Zaid bin Haritsah

Zaid bin Haritsah radhiallahu

Oleh: Ust. Abdur-Rahman al-Buthoni

Termasuk tanda keimanan adalah memuliakan ahli iman, memuji, mendoakan kebaikan dan meniti jalan mereka. Merupakan dua hal yang saling bertentangan jika seseorang mengaku beriman namun memusuhi ahli iman. Aneh bin ajaib jika mengaku Islam tetapi mencela dan menyakiti manusia paling mulia dalam Islam. Mengaku cinta dan iman kepada Allah sementara tidak mencintai apa yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Perkara semacam ini merupakan hal yang sangat mustahil terjadi, akan tetapi fakta berbicara lain. Kaum Syi’ah mengaku iman kepada Allah dan Rasul-Nya tetapi tidak mengakui apa yang menjadi konsekuensi keimanan, yaitu mencintai para sahabat Rasulullah ﷺ. Mengaku cinta kepada ahli bait tetapi melakukan hal yang menyakiti dan tidak diridhai oleh ahli bait. Mengaku mencintai Ali dan Fatimah sedang tidak mencintai apa yang mereka cintai. Ahli bait mencintai dan memuliakan Abu Bakar, Umar dan seluruh sahabat Rasulullah sedang kaum Syi’ah melaknat mereka. Padahal cinta sejati adalah mencintai apa yang dicintai oleh orang yang kita cintai.

SIAPAKAH ZAID BIN HARITSAH?

Beliau adalah Zaid bin Haritsah bin Syurahbil bin Ka’b. Seorang amir dan syahid, termasuk asSabiqun al-Awwalun (pertama kali yang masuk Islam) dari kalangan budak, kekasih Rasulullah dan ayahnya kekasih Rasulullah, Usamah bin Zaid. Sedangkan Rasulullah ﷺ tidak pernah mencintai kecuali yang terbaik.

Pada asalnya beliau adalah budak milik Khadijah lalu dihadiahkan kepada Rasulullah. Maka beliau memerdekakannya dan dijadikan sebagai anak angkatnya sehingga disebut Zaid bin Muhammad. Keluarganya datang memintanya, tetapi Rasulullah memberi pilihan kepadanya antara ikut keluarganya atau tetap bersama Rasulullah ﷺ maka Zaid memilih tetap bersama Rasulullah.

Alangkah indah dan ajaib akhlak Rasulullah sehingga seorang anak lebih mengutamakan tinggal bersamanya daripada dengan orang tuanya sendiri.

Ketika turun ayat larangan menisbahkan anak kepada selain bapak kandungannya maka dipanggil Zaid bin Haritsah, bukan Zaid bin Muhammad ﷺ.

PERNIKAHANNNYA DENGAN ZAINAB

Allah ﷻ hendak menghilangkan kebiasaan jahiliah yang menganggap anak angkat seperti anak kandung sehingga bila istri anak angkatnya berpisah (cerai) dari suaminya tidak boleh dinikahi oleh bapak angkatnya.

Kisahnya adalah sebagai berikut. Rasulullah ﷺ melamar Zainab untuk Zaid akan tetapi Zainab menolak sebab dia wanita Quraisy sedang Zaid hanya Arab biasa dan bekas budak, maka Allah menurunkan ayat dalam surat al-Ahzāb ayat 36 tentang larangan menolak keputusan Allah dan Rasul-Nya.

Maka Zainab berkata: “Apakah kamu ridha dia buat suamiku, Rasulullah?” Jawab Rasul: “Ya.” Zainab menjawab: “Kalau begitu aku tidak akan bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Akan tetapi perjalanan keluarga ini tidak berlangsung harmonis. Sehingga tatkala benar-benar hubungan keduanya tidak dapat dipertahankan maka Zaid menceraikannya. Dan ketika masa ‘iddah Zainab selesai, Rasulullah menikahinya atas perintah Allah. (Sebagaimana tertera dalam QS. al-Ahzāb: 37)

Dengan ini Zainab dapat berbangga di depan para istri Rasulullah ﷺ seraya berkata: “Kalian dinikahkan oleh wali kalian. Adapun aku, dinikahkan oleh Allah dengan Rasulullah dari langit ketujuh.”

Dengan pernikahan ini maka Allah ﷻ juga mengharamkan sistem anak angkat atas dasar kebiasaan jahiliah.[1]

KEUTAMAAN ZAID

Zaid bin Haritsah radhiallahu memiliki keutamaan yang banyak, di antaranya:

1-    Paling dicintai oleh Rasulullah .

Rasulullah pernah mengirim sepasukan tentara yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid, namun sebagian orang mencela kepemimpinannya, maka sabda Rasulullah: “Jika kalian mencela kepemimpinannya, sungguh kalian telah mencela kepemimpinan bapaknya sebelumnya. Sungguh demi Allah, dia sangat layak menjadi pemimpin dan sungguh, dia manusia paling kucintai dan anaknya ini yang paling kucintai sesudahnya.”

Abdullah bin Umar berkata: “Umar melebihkan pemberian kepada Usamah bin Zaid daripada untuk diriku, lalu aku protes dan Umar menjawab, ‘Dia kekasih Rasulullah, dan sesungguhnya bapaknya (juga) kekasih Rasulullah.’”

2-    Ahli kepemimpinan dengan nas Rasulullah .

Maslamah bin Akwa’ radhiallahu berkata: “Aku berperang bersama Rasulullah sebanyak tujuh kali dan bersama Zaid bin Haritsah sembilan kali, diangkat oleh Rasulullah sebagai pemimpin kami.”

3-    Penghargaan Rasulullah kepadanya.

Rasulullah ﷺ berkata kepadanya: “Kamu saudara kami dan bekas budak kami.” Sungguh baik bagi seseorang yang dihukumi oleh Rasulullah ﷺ sebagai saudara dalam iman.

4-    Mati syahid dan ahli surga.

Rasulullah berkata: “Aku masuk surga maka aku disambut oleh gadis muda, lalu kutanya: ‘Kamu ini milik siapa?’ Jawabnya: ‘Aku milik Zaid bin Haritsah.’”

Beliau menjadi panglima pada peperangan Mu’tah dan mati syahid di sana. Rasulullah pun sedih atas kematiannya.

5-    Allah mengabadikan namanya dalam al-Qur’an. Satu-satunya sahabat yang disebut namanya dalam al-Qur’an dan Allah menurunkan ayat tentang kisah pernikahannya dengan Zainab yang dibaca oleh kaum muslimin sepanjang zaman.

ANDILNYA DALAM ISLAM

Seseorang mulia tergantung kesungguhannya dalam memuliakan Islam. Maka para sahabat Rasulullah itulah yang paling mulia dalam Islam karena mereka paling kuat dalam meninggikan Islam. Kehidupan mereka hanya untuk berjihad fi sabilillah demi kemuliaan agama Allah.

Rasulullah mengutus pasukan perang Mu’tah sebanyak 3.000 personel dipimpin oleh Zaid bin Haritsah. Sabda Rasulullah: “Jika Zaid terbunuh maka diganti oleh Ja’far dan jika Ja’far terbunuh maka diganti oleh Abdullah bin Rawahah.” Rasulullah mewasiati amir pasukan secara khusus dengan takwa kepada Allah dan agar berbuat baik kepada pasukan yang dipimpinnya.

Dalam perjalanan menuju medan perang, mereka mendengar bahwa bangsa Romawi telah menanti mereka dengan jumlah tentara yang sangat besar, 200.000 prajurit. Mereka pun bermusyawarah selama dua malam, apakah maju menyerang atau meminta bantuan tentara kepada Rasulullah atau meminta pendapat beliau ﷺ. Maka Abdullah bin Rawahah berpidato: “Hai sekalian kaum! Demi Allah, sesungguhnya apa yang kalian cari yaitu mati syahid ada di depan kalian. Kita tidak pernah memerangi musuh karena bilangan yang banyak dan kekuatan persenjataan. Kita tidak memerangi mereka melainkan atas nama agama ini yang Allah muliakan kita dengan sebabnya. Maka bangkitlah dan majulah! Sesungguhnya kalian dapat dua kebaikan, yaitu kemenangan atau mati syahid.” Mereka berkata: “Demi Allah, benar apa yang dikatakan oleh Abdullah bin Rawahah.” Lalu mereka bersemangat dan maju menghadapi musuh.

Tatkala peperangan berkecamuk, Abu Hurairah yang baru saja masuk Islam dan pertama kali ikut peperangan berkata kepada Tsabit bin Arqam: “Sesungguhnya aku melihat musuh yang sangat banyak, lengkap dengan alat-alat perang tidak ada yang sanggup menghadapinya.” Berkatalah Tsabit: “Sesungguhnya kamu tidak ikut berperang bersama kami di Badar. Sesungguhnya kami tidak menang karena banyaknya tentara dan lengkapnya persenjataan.”

Mereka pun berperang mati-matian hingga panglima Zaid terbunuh, lalu bendera perang diambil oleh Ja’far. Dia berperang hingga terbunuh, lalu bendera diambil oleh Abdullah bin Rawahah yang berperang hingga terbunuh. Setelah itu bendera diambil oleh Khalid bin Walid dan Allah memenangkan kaum muslimin.

Sungguh, para sahabat Rasulullah adalah umat pilihan untuk menemani Nabi-Nya dan menolong agama-Nya. Kaum yang apabila kita berpegang teguh dengan jalan hidup mereka, pasti kita beruntung dunia dan akhirat.

–         Ash-Shahabah: 611-620.


[1] Dinasabkan kepada ayah angkatnya dan mewarisi darinya layaknya anak kandung. (edt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *