Menjadi Manusia Super Reaktif

Abdullah bin Mas’ud a\ pernah mengatakan, “Jangan gegabah untuk memuji atau mencela seseorang. Karena bisa saja seseorang itu membuatmu takjub pada hari ini, akan tetapi keesokan harinya ia membuatmu jengah. Barangkali pula hari ini ia membuatmu murka, namun esok hari ia akan membuatmu terkesima. Sesungguhnya para hamba cepat emosi, sedangkan Allah ﷻ Maha mengampuni dosa di hari kiamat. Dan Dialah Yang Maha Pengasih terhadap hamba-Nya.” (Az-Zuhd Abu Dawud: 130, melalui Min Akhbar as-Salaf hal. 349)

Sungguh, banyak sekali kita temui pada zaman sekarang orang-orang yang semodel dengan gambaran di atas. Mungkin juga termasuk kita. Karena zaman sekarang sangat mudah mendapatkan informasi, baik yang benar maupun yang hoax, sehingga kebiasaan sebagian kita pun menjadi pengamat dadakan. Begitu ada berita baru muncul ke permukaan, tak lupa komentar atau tanggapan langsung kita berikan. Urusan benar atau salahnya berita tersebut, itu nomor kesekian. Allahul musta’an…..

Manusia yang super reaktif dan responsif dalam tanda kutip. Begitulah sebagian kita hidup di zaman ini. Baik disadari ataupun tidak. Padahal Allah ﷻ sendiri menyebutkan dalam QS. al-Hujurat ayat ke-6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Para salaf dahulu sangat berhati-hati dengan sebuah kejadian yang mereka dengar atau berita yang mereka terima. Reaksi mereka adalah menjaga lisan dan anggota badan supaya tidak mengomentari berita itu, terlebih lagi menyebarkannya. Setelah itu mereka menimbang maslahat dan madharatnya, dan barulah kemudian mereka melihat kejadian itu dapat dikomentari atau disebarkan menurut pertimbangan yang panjang tadi.

Karena itu, berhati-hatilah. Wallahul muwaffiq.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *