Si Kecil Sulit Makan? Kenali Sebab-Sebab dan Tips Mengatasinya 

Si Kecil Sulit Makan? Kenali Sebab-Sebab dan Tips Mengatasinya 

Oleh: WidyastutiHusadani, SPsi.

Pada usia 6 bulan umumnya bayi mulai diperkenalkan dengan makanan pendamping ASI. Tidak semua anak merespon positif terhadap makanan selain ASI.Namun kondisi ini belum menjadi masalah, karena si kecil masih mendapatkan gizi yang cukup dari ASI.

Adapun ketika anak berusia 2 tahun, atau sudah saatnya disapih, maka makan menjadi sebuah keharusan.Tanpa makan, anak akan mengalami kekurangan asupan gizi yang dapat menimbulkan masalah kesehatan dan hambatan perkembangan. Pada titik inilah banyak orang tua yang baru merasakan bagaimana sulitnya mengajari anak untuk makan. Kesulitan semacam ini tidak perlu terjadi bila orang tua telah menjalankan tahap-tahap pengenalan makan kepada anak sesuai usia, serta menghindari hal-hal yang dapat menyebabkan anak sulit makan.

ANEKA MODEL PERILAKU ANAK SULIT MAKAN

Ada empat model perilaku anak yang sulit makan[1], yaitu:

  1. Makannya tergantung rasa. Yaitu tipe anak yang hanya mau memakan makanan yang tidak menimbulkan rasa pahit atau rasa aneh lainnya di lidah, baik karena rasa, tekstur maupun baunya. Konon anak-anak semacam ini secara genetik lebih sensitif terhadap rasa pahit dibanding umumnya anak.Misalnya, ketika memakan sayuran hijau seperti brokoli dan sawi.Karena itu mereka membutuhkan waktu lebih lama sebelum mau mengonsumsi sayuran.
  2. Makannya pilih-pilih. Yaitu tipe anak yang cenderung menolak makan jenis makanan yang tidak ia kenal sebelumnya, atau jenis makanan yang bercampur aduk (seperti gado-gado).
  3. Yaitu tipe anak yang hanya mau makan bila makanan disediakan dengan cara yang sesuai dengan tuntutannya. Misalnya, harus dihidangkan terpisah antara nasi, kuah, sayur, dan lauk pauknya.
  4. Menanggapi makan dengan perilaku. Yaitu tipe anak yang menolak makan dengan cara mendekam dalam kamar tidak mau keluar atau bahkan tersedak saat makan,apabilamerasa ada yang tidak cocok dengan makanan yang dihidangkan. Ketidakcocokan tersebut bisa jadi karena ia merasa ada ketidaksesuaiankombinasi menu. Atau bisa juga hanya karenaia belum diberitahu menu apa saja yang disediakan di meja makan.
FAKTOR PENYEBAB ANAK SULIT MAKAN

Ada beberapa hal yang diduga menjadi penyebab munculnya perilaku anak sulit makan, di antaranya adalah:[2]

  1. Kelahiran prematur.

Anak-anak yang lahir prematur seringkali mengalami kesulitan dalam makan, sehingga mengalami hambatan dalam pertumbuhan dan dalam kenaikan berat badan.

  1. Naiknya asam lambung[3] (acid reflux).

Banyak anak yang dirawat inap di RS akibat masalah asam lambung.Rupanya kondisi ini banyak dialami anak-anak tanpa diketahui orang tua. Kemampuan bahasa yang masih terbatas menyebabkan anak sulit mengungkapkan apa yang ia rasakan dalam perutnya.Perasaan tak nyaman yang timbul setiap kali ia makan membuatnya tidak suka makan. Bahkan baginya, makan berkaitan erat dengan rasa sakit.

  1. Gangguan otot mulut.

Anak-anak yang belum mampu mengunyah makanan dengan baik mudah merasa mual ingin muntah setelah makan.Hal ini menyebabkan mereka menjadi tidak suka makan.

  1. Terlalu sensitif.

Sebagian anak memiliki indrapengecap yang hipersensitif terhadap rasa pahit, atau tekstur dan bau makanan tertentu. Hal ini membuat mereka tidak mau makan beberapa jenis makanan.

  1. Takut makanan baru.

Hal-hal baru seringkali menyebabkan rasa waswas.Demikianlah perasaan sebagian anak ketika mereka berjumpa dengan jenis makanan yang baru.

  1. Anak ingin menampakkan kontrol atas dirinya sendiri.

Pada usia tertentu, anak mulai berkeinginan untuk menunjukkan bahwa ia berkuasa atas dirinya sendiri, bukan ayah ibunya. Hal ini diwujudkan dalam bentuk sikap membantah. Termasuk di antaranya adalah ketika disuruh makan, ia pun mencoba membantah dengan beralasan ini dan itu.

  1. Kebiasaan buruk orang tua:
  2. Menawarkan hadiah atau memberi ancaman. “Habiskan makanmu, nanti ummi kasih kue!” Atau, “Kalaubelum selesai makannya,nggak boleh main!” Dalam jangka panjang, anak akancenderung membalik trik ini menjadi sebuah tuntutan. Artinya, setelah makan ia harus mendapat kue atau harus diperbolehkan main. Bila tuntutan tidak dipenuhi, ia pun tak mau makan.
  3. Menyediakan menu khusus. Yaitu menyediakan menu yang berbeda dengan menu keluarga bagi anak tertentu. Hal ini membuat anak tidak pernah merasa belajar menyesuaikan diri dengan makanan yang ada.
  4. Satu suapan lagi. “Sudah kenyang? Satu suapan lagi ya…” atau, “Ayo… tiga suapan lagi.Habisitu boleh main.”Nyatanya, kita kurang sadar, bahwa anak perlu belajar mengukur kebutuhan makannya sendiri. Ketika ia berkata sudah kenyang tetapi ayah ibu menyuruhnya lagi, hal ini dapat membuat anak terbiasa makanmelebihi kapasitasnya dan akhirnya bisa menyebabkan kegemukan. Atau sebaliknya, anak menjadi ngambek, atau menunjukkan sikap-sikap lain yang mempersulit kegiatan makan.
MENYIASATI ANAK YANG SULIT MAKAN

Bila putra/putri Anda tergolong anak-anak yang sulit untuk makan, cobalah tips dari Tanya Altmann (dokter anak) dan Beth Saltz (ahli gizi)[4] berikut ini untuk mengatasinya:

  1. Bila anak tidak suka makan sayur dan buah.

Anda cukup menghidangkannya untuk keluarga dan kemudian memakannya bersama-sama.Tidak perlu memaksa si kecil untuk ikut memakannya. Secara alami, anak akan ingin meniru apa yang Anda lakukan.

  1. Tidak perlu terlalu mengatur apa dan bagaimana si kecil makan.

Anda hanya perlu menghidangkan makanan di meja. Biarkan anak menentukan sendiri apa yang ia makan, seberapa banyak, dan bahkan bila ia ingin tidak makan.

  1. Jangan merayu, jangan menyuap (menawarkan hadiah).

Makan adalah kebutuhan yang mendasar bagi setiap orang. Karena itu, ketika anak lapar, otomatis ia akan makan. Merayu dan menyuap hanya akan membuat anak belajar memanfaatkan keadaan untuk mendapatkan apa yang ia inginkan dari orang tua.

  1. Terus mencoba.

Bisa jadi Anda harus menawarkannya sebanyak 12 kali sebelum anak mau mulai mencoba jenis makanan yang baru.

  1. Jangan mengkhawatirkan kecukupanasupan sayuran pada anak.

Lebih baik Anda keluarkan energi untuk mencoba ide-ide pengolahan sayuran yang mungkin akan membuat si kecil tertarik untuk memakannya.

  1. Anak-anak yang masih sangat kecil tidak boleh menentukan bahan makanan apa yang akan Anda beli atau masak.

Hal ini dimaksudkan agar mereka tidak terbiasa makan menuruti keinginan, melainkan makan apapun yang disediakan untuk dimakan.

MENCEGAH MUNCULNYA PERILAKU SULIT MAKAN

Mengatasi perilaku anak yang sulit makan bukanlah perkara mudah.Selagi belum terjadi, lakukan upaya pencegahan agar tidak kesulitan di kemudian hari.Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para orang tua agar si kecil tidak tumbuh menjadi seorang anak yang sulit makan[5], yaitu:

  1. Mulai belajar makan dengan tangan pada usia 8 bulan.

Pada usia 8 bulan hendaknya anak mulai dilatih untuk makan sesuatu dengan jari-jarinya. Kelalaian pada tahap ini dapat menyebabkan anak mengalami hambatan dalam perkembangan keterampilan motorik halus, menyebabkan terbatasnya variasi selera makan, dan akhirnya menjadi anak yang sulit makan.

  1. Menunda makan makanan manis hingga usia 2 tahun.

Mengenal makanan manis pada usia terlalu dini dapat membentuk selera lidah anak untuk cenderung menggemari makanan manis, membatasi variasi selera makannya, mempersulit konsumsi makanan bergizi, sehingga berpeluang mengalami kekurangan nutrisi-nutrisi yang penting untuk pertumbuhannya.

  1. Perhatikan konsumsi susu dan yang sejenisnya.

Terlalu banyak konsumsi susu jenis apapun dapat menyebabkan anak kurang berselera untuk mengonsumsi makanan lain, sehingga asupan gizinyamenjadi kurang seimbang. Karena itu ketika anak mulai dipersiapkan untuk disapih, batasi konsumsi susu menjadi 2 gelas per hari agar ia mulai belajar untuk mengonsumsi aneka jenis makanan yang lain.

  1. Perhatikan kebutuhan makan anak.

Berusahalah untuk peka terhadap tanda-tanda kebutuhan makan anak.Artinya, Anda memberi makan ketika anak lapar, dan berhenti memberi makan ketika anak sudah kenyang. Respon yang sesuai dengan kebutuhan ini akan membentuk pengendalian selera makan yang baik pada diri anak serta kebiasaan makan yang sehat dan penuh kesadaran.

  1. Buat target variasi kelompok makanan.

Buatlah daftar aneka kelompok bahan makanan yang ingin Anda perkenalkan kepada anak, jumlahnya 10-15 jenis makanan per kelompok. Misalnya, dari kelompok buah: mangga, pisang, avokad, pepaya, dll. Dari kelompok sayuran: bayam, kangkung, sawi, tauge, wortel, dll. Hal ini untuk memastikan keanekaragaman jenis makanan yang Anda perkenalkan.

  1. Coba tawarkan masakan yang pedas, berbumbu, dan beraneka warna.

Setelah berusia 1 tahun, perkenalkan anak dengan berbagai macam masakan, baik dari sisi bahan, rasa, penampilan dan pengolahan.Upaya ini dapat membuat anak lebih mudah menerima berbagai macam menu masakan.

  1. Ulangi, ulangi dan ulangi.

Bila anak menolak untuk mencoba makanan tertentu, jangan menyerah. Penelitian menunjukkan bahwa mengulang-ulang penawaran suatu jenis makanan akan memperbesar kemungkinan anak untuk mulai mencobanya, dengan catatan bahwa lingkungan dan situasinya mendukung. Artinya, anak makan dalam kondisi yang menyenangkan, tidak terpaksa.

  1. Kenalkan dengan makanan keluarga dan samakan jadwalnya.

Dokter spesialis gizi klinik dari Departemen Ilmu Gizi FKUI/RSCM, FiastutiWitjaksono, menyatakan, bahwa setelah anak berusia 1 tahun ia sudah bisa makan makanan yang sama dengan keluarga, tidak perlu dibedakan.[6]Masukkan satu atau dua jenis bahan makanan yang disukai anak ke dalam menu, tetapi jangan membuat menu khusus untuknya.Dengan membiasakan anak untuk makan menu yang sama pada waktu yang sama dengan keluarga, ayah ibu telah melatih si kecil agar mampu menyesuaikan diri dengan hidangan yang ada, dan mampu menyelesaikan makannya dalam tempo yang seharusnya.

  1. Hindari hal-hal yang bisa mengalihkan perhatian.

Tidak ada mainan, TV ataupun game.Nikmati waktu makan dengan ngobrol dan interaksi bersama keluarga. Bila lapar, anak dengan sendirinya akan makan. Bila belum lapar, ia akan belajar bagaimana bersikap yang baik di waktu makan.

  1. Jangan bereaksi terhadap penolakan anak.

Ketika si kecil menolak suatu makanan/masakan, jangan memperlihatkan reaksi emosional. Reaksi ini akan membuat anak tergoda untuk melakukan hal yang sama di kemudian hari demi mendapatkan apa yang ia inginkan.  Terlebih lagi pada usia 12-36 bulan, anak suka bereksperimen untuk melihat bagaimana reaksi orang lain akibat perbuatannya.

KENDALIKAN DIRI, BARU KENDALIKAN ANAK

Peran sebagai orang tua menuntut kita untuk mampu mengendalikan diri sebelum mengendalikan putra/putri kita.Memberi contoh yang benar, menunjukkan respon yang tepat ketika ada masalah, dan menjalin komunikasi yang baik, adalah sebagian di antara tugas-tugas orang tua yang tidak bisa kita laksanakan dengan baik bila kita gagal mengendalikan diri.

Demikian pula dalam membentuk kebiasaan makan yang baik pada anak.Terkadang karena rasa kasih sayang yang begitu besar kepada anak, kita melakukan hal-hal yang justru membuatnya tumbuh menjadi putra/putri yang mempunyai kebiasaan makan yang menyulitkan dirinya sendiri, juga menyulitkan orang tua.

Mari koreksi diri, kita letakkan kasih sayang kita pada tempatnya.Semoga Allah memberi kemudahan bagi kita dalam membimbing putra dan putri kita agar menjadi shalih dan shalihah. Wallahu a’lam.


[1]https://www.scientificamerican.com/article/picky-eaters-are-not-all-alike/,diunduh pada 25 September 2018

[2]https://www.livingandloving.co.za/child/9-hidden-reasons-that-could-be-behind-your-childs-fussy-eating, diunduh pada 25 September 2018

[3]https://yourkidstable.com/?s=acid+reflux, diunduh pada 19 September 2018

[4]https://www.today.com/parents/10-ways-handle-picky-eater-save-your-sanity-t86481, diunduh pada 29 September 2018

[5]http://www.comotomo.com/prevent-picky-eating-2/, diunduh pada 19 September 2018

[6]https://www.republika.co.id/berita/koran/medika/16/12/04/ohnnpf404-beda-umur-beda-kebutuhan-nutrisi, diunduh pada 28 September 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *