Orang Muslim; Sehat Jiwanya, Kuat Raganya

Kesempurnaan agama Islam nampak dalam semua syariatnya. Para peneliti, baik muslim maupun non-muslim yang objektif, pasti akan sepakat bahwa syariat yang dibawa oleh agama Islam amatlah lengkap. Semua ajarannya mengandung kebaikan dunia dan akhirat. Salah satu yang sangat nampak ialah syariat Islam yang membawa nilai kesehatan. Baik itu kesehatan jiwa maupun jasmani. Tak ada satu agama pun yang sanggup menyeimbangkan antara aturan-aturan yang memperbaiki aspek kesehatan rohani dan aturan-aturan yang memperbaiki kesehatan jasmani dalam racikan yang sempurna.

Dimulai dari keyakinan dan ajaran rukun iman serta konsekuensinya yang membuahkan ketenangan dalam jiwa serta menguatkan energi positifnya. Hingga dalam detail-detail syariat dari semisal ibadah shalat, puasa sampaipun adab makan dan minum maupun etika bersuci. Semua telah ditakar secara seimbang sehingga sangat bermanfaat bagi kehidupan pemeluknya.

Kita sebagai muslim, hendaknya selalu mengingat-ingat dua aspek kesehatan yang telah dibawa oleh ajaran Islam; aspek kesehatan jiwa dan kesehatan jasmani. Jangan hanya berlaku berat sebelah, dengan hanya mementingkan salah satu aspek dan meninggalkan yang lainnya.

Ingat, Rasulullah ﷺ pernah mengatakan, bahwa seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah ﷻ dari seorang mukmin yang lemah. Walaupun kedua model mukmin itu pada asalnya sudah baik, namun seorang mukmin yang sehat dan kuat memiliki nilai lebih di hadapan Allah.

Sebaliknya, jangan sampai pula melulu sibuk mengurusi kesehatan fisik, namun kesehatan rohani yang ada di dalam hati dibiarkan kering. Sebab, dahulu Khalid bin Walid pernah meratapi nasibnya yang terlalu sibuk mengurusi jihad sehingga sangat sedikit mendapat kesempatan untuk membaca al-Qur’an dan menadaburinya. Hal ini menunjukkan, bahwa menjaga kesehatan rohani juga amat penting. Hal lain yang menunjukkan pentingnya menjaga kesehatan rohani ini juga, bahwa Allah ﷻ mensyariatkan shalat fardhu sebanyak lima kali dalam sehari semalam. Ini mengisyaratkan, bahwa agar jangan sampai kesehatan rohani seorang hamba melemah akibat jarang berinteraksi dengan Allah ﷻ dalam shalat.

Intinya, semua harus seimbang. Orang muslim, sebagaimana dijelaskan oleh Allah ﷻ, mereka adalah orang yang ‘wasath’ alias paling adil dan proporsional. Karena itulah, jaga terus kesehatan jiwa dan raga kita dalam porsi yang seimbang. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *