Zuhud Terhadap Dunia

Zuhud Terhadap Dunia 
Oleh: Ust. Rifaq Ashfiya’ Lc.

HADITS KE 31

Teks Hadits

عَنْ أَبِي الْعَبَّاس سَهْل بِنْ سَعْد السَّاعِدِي رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : ياَ رَسُوْلَ اللهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِيَ اللهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ، فَقَالَ : ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبُّكَ اللهُ، وَازْهَدْ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ .)حديث حسن رواه ابن ماجة وغيره بأسانيد حسنة(

Dari Abu Abbas Sahl bin Sa’ad Assa’idi radhiallahuanhu dia berkata : Seseorang mendatangi Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka beliau berkata : ‘Wahai Rasulullah! Tunjukkan kepadaku satu amalan yang jika aku mengamalkannya maka aku akan dicintai oleh Allah dan dicintai manusia., maka beliau bersabda: Zuhudlah terhadap dunia maka engkau akan dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia maka engkau akan dicintai manusia.(Hadits hasan riwayat Ibnu Majah dan lainnya dengan sanad hasan) .

Takhrij Hadits

Hadits ini hasan diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah no. 4102, dan ini lafazhnya, Ibnu Hibban dalam Raudhatul ‘Uqala` hlm. 128, Ath-Thabarani dalam al-Mu’jamul Kabir no. 5972, Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ VII/155, no. 9991, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iiman no. 10043, Ibnu ‘Adi dalam al-Kamil III/458, Al-‘Uqaili dalam adh-Dhu’afa` II/357, dan Al-Hakim IV/313

Hadits ini dihasankan oleh Imam an-Nawawi, al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani, al-Iraqi, al-Haitsami, dan Syaikh al-Albani rahimahumullah dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 944 dan Shahih al-Jami’ish Shaghir no. 922

Faedah Hadits

Pertama : Perowi Hadits,

Beliau bernama Abul Abbas al-Khazraji al- Anshori Sahl bin Sa’ad bin Malik bin Khalid bin Tsa’labah bin Haritsah bin Amr bin al-Khazraj bin Saidah bi Ka’ab bin al-Khazraj al-Anshari al-Sa’idi adalah termasuk sahabat Rasulullah ﷺ dan dari suku bani Saidah yang berumur 15 tahun saat Nabi ﷺ wafat. Dikatakan bahwa dahulu namanya Huzn, dan Nabi ﷺ menamainya Sahl.[1]

Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu yang termasuk di antara para sahabat yang melihat Nabi ﷺ pertama kali memakai mimbar bercerita, bahwa Rasulullah ﷺ mengutus salah seorang sahabat kepada seorang wanita Anshar. Beliau ingin agar wanita itu memerintahkan budaknya yang ahli pertukangan untuk membuatkan beliau sebuah mimbar agar dapat berkhutbah dan duduk di atasnya. Budak wanita tersebut kemudian membuat mimbar yang terbuat dari kayu thorfa dari kota Ghabat (daerah sekitar Madinah ke arah Syam). Setelah jadi, mimbar tersebut pun kemudian dikirimkan kepada Rasulullah ﷺ [2]

Berkata ubaidillah ibn umar bahwa Sahabat Sahl bin Sa’ad menikah dengan 15 wanita, Beliau meriwayatkan 188 Hadits[3] dan Beliau wafat pada tahun 88 atau 91 H pada umurnya yang ke 96 atau 99.[4] Ia dikenal sahabat terakhir yang wafat di Madinah.[5]

Kedua : Kedudukan Hadits,

  1. Hadits ini merupakan salah satu dari sekian banyak hadits yang menjelaskan tentang poros agama islam, yaitu zuhud dalam masalah dunia maka mendapatkan kecintaan Allah, dan zuhud terhadap apa yang ada pada manusia maka itu merupakan sebuah keagungan, kesedarhanaan dan akan dicintai manusia
  2. Dikatakan oleh Imam Ibn rajab bahwa dalam hadits di atas terdapat dua nasehat, yaitu untuk zuhud pada dunia, ini akan membuahkan kecintaan Allah, dan zuhud pada apa yang ada di sisi manusia, ini akan mendatangkan kecintaan manusia.[6]

Ketiga : Apa itu Zuhud?

Zuhud secara bahasa adalah lawan kata gemar. Gemar merupakan suatu bentuk keinginan. Sedangkan zuhud adalah hilangnya keinginan terhadap sesuatu, baik disertai kebencian ataupun hanya sekedar hilang keinginan.[7]

Abu Sulaiman Ad Daroni. Beliau mengatakan, “Para ulama berselisih paham tentang makna zuhud di Irak. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa zuhud adalah enggan bergaul dengan manusia. Ada pula yang mengatakan, “Zuhud adalah meninggalkan berbagai macam syahwat.” Ada pula yang memberikan pengertian, “Zuhud adalah meninggalkan rasa kenyang” Namun definisi-definisi ini saling mendekati. Aku sendiri berpendapat,

أَنَّ الزُهْدَ فِي تَرْكِ مَا يُشْغِلُكَ عَنِ اللهِ

“Zuhud adalah meninggalkan berbagai hal yang dapat melalaikan dari mengingat Allah.[8]

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Definisi zuhud dari Abu Sulaiman ini amatlah bagus. Definisi telah mencakup seluruh definisi, pembagian dan macam-macam zuhud.”[9]

Ibnul Qoyim menyebutkan definisi zuhud dan wara’ yang pernah beliau dengar dari gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Ibnul Qoyim mengatakan, Saya mendengar Syaikhul Islam – semoga Allah mensucikan ruhnya – pernah mengatakan,

الزُهْدُ تَرْكُ مَا لاَ يَنْفَعُ فِيْ الآخِرَةِ وَالوَرَعُ : تَرْكُ مَا تُخَافُ ضَرَرُهُ فِي الآخِرَةِ

Zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat untuk kehidupan akhirat.” Dan “Wara’ adalah meninggalkan sesuatu yang dikhawatirkan membahayakan bagi kehidupan di akhirat.” Kemudian Ibnul Qoyim menegaskan,Ungkapan ini adalah definisi terbaik dan paling mewakili untuk kata zuhud dan wara’.[10]

Keempat : Zuhud dalam al-Qur’an

Sebagian ulama menyebutkan bahwa zuhud telah Allah jelaskan dalam al-Quran melalui ayat-Nya,

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آَتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan bersedih terhadap apa yang tidak kamu dapatkan, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Al-Hadid: 23)

Memahami ayat di atas, Imam al-Junaid mengatakan, Orang yang zuhud tidak menjadi bangga karena memiliki dunia dan tidak menjadi sedih karena kehilangan dunia. (Madarij as-Salikin, 2/10).

Allah Ta’ala juga berkata tentang orang mukmin di kalangan keluarga Fir’aun yang mengatakan,

وَقَالَ الَّذِي آَمَنَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُونِ أَهْدِكُمْ سَبِيلَ الرَّشَادِ (38) يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآَخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ (39)

Orang yang beriman itu berkata: “Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (QS. Ghafir: 38-39)

Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala berfirman,

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (16) وَالْآَخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al A’laa: 16-17)

Kelima : Makna Zuhud terhadap Dunia

Pertama : Hendaknya seorang hamba lebih yakin terhadap apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tangannya sendiri.

Sikap ini muncul dari keyakinannya yang kuat dan lurus, karena menjamin rezeki seluruh hamba-Nya dan menanggungnya, sebagaiamana Allah berfirman

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Dan tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh). [Hud/11:6]

Al Fudhai bin ‘Iyadh mengatakan, “Akar zuhud adalah ridha terhadap apa yang ditetapkan Allah ‘azza wa jalla.[11]

Abu Hazim Az Zahid pernah ditanya, “Apa hartamu”, beliau menjawab, “Saya memiliki dua harta dan dengan keduanya saya tidak takut miskin. Keduanya adalah ats tsiqqatu billah (yakin kepada Allah) dan tidak mengharapkan harta yang dimiliki oleh orang lain.[12]

Kedua : Zuhud adalah apabila hamba tertimpa musibah dalam kehidupan dunia seperti hilangnya harta, anak, atau selainnya, maka dia lebih senang memperoleh pahala atas hilangnya hal tersebut daripada hal itu tetap berada di sampingnya. Hal ini juga muncul dari sempurnanya rasa yakin kepada Allah.

Diriwayatkan dari ‘Ibnu ‘Umar bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dalam do’anya,

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا

Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini.”.[13]

Do’a tersebut merupakan tanda zuhud dan minimnya kecintaan kepada dunia sebagaimana yan dikatakan oleh ‘Ali radhiallahu ‘anhu, “Barangsiapa yang zuhud terhadap dunia, maka berbagai musibah akan terasa ringan olehnya.”

Ketiga : Zuhud adalah hamba memandang sama orang yang memuji dan mencelanya ketika dirinya berada di atas kebenaran. Hal ini merupakan tanda bahwa dirinya zuhud terhadap dunia, menganggapnya sebagai sesuatu yang remeh, dan minimnya kecintaan dirinya kepada dunia.

Allah ﷻ memuji orang-orang yang berjihad di jalan Allah dan tidak takut celaan

يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ

Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut celaan orang yang mencela. [al-Maidah/5:54]

Sahabat Ibnu Mas’ud Mengatakan,

الْيَقِينُ أَنْ لَا تُرْضِيَ النَّاسَ بِسُخْطِ اللَّهِ

Yakin itu adalah engkau tidak mencari ridha manusia dengan cara menimbulkan kemurkaan Allah. Dan sungguh Allah telah memuji mereka yang berjuang di jalan-Nya dan tidak takut akan celaan.”[14]

Keenam : Zuhud tidak Harus Miskin

Kita tidak memungkiri bahwa para Nabi yang Allah beri kerajaan, seperti Yusuf, Daud, atau Sulaiman, mereka adalah manusia-manusia yang sangat zuhud.

Allah berfirman tentang sifat Nabi Daud,

وَاذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوُودَ ذَا الْأَيْدِ إِنَّهُ أَوَّابٌ

Ingatlah hamba-Ku Daud, pemilik kekuatan (dalam melakukan ketaatan). Sesungguhnya beliau awwab (orang yang suka kembali kepada Allah). (QS. Shad: 17)

Allah juga berfirman tentang Sulaiman,

وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ

Kami anugerahkan anak kepada Daud yang namanya Sulaiman. Sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia awwab (orang suka kembali kepada Allah). (QS. Shad: 30)

Kemudian, Allah berfirman tentang Ayub,

إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ

“Kami dapati Ayub adalah orang yang sabar. Sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia orang yang awwab (suka kembali kepada Allah).” (QS. Shad: 44).

Kita bisa perhatikan, ketiga nabi mulia dengan ujian yang berbeda, Allah gelari mereka semua dengan kata ‘Awwab’. Daud dan Sulaiman ‘alaihimas salam diuji dengan kekayaan, sementara Ayyub diuji dengan kemiskinan.

Fudhail bin ‘Iyadhberkata pada Ibnul Mubarok, “Engkau memerintahkan kami untuk zuhud, sederhana dalam harta, hidup yang sepadan (tidak kurang tidak lebih). Namun kami melihat engkau memiliki banyak harta. Mengapa bisa begitu?”

Ibnul Mubarok mengatakan,“Wahai Abu ‘Ali (yaitu Fudhail bin ‘Iyadh). Sesungguhnya hidupku seperti ini hanya untuk menjaga wajahku dari ‘aib (meminta-minta). Juga aku bekerja untuk memuliakan kehormatanku. Aku pun bekerja agar bisa membantuku untuk taat pada Rabbku”. [15]

Ketujuh : Wasiat kedua ialah zuhud terhadap apa saja yang ada di tangan manusia. Zuhud seperti ini membuat orang dicintai manusia. Rasulullah ﷺ bersabda,

وَاعْلَمْ أَنَّ شَرَفَ الْـمُؤْمِنِ قِيَامُهُ بِاللَّيْلِ ، وَعِزَّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ

Dan ketahuilah bahwa kemuliaan seorang Mukmin ialah shalat malamnya dan kehormatannya ialah tidak merasa butuh kepada manusia.[16]

Seseorang sangat butuh kecintaan orang lain. Ia akan merasa senang dan lapang dada ketika ia hidup di tengah masyarakat yang mencintainya. Sebaliknya ia merasa sempit ketika hidup di tengah masyarakat yang membencinya. Namun, yang perlu diperhatikan dalam menggapai cinta manusia yaitu harus dengan cara yang benar dan adil yang dibenarkan dalam agama Islam, bukan dengan cara-cara yang menyimpang dari agama Islam.[17]

Cara Agar bisa Zuhud

Al-Hasan al-Bashri pernah ditanya,

مَا سِرُّ زُهْدُكَ فِى الدُنْيَا ؟

“Apa rahasia zuhud anda terhadap dunia?”

Jawab beliau,

عَلِمْتُ بِأَنَّ رِزْقِى لَنْ يَأْخُذَهُ غَيْرِى فَاطْمَأَنَّ قَلْبِى لَهُ , وَعَلِمْتُ بِأَنَّ عَمَلِىْ لَا يَقُوْمُ بِهِ غَيْرِى فَاشْتَغَلْتُ بِهِ , وَعَلِمْتُ أَنَّ اللهَ مُطَّلِعٌ عَلَىَّ فَاسْتَحْيَيْتُ أَنْ أُقَابِلَهُ عَلَى مَعْصِيَةٍ , وَعَلِمْتُ أَنَّ المَوْتَ يَنْتَظِرْنِى فَأَعْدَدْتُ الزَادَ لِلِقَاءِ الله

Aku yakin bahwa rizqiku tidak akan diambil orang lain, sehingga hatiku tenang dalam mencarinya, Saya yakin bahwa amalku tidak akan diwakilkan kepada orang lain, sehingga aku sendiri yang sibuk menjalankannya, Aku yakin bahwa Allah selalu mengawasi diriku, hingga aku malu merespon pengawasannya dengan melakukan maksiat. Dan Aku yakin bahwa kematian menantiku. Sehingga aku siapkan bekal untuk ketemu Allah…

Wallahi a’lam semoga bermanfaat


[1] Lihat Ibnu Atsir, Usdul Ghabah, jld.2, hlm.320

[2] HR. Bukhari no.917 dan Muslim no.544.

[3] Lihat As-Siyar juz 3/422, al’Ishobah juz 2 hal 88

[4] Lihat Ibnu Abdil Bar, al-Isti’ab, jld.2, hlm.665; Ibnu Atsir, al-Kamil, jld.4, hlm.534; Ibnu Atsir, Usdul Ghabah, jld.2, hlm.320; Ibnu Jauzi, al-Muntazhim, jld.6, hlm.302

[5] Lihat Ibnu Atsir, Usdul Ghabah, jld.2, hlm.320, Ibnu Abdil Bar, al-Isti’ab, jld.2, hlm.665

[6] Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 346, Darul Muayyid, cetakan pertama, tahun 1424 H.

[7] Lihat Thariq al Hijratain wa Bab as Sa’adatain, karya Imam Ibnu al Qoyyim

[8] Disebutkan oleh Abu Nu’aim Al Ashbahani dalam Hilyatul Awliya’, 9/258

[9] Lihat Jaami’ul Ulum, hal. 350.

[10] Lihat  Madarij as-Salikin, juz 2/10

[11] Diriwayatkan  Ad Dainuri dalam  Al Mujalasah (960, 3045); Abu ‘Abdirrahman As Sulami dalam Thabaqatush Shufiyah (10)

[12] Diriwayatkan  Ad Dainuri dalam  Al Mujalasah (963); Abu Nu’aim dalam Al Hilyah 3/231-232

[13] HR. Tirmidzi (3502); An Nasaai dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (402); Al Hakim (1/528); Al Baghawi (1374). At Tirmidzi mengatakan, “Hadits hasan gharib”

[14] Lihat  Jami’ul ‘Ulum wal Hikam hlm. 644-646.

[15] Lihat Siyar A’lam An Nubala, Adz Dzahabi, 8/387

[16] Hasan: HR. al-Hakim IV/324-325, dan al-Baihaqi dalam  Syu’abul Iiman no. 10058 dishahihkan oleh al-Hakim dan disepakati adz-Dzahabi. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no. 831

[17] Lihat Qawa’id wa Fawa-id hlm. 271

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *