Fadhilah dan Keutamaan Kalimat Tauhid

Fadhilah dan Keutamaan Kalimat Tauhid 

Oleh: Abi Usamah

Agama Islam tidak akan diterima tanpa mengikrarkan kalimat tauhid, La ilaha illallah. Kalimat yang pendek namun memiliki fadhilah dan keutamaan yang tiada banding. Cukuplah sebagai keutamaan kalimat tauhid ini karena ia menjadi syiar seluruh Rasul utusan Allah ﷻ dan sebagai syarat masuk ke dalam surga-Nya yang penuh nikmat. Lantas, bagaimana pula bila ia memiliki keutamaan dan fadhilah lain yang sangat banyak?

Ternyata ada syaratnya

 Nash-nash syar’i yang menyebutkan banyak fadhilah dan faedah dari kalimat tauhid ‘La ilaha illallah’ tidaklah bisa didapat oleh setiap orang yang mengucapkan kalimat tersebut. Bahkan harus memenuhi syarat dan ketentuannya dan dibersihkan dari segala yang membatalkannya. Sebagaimana shalat tidak akan diterima dan bermanfaat bagi pelakunya kecuali dengan memenuhi syarat serta bersih dari hal-hal yang membatalkannya, demikian pula manfaat yang dijanjikan bagi para pengucap kalimat tauhid ini.

Dahulu Wahb bin Munabbih v\ ditanya, “Bukankah kunci surga itu adalah kalimat La ilaha illallah?” Beliau menjawab, “Tentu saja. Akan tetapi setiap kunci pasti memiliki gerigi. Jika engkau membawa kunci yang memiliki gerigi, niscaya pintu dapat terbuka. Jika kuncimu tak memiliki gerigi, tentu tak akan bisa terbuka.”

Al-Hasan al-Bashri v\ pun pernah mendengar orang-orang berkata, “Siapa saja yang mengucapkan ‘La ilaha illallah’ maka akan masuk surga.” Maka al-Hasan  pun meluruskan, “Siapa pun yang mengucapkan ‘La ilaha illallah’, menunaikan hak dan kewajibannya maka ia masuk surga.”[1]

Lihatlah pula orang-orang munafik yang hidup di masa Rasulullah ﷺ. Mereka tak mendapatkan manfaat dari kalimat tauhid yang biasa mereka ucapkan.

Fadhilah dan keutamaan kalimat tauhid

Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali v\ telah menulis sebuah risalah kecil tentang fadhilah kalimat tauhid ini. Beliau memberinya judul Kalimat al-Ikhlash wa Tahqiq Ma’naha. Ibnu Rajab v\ menyebutkan 17 keutamaan dan fadhilah dari kalimat tauhid ini, lengkap bersama dalil-dalilnya.[2]

Berikut ini di antara fadhilah dari kalimat tauhid yang datang dalam hadits-hadits shahih kepada kita:

  1. Merupakan harga atau penebus surga.

Suatu saat Nabi ﷺ mendengar muadzin mengucapkan ‘Asyhadu alla ilaha illallah’. Lalu beliau ﷺ mengatakan pada muadzin tadi,

خَرَجْتَ مِنَ النَّارِ

Engkau terbebas dari neraka.” (HR. Muslim: 873)

Nabi ﷺ juga bersabda,

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

“Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘La ilaha illallah’, maka dia akan masuk surga.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh al-Albani dalam al-Misykah no. 1621)

  1. Menjadi kunci 8 pintu surga.

Orang yang mengucapkannya bisa masuk lewat pintu mana saja yang dia sukai. Nabi ﷺ bersabda,

مَنْ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللهِ وَابْنُ أَمَتِهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللهُ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ

Barangsiapa mengucapkan ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan (bersaksi) bahwa Isa adalah hamba Allah dan anak dari hamba-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam serta Roh dari-Nya, dan (bersaksi pula) bahwa surga adalah benar adanya dan neraka pun benar adanya, maka Allah pasti akan memasukkannya ke dalam surga dari delapan pintu surga yang mana saja yang dia kehendaki.” (HR. Muslim no. 149)

  1. Merupakan dzikir yang paling utama.

Hal ini sebagaimana terdapat pada hadits yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam (hadits marfu’),

أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

”Dzikir yang paling utama adalah bacaan ‘La ilaha illallah’.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 1104)

  1. Tak ada yang lebih berat di mizan (timbangan ketika hari kiamat) melebihi kalimat tauhid.

Rasulullah ﷺ pernah menjelaskan tentang seseorang yang tak pernah melakukan kebaikan sama sekali, pada hari kiamat ia dihadapkan pada timbangan amalnya. Hampir putus asa, tiba-tiba …

…فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ فِيهَا : أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، قَالَ : فَيَقُولُ : يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ ، مَعَ هَذِهِ السِّجِلاَّتِ ؟ فَيَقُولُ : إِنَّكَ لاَ تُظْلَمُ ، فَتُوضَعُ السِّجِلاَّتُ فِي كِفَّةٍ ، وَالْبِطَاقَةُ فِي كِفَّةٍ ، فَطَاشَتِ السِّجِلاَّتُ ، وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ.

“… Maka dikeluarkanlah secarik kartu kecil miliknya. Di dalamnya ada bunyi, ‘Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.’ Orang itu berkata, ‘Ya Rabbi, apa fungsi secarik kertas ini bila dibanding dengan tumpukan kesalahanku itu?’ Allah berkata, ‘Kau sekarang tak akan dizalimi.’ Lantas tumpukan catatan amal kejelekan itu diletakkan di salah satu neraca, sedangkan kartu kecil itu diletakkan di neraca satunya. Catatan amal kejelekan itu pun naik, sedang kartu kecil (kalimat tauhid) itu pun lebih berat.” (HR. at-Tirmidzi: 2639, Ibnu Majah: 4300, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 1776)

  1. Kunci diampuninya segala dosa.

Rasulullah ﷺ meriwayatkan dalam hadits qudsi, dari Allah ﷻ, berfirman:

… يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا ، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

“Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan sepenuh bumi kesalahan (dosa), kemudian engkau menjumpai-Ku dalam keadaan tidak pernah menyekutukan Aku dengan suatu apa pun, niscaya Aku akan datangkan sepenuh bumi pula ampunan.” (HR. at-Tirmidzi, dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah 1/200)

Masih banyak lagi fadhilah dan keutamaan dari kalimat tauhid ini. Namun demikian, yang harus tetap diingat, bahwa fadhilah-fadhilah tersebut tidak akan dapat dinikmati jika kita pun tak pernah mempelajari tauhid, kandungannya serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu a’lam 


[1] Tahdzib Tashil al-‘Aqidah al-Islamiyyah hal. 33.

[2] Kalimat al-Ikhlash hal. 54 dan setelahnya, cet. Maktab Islami, Beirut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *