Tsumamah bin Atsal al-Yamami

Tsumamah bin Atsal al-Yamami 

Oleh: Abu Usamah al-Kadiri

Hati manusia memang cepat berbalik. Ia akan selalu mengikuti hal yang menurut hatinya benar. Maka beruntunglah hati yang suci di atas fitrah karena ia akan selalu ditunjuki oleh Allah ﷻ pada setiap jalan menuju kebenaran.

Nama beliau adalah Tsumamah bin Atsal bin Nu’man dari bani Hanifah yang bermukim di daerah Yamamah (Nejed). Terkadang dikenal pula dengan nama kun-yah Abu Umamah . Selain Musailamah bin Habib al-Kadzdzab, Tsumamah juga terhitung sebagai pemuka kaum yang dihormati oleh bani Hanifah.

Kisah keislamannya telah diabadikan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya dan yang selainnya. Kisah yang memberikan pelajaran kepada kita tentang kebenaran risalah Islam serta luhurnya akhlak Rasulullah ﷺ sebagai pembawa risalah. Dan seharusnyalah kita sebagai muslim, terlebih para da’i, meneladani akhlak tersebut.

Keislaman Tsumamah

Keislaman Tsumamah terbilang sangat heroik dan dipenuhi aroma ksatria. Dikisahkan, bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengirim sebuah pasukan kavaleri ke daerah Nejed.[2] Ketika dalam perjalanan pulang setelah menunaikan tugas, pasukan itu berhasil menawan Tsumamah bin Atsal di tengah perjalanan. Tsumamah sendiri (dalam sebuah riwayat), telah merencanakan pembunuhan terhadap diri Rasulullah.

Setelah ditangkap, Tsumamah pun dibawa ke Madinah dan diikat di salah satu tiang Masjid Nabawi. Rasulullah melihatnya dan berkata, “Apa yang kau punya sekarang, wahai Tsumamah?” Ia menjawab, “Aku punya kebaikan (harta). Wahai Muhammad, jika kau bunuh aku, maka engkau membunuh seorang yang masih memiliki darah. Jika engkau membebaskanku, maka engkau telah membebaskan orang yang tahu balas budi. Jika engkau ingin harta, bilang saja berapa yang kaum mau.” Rasulullah ﷺ lalu meninggalkannya tanpa mengucapkan sepatah kata.

Keesokan harinya Rasul kembali menemui Tsumamah dan bertanya, “Kau punya apa, Tsumamah, sekarang?” Tsumamah menjawab, “Aku punya yang kubilang kemarin kepadamu. Jika engkau membunuhku maka engkau telah membunuh orang yang masih memiliki darah. Jika engkau membebaskan diriku maka engkau telah membebaskan seorang yang tahu membalas budi.” Rasul kembali berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata.

Ketika pada hari ketiga, Rasul bertanya seperti pertanyaan kemarin. Jawaban Tsumamah pun tetap sama. Kali ini Rasulullah mengatakan, “Bebaskan Tsumamah!”

Setelah bebas, Tsumamah berjalan menuju kebun kurma di dekat Masjid Nabawi. Ia lalu mandi kemudian masuk masjid kembali. Saat itulah Tsumamah mengikrarkan kalimat syahadatnya di hadapan Rasulullah ﷺ. “Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah,” ucap Tsumamah. Ia meneruskan, “Wahai Muhammad, sesungguhnya tidak ada wajah di muka bumi ini yang lebih aku benci melebihi wajahmu, namun sekarang wajahmu adalah yang paling aku cintai. Tidak ada agama yang lebih aku murkai melebihi agama yang kau bawa, namun sekarang agamamu itu menjadi yang paling aku sukai. Dan tak ada satu pun negeri yang lebih kujelahi melebihi negerimu, namun sekarang negerimu menjadi tempat yang paling kudamba. Sesungguhnya pasukanmu telah menangkapku, sedangkan aku sekarang hendak menunaikan umrah. Sekarang bagaimana?”

Rasulullah pun memberinya kabar gembira, mengajarinya talbiyah yang benar meminjaminya kendaraan dan mempersilakan Tsumamah menunaikan umrah.

Sesampainya di Makkah, Tsumamah membuat kaget orang-orang Quraisy dengan talbiyahnya yang dipenuhi nilai tauhid. Mereka pun bertanya, “Apakah kau telah murtad?” Tsumamah menjawab dengan tegas, “Tidak, akan tetapi aku telah masuk Islam bersama Muhammad ﷺ.” Kekagetan Quraisy pun bertambah saat Tsumamah bersumpah ia tidak akan membiarkan sedikit pun bahan makanan dari Yamamah dinikmati oleh Quraisy, sebagaimana biasa, hingga ada izin dari Nabi.

Ketika Quraisy merasa sangat terdesak lantaran bahan makanan mereka habis, mereka menyurati Rasulullah dan meminta beliau atas nama kekerabatan, agar mengizinkan Quraisy kembali menikmati hasil bumi Yamamah. Dengan besar hati, Rasulullah pun meminta Tsumamah agar menghentikan boikotnya.

 Tsumamah melawan kemurtadan

Tahun 11 Hijriah, setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, Tsumamah dan kaum muslimin semuanya dikagetkan dengan kemunculan para nabi palsu serta gerakan masyarakat Arab yang memilih murtad. Keadaan Negara Islam saat itu ibarat di telur ujung tanduk. Jika sampai Abu Bakar a\ selaku khalifah pertama salah melangkah, niscaya agama Islam tak akan bisa kita rasakan nikmatnya sekarang.

Akhirnya, dengan segala keterbatasan, Abu Bakar memilih untuk menghadapi semua bahaya yang mengancam. Pasukan Romawi di perbatasan diserahkan kepada Panglima Usamah bin Zaid a\ yang masih muda. Sedangkan untuk mengatasi berbagai kerusuhan yang dibuat oleh para nabi palsu sekaligus masyarakat Arab yang murtad, diamanahkan kepada para sahabat semisal Khalid bin Walid, Ikrimah bin Abi Jahal, al-‘Ala’ bin al-Hadhrami dan yang lainnya.

Ketika mayoritas penduduk Yamamah berpihak kepada Musailamah al-Kadzdzab secara membabi buta, Allah ﷻ menakdirkan Tsumamah tetap tegar di atas keislamannya. Bahkan ia menyeru kepada bani Hanifah, kaumnya dan kaum Musailamah, agar tak mengikuti ajakan sang nabi palsu dengan sekuat tenaga. Ia pun mengasingkan diri bersama orang-orang yang mendengar perintahnya.

Alih-alih membantu Musailamah, Tsumamah malah bergabung bersama pasukan al-‘Ala’ bin al-Hadhrami a\ yang memerangi masyarakat Arab murtad di Bahrain hingga Allah memenangkan mereka.

Tsumamah berpulang           

Dalam operasi pengislaman yang dipimpin oleh al-‘Ala’, kaum muslimin mendapatkan kesuksesan besar. Selain masyarakat Bahrain kembali tunduk, mereka pun mendapatkan ghanimah yang lumayan banyak. Tsumamah pun membeli baju seorang tokoh kaum murtad dari seorang pasukan yang mendapatkannya dari jatah ghanimah.

Nahas, ketika Tsumamah mengenakannya, seorang yang satu kabilah dengan tokoh murtad yang dibunuh tersebut menyangka bahwa Tsumamahlah yang telah membunuh tokoh mereka. Mereka akhirnya mengeroyok Tsumamah hingga beliau terbunuh. Semoga Allah meridhainya.


[1] Disarikan dari; Shahih al-Bukhari: 4372, al-Ishabah 1/410-411, al-Isti’ab 1/64-65, al-Bidayah wa an-Nihayah 5/59 dan yang setelahnya.

[2] Dalam salah satu riwayat, bahwa pasukan itu dipimpin oleh Muhammad bin Maslamah a\.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *