maka dari itu, jangan sampai karena perasaan yang serba kurang mendorong kita untuk menghalalkan segala cara demi mendapatkan harta. Karena kita harus yakin, bahwa bagaimanapun kita berlari mengejar harta, jika itu bukan bagian kita maka harta itu tak akan bisa menjadi milik kita. Sebaliknya, bila kita menghindar dari sebuah harta dengan sekuat tenaga, padahal itu telah ditakdirkan menjadi milik kita, maka harta itu pun akan tetap sampai ke tangan kita. Karenanya, supaya laporan pertanggungjawaban kita terhadap harta menjadi bagus dan tertata rapi, hendaknya kita juga selalu mengingat-ingat sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam berikut,

أَيُّهَا النَّاسُ , اتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا , وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا ، فَاتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، خُذُوا مَا حَلَّ ، وَدَعُوا مَا حَرُمَ.

“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah dan perbagusilah cara mencari (rezeki). Karena sesungguhnya suatu jiwa tidak akan mati hingga rezekinya sempurna, meski secara lambat. Maka bertakwalah kepada Allah dan perbagusilah cara mencari (rezeki); ambil yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Ibnu Majah: 2144, al-Hakim dan al-Baihaqi dari sahabat Jabir bin Abdillah, dishahihkan oleh adz-Dzahabi dan al-Albani dalam ash-Shahihah 6/209)

Tanggung jawab terhadap nikmat jasmani

Tanggung jawab keempat yang harus kita ketahui ialah tentang nikmat jasmani yang sehat. Bagaimana cara kita memanfaatkannya dalam rangka ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang terjebak dengan tipu daya setan dengan hal-hal yang diharamkan, bahkan sampai hal-hal yang mubah, dari beribadah kepada Allah. Karena banyak orang yang sangat bugar dan kuat olah raga berjam-jam, namun terasa sangat berat untuk melangkahkan kakinya menuju masjid Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menghabiskan 15 menit untuk menunaikan shalat berjamaah. Jangan sampai kita menjadi orang yang kuat bekerja lembur semalam suntuk untuk mencari uang, namun tak pernah menyempatkan waktu barang 15 menit untuk bersimpuh dalam shalat malam.

Alangkah benar saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam mengatakan,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغ

“Dua hal yang manusia banyak tertipu dengannya; kesehatan dan waktu luang.” (HR. al-Bukhari: 6412)

Akhirnya, semoga Allah selalu memberikan kita istiqamah dalam amal shalih, senantiasa memberi kita taufik agar dapat menyusun catatan laporan pertanggungjawaban untuk kehidupan akhirat kita. Semoga Allah memudahkan perhitungan kita, dengan kemurahan dan kasih-Nya. Amin..

Wallahu alam.

[1] Faidhul Qadir 1/196.

[2] Karena manusia yang masih hidup tidak bisa merasa aman dari datangnya fitnah berupa bencana yang ditakdirkan oleh Allah semisal banjir atau ujian di dalam agama, semisal kemurtadan dan kemaksiatan. (Faidhul Qadir 1/196)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *