Bagaimana Seorang Ibu Mendidik Anak-Anaknya

Bagaimana Seorang Ibu Mendidik Anak-Anaknya 

Oleh: Ust. Abu Bakrin

Sebelum melangkah ke dalam rimba pendidikan, orang tua haruslah berbekal kompas dan peta yang akurat agar mencapai tujuan yang tepat. Salah melangkah dan tidak terarah justru perangkap akan menjerat dan pendidikan akan kiamat. Ditambah lagi godaan dunia semakin memikat sehingga niat awal menjadi berkarat dan orientasi tidak lagi akhirat.Maka kurikulum pendidikan samawi menjadi kebutuhan yang sangat untuk membangun generasi berkaraktersahabat.

 

KARAKTERISTIK PENDIDIKAN SALAF YANG PERLU DIPEDOMANI ORANG TUA DALAM MENDIDIK ANAK:

  1. Hendaknya orang tua memulai mendidik dari umum ke khusus, dimulai dari perkara yang paling urgen yaitu pendidikan imaniyyah.

عن جندب بن عبد الله رضي الله عنه يقول: كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ (أي قَارَبْنَا الْبُلُوْغَ) فَتَعَلَّمْنَا الإِيْمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا إِيْمَاناً (رواه ابن ماجه).

Dari Jundub bin Abdillah a\ ia berkata, “Kami bersama Nabi n\ tatkala mendekati masa baligh. Kami mempelajari iman sebelum al-Qur’an, kemudian barulah kami mempelajari al-Qur’an sehingga bertambahlah keimanan kami.” (HR. Ibnu Majah)

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: كُنتُ خَلفَ النَّبيِّ صلى الله عليه وسلم يومًافقال: يا غُلامُ ! إني أُعَلِّمُكَ كَلِماتٍ، احفَظِ اللهَ يَحفَظكَ

Dari Ibnu Abbas d\ia berkata, “Aku pernah berada di belakang Nabi n\pada suatu hari, Beliau berkata,‘Nak, aku akan ajarkan suatu kata yaitu jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu…’” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi dan lainnya)

عن عبدالله بن عُمر رضي الله عنهما قال: لَقَدْ عِشنَا بُرْهَةً مِنْ دَهرِنَا، وَإِنَّ أَحَدَنَا لَيُؤْتَى الإِيْمَانُ قَبْلَ الْقُرْآنَ، وَتَنْـزِلُ السُّورةُ عَلىَ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم فَنَتَعَلَّمُ حَلاَلَهَا وَحَرَامَهَا, وَمَا يَنْبَغِي أَنْ يُوْقَفَ عِنْدَهُ مِنْهَا, كَمَا تَتَعَلَّمُوْنَ أَنْتُمُ الْيَوْمَ الْقُرْآنَ, وَلَقَدْ رَأَيْتُ الْيَوْمَ رِجَالاً يُؤتَى أَحَدُهُمْ الْقُرْآنَ قَبْلَ الإِيْمَانِ, فَيَقْرَأُ مَا بَيْنَ فَاتِحَتِهِ إلى خَاتِمَتِهِ, مَا يَدْرِي مَا آمُرُهُ، وَلاَ زَاجِرُهُ, وَلاَ مَا يَنْبَغِي أَنْ يُوْقَفَ عِنْدَهُ مِنْهُ, وَيَنْثُرُه نثرَ الدَّقَلِ

Dari Abdillah Ibnu Umar d\ia berkata, “Sungguh kami pernah hidup beberapa waktu, dimana salah seorang kami diberikan pelajaran keimanan sebelum al-Qur’an dan tatkala ada surat yang diturunkan kepada Muhammad n\ kami langsung mempelajari halal haramnya dan batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar sebagaimana kalian hari ini mempelajari al-Qur’an. Sungguh, aku melihat di masa ini orang-orang yang diajari al-Qur’an sebelum diajarkan keimanan.Ia membaca antara al-Fatihah sampai akhir al-Qur’an namun ia tidak mengetahui apa perintah dan larangan serta batasan yang tidak boleh dilanggardan mereka membacanya seperti kurma kering yang rusak (membaca dengan cepat tanpa menadaburinya).” (Dikeluarkan oleh Ibnu Mandah dalam “al-Iman” 207, al-Hakim 1/35, al-Baihaqi dalam “as-Sunan al-Kubra” 3/120 dan dishahihkan oleh Ibnu Mandah dan al-Hakim)

Berkata Syaikh Abu Yazid al-Jazair v\, “Perkataan sahabat,‘Kami mempelajari iman sebelum al-Qur’an,’memiliki beberapa makna:

  1. Mereka mempelajari iman secara global, terutama iman yang bersifat fardhu ‘ain sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah v\.
  2. Mereka mengimani Allah dan Rasul-Nya serta keshahihan apa yang dibawa dari Islam dan iman, sehingga hati mereka menjadi tenang (dalam keimanan) sebelum membaca al-Qur’an. Demikian pula mereka tidak hanya mempelajari lafazh al-Qur’an, namun halal haram, perintah dan larangan serta batasan yang tidak boleh dilanggar.
  3. Mereka mempelajari keimanantentang al-Qur’an lebih dulu. (kulalsalafiyeen.com)

Lantas, bagaimana cara mengajarkan iman ini? Bisa dengan dua cara:

  • Tafakur ayat-ayat Allahal-mar’iyyah (yang terlihat).
  • Tafakur pada ayat-ayat pertama yang turun kepada para sahabat yang telah membentuk iman yang kokoh seperti gunung di dada mereka. (Al-Iman qabla al-Qur’an, Syaikh ‘Isham Ibnu Shalih al-‘Uwaid[www.tafsir.net])

 

Berkata Dzu an-Nun al-Mishri v\:

مَرَرْتُ بِأَرْضِ مِصْرَ، فَرَأَيْتُ الصِّبْيَانَ يَرْمُوْنَ رَجُلاً بِالْحِجارةِ، فَقُلْتُ لَهُمْ: مَا تُرِيْدُوْنَ مِنْهَ ؟فَقَالُوا: يَزْعُمُ أَنَّهُ يَرَى اللهَ عزَّ وجلَّ … “

            “Aku pernah melewati negeri Mesir.Aku melihat anak-anak kecil melempar seseorang denganbatu. Aku bertanya kepada mereka,‘Apa mau kalian terhadapnya?!’Mereka berkata,‘Ia mengaku melihatAllahw\.’” (‘Uqala’ al-Majanin, Dharrab hal. 14)

 

Berkata Abu Hurairah a\ kepada para pengajar kuttab,

يا مُعلِّم الكُتَّابِ، اِجْمَعْ لي غِلمَانَكَ، فَيَجْمَعُهُمْ، فَيَقُوْلُ: قُلْ لَهُمْ: فَلْيَنْصِتُوا، أَيّ بَنِي أَخِي، أفْهِمُوا مَا أَقُوْلُ لَكُمْ، أَمَا يُدْرِكُنَّ أحدٌ مِنْكُم عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّهُ شابٌ وَضِيْءٌ أَحْمَرُ، فَلْيَقْرَأْ عَلَيْهِ مِنْ أَبِي هُرَيْرَة السَّلامَ.فَلاَ يَمُرُّ عَلىَ مُعَلِّمِ كُتَّابٍ إلا قَالَ لِغِلْمَانِهِ مِثْلَ ذَلِكَ.

“Wahai Pengajar kuttab, kumpulkan di hadapan saya murid-muridmu!”Makamereka dikumpulkan.Abu Hurairah berkata kepada mereka, “Katakan kepada mereka untuk diam!”Maka mereka didiamkan.Beliau berkata, “Wahai anak saudaraku, pahami yang aku akan katakan! Siapa saja diantara kalian yangmenjumpai Isa bin Maryam maka ketahuilah, bahwa ia adalah seorang pemuda tampan berkulit merah.Sampaikan salam Abu Hurairah kepadanya.”Maka tidaklah beliaumelewatipara pengajar kuttab melainkan ia berkata seperti itu kepada anak didik mereka.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah no. 19368)

 

  1. Hendaknya orang tua menyerahkan pendidikan anaknya kepadapendidik rabbani.

Berkata ‘Utbah Ibnu Abi Sufyan v\ kepada pendidik anaknya:

لِيَكُنْ أَوَّلُ مَا تَبْدَأُ بِهِ مِنْ إِصْلاَحِكَ بَنِيَّ إِصْلاَحَكَ نَفْسَكَ، فَإِنَّ أَعْيُنَهُمْ مَعْقُوْدَةٌ بِعَيْنِكَ، فَالْحَسَنُ عِنْدَهُمْ مَا اسْتَحْسَنْتَ، وَالْقَبِيْحُ عِنْدَهُمْ مَا اسْتَقْبَحْتَ.عَلِّمْهُمْ كِتَابَ اللهِ، وَلاَ تُكْرِهُهُمْ عَلَيْهِ فيَمَلُّوْهُ، وَلاَ تَتْرُكُهُمْ مِنْهُ فَيَهْجُرُوْهُ. ثُمَّ رَوَّهُمْ مِنَ الشَّعْرِ أَعَفَّهُ، وَمِنَ الْحَدِيْثِ أَشْرَفَهُ. وَلاَ تُخْرِجُهُمْ مِنْ عِلْمٍ إِلىَ غَيْرِهِ حَتَّى يُحْكِمُوْهُ، فَإِنَّ ازْدِحَامَ الْكَلاَمِ فِي السَّمْعِ مَضَلَّةٌ لِلْفَهْمِ

“Hendaknya perbaikan pertama pada diri anak saya adalah perbaikan dirimu sendiri, karena pandangannya tertuju kepadamu. Yang baik menurut mereka adalah apa yang engkau perbuat dan yang jelek bagi mereka adalah apa yang engkau tinggalkan. Ajari mereka Kitabullah dan jangan dipaksa sehingga ia menjadi bosan serta jangan engkau tinggalkan mereka tidak mempelajari Kitabullah sehingga mereka meninggalkannya.Kemudianajarkan syair yang menjaga ‘iffah, haditsyang paling pentingserta jangan engkau pindahkan ia ke ilmu lain sampai dia mahir terlebih dahulu, karena banyaknya perkataan dalam pendengaran berakibat besar membuat tidak paham.” (Dikeluarkan oleh Abu Utsman al-Jahizh dalam “al-Bayan wa at-Tabyin” 2/35-36 dan Ibnu Abi ad-Dunya dalam “al-‘Iyal” 1/470)

Para salaf tidaklah menyerahkan anak-anak mereka kecuali kepada pengajar yang baik akhlaknya dan terpenuhi syarat-syarat kedewasaan, diantaranya ia terkenal dengan istiqamah dan ‘afaf (menjaga diri), kredibilitas yang tinggi disertai pengetahuan dan pengalaman mereka yang mendalam tentang al-Qur’an dan ilmu-ilmunya. Fuqaha muslimin telah menetapkan syarat-syarat yang harus dipenuhi bagi para pengajar kuttab.Al-Qabisi menyebutkan diantara syaratnya, hendaknya pengajar adalah orang yang lembut tidak kasar, bukan orang yang suka cemberut maupun marah, tidak menyulitkan, bisa menemani anak dan mampu mengajarkan adab kepada anak-anak untuk kemaslahatan mereka. (Adab al-Mu’alimin hal. 47)

Sebagian lagi mensyaratkan bagi pengajar, hendaknya ia adalah ahli shalah wal ‘amanah wal ‘iffah, hafal al-Qur’an, tulisannya bagus, bisa berhitung dan lebih baik adalah yang sudah menikah. Mereka tidak menganjurkan yang membujang untuk membuka kuttab, kecuali setelah ia menjadi Syaikh Kabir(Guru Besar) yang terkenal dengan agama dan kebaikannya serta ahli dalam mengajar. (Ma’alim al-Qurbahfi Ahkam al-Husbah hal. 260)

 

  1. Hendaknya orang tuamenitikberatkan pada pendidikan akhlak dan tingkah laku.

Berkata Makhlad Ibnu al-Husain v\ kepada Abdullah Ibnu al-Mubarak v\, “Kita lebih banyak butuh kepada adab dibandingkanbanyaknya hadits.” (Al-Jami’, al-Khatib al-Baghdadi 1/80)

Berkata Abdullah Ibnul Mubarak v\, “Aku mempelajari adab selama tiga puluh tahun dan aku mempelajari ilmu dua puluh tahun.Mereka (para sahabat) mempelajari adab terlebih dahulu baru kemudian belajar ilmu.” (Tartib al-Madarikwa Taqrib al-Masalik3/39)

 

  1. Memprioritaskan menghafal al-Qur’an sebelum yang lainnya.

قال شيخ الإسلام ابن تيمية – رحمه الله -: (وَأَمَّا طَلَبُ حِفْظِ الْقُرْآنِ فَهُوَ مُقَدَّمٌ عَلىَ كَثِيْرٍ مِمَّا تُسَمِّيْهِ النَّاسُ عِلْماً وَهُوَ إِمَّا بَاطِلٌ أَوْ قَلِيْلُ النَّفْعِ. وَهُوَ أَيْضاً مَقَدَّمٌ فِي التَّعَلُّمِ فِي حَقِّ مَنْ يُرِيْدُ أَنْ يَتَعَلَّمَ عِلْمَ الدِّيْنِ مِنَ الأصُوُلِ وَالْفُرُوْعِ، فَإِنَّ الْمَشْرُوْعَ فِي حَقِّ مِثْلِ هَذَا فِي هَذِهِ الأَوْقَاتِ أَنْ يَبْدَأَ بِحِفْظِ الْقُرْآنِ فَإِنَّهُ أَصْلُ عُلُوْمِ الدِّيْنِ).

Berkata SyaikhulIslam Ibnu Taimiyyah v\, “Adapun mempelajari hafalan al-Qur’an lebih didahulukan daripada pelajaran yang disebut orang sebagai ilmu, baik itu yang batil ataupun yang sedikit manfaatnya.Ini juga lebih diprioritaskan bagi orang yang ingin mempelajari ilmu agama, baik ushul maupun furu’nya, makahendaknya orang-orang seperti ini pada zaman sekarang memulai dengan menghafal al-Qur’an, karena itu adalah fondasi agama.” (Majmu’ al-Fatawa12/35)

Berkata Ibnu Abdil Barr v\, “Awal dari ilmu adalah menghafal Kitabullahw\ dan memahaminya serta semua ilmu alat untuk memahaminya maka wajib mempelajarinya, namun aku tidak mengatakan itu hukumnya fardhu, tetapi itu adalah syarat wajib bagi yang ingin menjadi seorang alim, faqih dan kokoh di atas ilmu.” (Jami’Bayanal-‘IlmiwaFadhlihi 2/1129)

 

  1. PendidikanSalaf memperhatikan karakter dan bakat anak didik.

IbnulQayyim v\ berkata:

( وَمِمَّا يَنْبَغِي أَنْ يُعْتَمَدَ حَالُ الصَّبِي ، وَمَا هُوَ مُسْتَعِدٌّ لَهُ مِنَ الأَعْمَالِ، وَمُهَيَّأٌ لَهُ مِنْهَا، فَيَعْلَمُ أنَّهُ مَخْلُوْقٌ لِذَلِكَ الْعَمَلِ فَلاَ يُحَمِّلُهُ عَلىَ غَيْرِهِ ، فَإِنَّهُ إِنْ حَمَّلَهُ عَلىَ غَيْرِ مَا هُوَ مُسْتَعِدٌ لَهُ لَمْ يُفِلحْ فِيْهِ ، وَفَاتَهُ مَا هُوَ مُهَيَّأٌ لَهُ ، فَإِذَا رَآهُ حَسَنَ الْفَهْمِ، صَحِيْحَ الإِدْرَاكِ، جَيِّدَ الْحِفْظِ وَاعِياً ، فَهِذِهِ مِنْ عَلاَمَاتِ قَبُوْلِهِ وَتَهَيُّؤِهِ لِلْعِلْمِ(

“Hendaknya yang dijadikan pegangan adalah keadaan sang anak dan apa yang menjadi bakatnya serta kesiapannya diciptakan untuk pekerjaan tersebut, jangan diarahkan kepada hal lainnyayang bukan bakatnya.Sebabia tidak akan pernah beruntung dan akan terluputsesuatu yang menjadi bakatnya. Apabila orang tua melihatnya bagus pemahamannya, jitu pikirannya, hafalannya kuat, brilian maka ini adalah tanda ia(dapat) menerima dan berbakat mempelajari ilmu.” (Tuhfah al-Maududfi Ahkam al-Mauludhal. 243-244)

Ibnul Qayyimv\ berkata dalam kesempatan lain, “Apabila (orang tua/pendidik) melihat anak lebih siap mempelajari keperwiraan dan sarana penunjangnya seperti; berkuda, memanah, menombak dan ia tidak memiliki bakat (mendalami) ilmu serta tak ada minatnya maka hendaknya diarahkan kepada sarana-sarana tersebut dan dilatih, karena itu akan lebih bermanfaat bagi kaum muslimin.” (At-Tarbiyah al-Badaniyyahwa ar-Riyadhiyyah fi at-Turatshal. 77)

 

  1. Bersabardengan kekurangan pada diri anak serta tidak membebani di luar kemampuannya.

Anak bukanlah miniatur orang dewasa.Mereka bukanlah robot yang harus dipaksa memahami semua ilmu dalam sekejap. Merekatetap butuh bermain dan berinteraksi, karena itu adalah bagian dari proses pembelajaran. Kekurangannya dari satu sisi adalah kelebihannya dari sisi yang lain. Maka janganlah mereka dijadikan objek menjaga “nama baik dan harga diri orang tua”, karena kita hanya berusaha,sedangkan hasilnya tetap di tangan Allah q\.

 

Dalam Thabaqat asy-Syafi’iyyah dikisahkan, bahwa ar-Rabi’ Ibnu Sulaiman v\ adalah seorang yang lamban pemahamannya. Al-Imam asy-Syafi’iv\ mengulangi (menjelaskan) satu masalah sampai empat puluh kali, namun ia tidak paham-paham. (!!)Maka Rabi’ berdiri dari majelisnya dengan tertunduk malu.Imam asy-Syafi’i pun memanggilnya dan mengajaknya menyendiri, kemudian mengulangi penjelasan tersebut sampai Rabi’paham. Imam asy-Syafi’i berkata, “Seandainya aku mampu untuk menyuapimu ilmu maka aku akan lakukan….” (Thabaqat asy-Syafi’iyyah 2/134)

Wallahu a’lam.


Kutipan,

Ibnul Qayyim v\ berkata dalam kesempatan lain, “Apabila (orang tua/pendidik) melihat anak lebih siap mempelajari keperwiraan dan sarana penunjangnya seperti; berkuda, memanah, menombak dan ia tidak memiliki bakat (mendalami) ilmu serta tak ada minatnya maka hendaknya diarahkan kepada sarana-sarana tersebut dan dilatih, karena itu akan lebih bermanfaat bagi kaum muslimin.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *