Meneladani Nabi ﷺ di Kala Pagi dan Sore Hari

Meneladani Nabi ﷺ di Kala Pagi dan Sore Hari 

Oleh: Abu Ilyas Zaenal Musthofa

أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ الْإِسْلاَمِ وَعَلَى كَلِمَةِ الإِخْلاَصِ وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى مِلَّةِ أَبَيْنَا إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفاً مُسْلِماً وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

“Di pagi hari ini kami berada di atas fitrah Islam, kalimat ikhlas, agama Nabi kami Muhammad dan agama Bapak kami Ibrahim yang condong kepada agama yang lurus sebagai muslim dan kami tidak termasuk orang-orang musyrik.” (HR. Ahmad 3/406, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 4674)

Makna Kalimat:[1]

  1. Sabda nabi فِطْرَةِ الْإِسْلاَمِ maksudnya di atas agama yang benar. Fitrah juga bermakna as-Sunnah, yakni suatu jalan atau ajaran yang benar dan lurus tanpa ada penyimpangan di dalamnya.
  2. Sedangkan yang dimaksud وَعَلَى كَلِمَةِ الإِخْلاَصِ adalah dua kalimat syahadat.
  3. Sabda beliau وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ maknanya adalah agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ. Ini lebih khusus daripada kalimat sebelumnya karena agama semua para Nabi dinamakan Islam. Rasulullah mengucapkan kalimat ini dengan keras agar didengar oleh orang lain dan untuk memberikan pengajaran kepada mereka.
  4. Adapun sabda beliau وَعَلَى مِلَّةِ أَبَيْنَا إِبْرَاهِيْمَ maksudnya adalah pokok-pokok agama dan beberapa cabangnya, semisal khitan dan sebagainya.
  5. Kalimat وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ berfungsi sebagai bantahan terhadap orang-orang kafir Quraisy yang mengatakan, “Kami berada di atas ajaran Ibrahim.” Padahal Nabi Ibrahim p\ sendiri bukan termasuk orang yang berbuat syirik. Mereka juga tidak mau beriman kepada Nabi Muhammad dan ajaran yang dibawanya. Oleh Karena itu, tidaklah benar pengakuan mereka sebagai pengikut Nabi Ibrahim.

Faedah:

  1. Hadits ini bersumber dari sahabat yang mulia Abdurrahman bin Abza al-Khuza’i a\. Beliau adalah maula (bekas budak)nya Nafi’ bin al-Harits al-Khuza’i. Beliau tinggal di kota Kufah. Beliau pernah diangkat sebagai Amil pada pemerintahan Ali bin Abi Thalib a\ di Khurasan.[2]
  2. Rasulullah ﷺ menyebut Nabi Ibrahim p\ sebagai “Bapak kami,” karena beliau adalah nenek moyang bangsa Arab dari jalur Isma’il.
  3. Dalam surat an-Nahl ayat 120, Allah ﷻ berfirman dalam rangka menyifati Nabi Ibrahim :
اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ كَانَ اُمَّةً قَانِتًا لِّلّٰهِ حَنِيْفًاۗ وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَۙ

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Allah). (QS. an-Nahl: 120)

Beliau mendapatkan sifat ini dari Allah dikarenakan telah memurnikan tauhid kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Beliau berlepas diri dari kesyirikan dan para pelakunya, membenci, mengingkari serta memusuhi mereka.[3] Oleh karena itu kita diperintahkan untuk meneladani beliau dalam memurnikan tauhid kepada Allah p\.

  1. Doa ini dibaca ketika pagi hari (antara selesai shalat Shubuh hingga matahari terbit). Ketika sore hari (antara selesai shalat Ashar hingga terbenam matahari) kalimat أَصْبَحْنَا diganti menjadi أَمْسَيْنَا artinya: “Pada sore ini kami berada..”

Semoga kita bisa meneladani Rasulullah ﷺ pada setiap sisi kehidupan kita. Amin.


[1] Mirqat al-Mafatih 5/325, Syarh Hishnul Muslim (terjemahan) hal. 230.

[2] Al-Istii’ab 2: 822

[3] Fath al-Majiid Lisyarh Kitaab at-Tauhiid hal.53

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *