Ummi, Aku Senang Umi Selalu di Rumah

Oleh: Ummu Fathimah – Purwakarta

Tangisan, rengekan dan ratapan di pagi hari akan selalu terdengar dari seorang bocah yang hendak ditinggal oleh ibunya berangkat bekerja. Sebenarnya antara naluri keibuan dan ambisi berkarir berkecamuk di dalam hati, sehingga sampai di tempat kerja pikiran pun bercabang-cabang. Kemudian sang ibu mencoba menghubungi ke rumah ternyata anak sudah kembali tenang. Pernahkah kita berpikir apa yang membuat anak menjadi tenang ketika kita tinggalkan? Apakah sebuah hiburan yang sifatnya semu? Kemudian anak menjadi jenuh dan ingat kembali kepada sang ibu? Ternyata keberadaan kita di rumah merupakan kunci utama ketenangan anak.

 

Anak amanah Allah yang harus dijaga

Surat al-Anfāl ayat 27 yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu menkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”

Kehadirannya sangat kita idam-idamkan, kita jaga kandungannya, kita perhatikan asupan gizinya yang halalan dan thayyiban. Hingga anak lahir kita rawat, kita jaga kesehatannya dan tiada henti-hentinya orang tua selalu mendoakannnya agar kelak menjadi anak yang dapat menegakkan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi was salam. Tumbuh menjadi anak yang tangguh dalam menghadapai problematika kehidupan, menananamkan akhlak yang mulia serta berkarakter kuat sehingga semakin kuat pula akidahnya. Itulah harapan semua orangtua terhadap anaknya. Oleh karena anak sebagai amanah yang sangat besar, maka kita pun harus memberikan waktu yang besar pula kepada mereka agar akhlak anak-anak tidak mudah tercemar oleh budaya atau lingkungan yang menjerumuskan pada kehinaan dan kemaksiatan.

 

Penyebab rusaknya akhlak

Ibu adalah madrasah pertama bagi anak, sebelum anak mengenal lingkungan maka ia akan lebih mengenal sosok ibunya terlebih dahulu. Maraknya kerusuhan pada sekolah-sekolah disebabkan oleh tidak adanya kerjasama yang baik antara sekolah dan orang tua. Kurang lebih 7 jam anak berada di sekolah, namun tidak menjamin akhlak anak menjadi baik. Kemudian saat mereka pulang ke rumah, yang didapati hanya pembantu. Akibatnya, semakin liarlah mereka tanpa ada yang ditakuti lagi. Sementara orang tua pun pulang malam dan sudah tidak ada lagi waktu untuk berkomunikasi dengan anak perihal pelajaran atau pergaulan di sekolah. Ditambah, sekolah yang dipilih tidak menekankan pada aspek akidah dan akhlak. Maka, apa yang akan diambil buahnya oleh orang tua?

Oleh karena itu, meletakkan fondasi yang kuat pada anak sejak dini sangat diperlukan, dan itu sudah menjadi kebutuhan yang mendesak. Jangan sampai kita tunda-tunda untuk mendidik anak-anak kita. Hendaknya kita pilihkan sekolah yang mengajarkan ilmu syar’i sehingga kita tidak akan mnyesal di kemudian hari. Karena kita akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat nanti.

أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَ كُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Ketahuilah, setiap diri kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggunjawabannya atas yang dipimpinnya. (HR. al-Bukhari: 490)

 

Aku senang umi selalu di rumah

Kalimat yang muncul dari mulut seorang anak kecil yang mendambakan ibunya untuk selalu ada dan mendampingi. Menemaninya untuk belajar dan bermain. Anak merasa dihargai akan pendapatnya, anak akan mudah menerima kebaikan yang telah ibu ajarkan dan menolak, bahkan membenci apa yang telah ibu ingatkan padanya untuk dihindari.

Celoteh kecil mungkin pernah kita dengar, “Umi libur terus ya…? Umi gak usah kerja ya…?” terkadang membuat kita samapai terharu. Itu artinya anak ingin memastikan kembali kalau sang ibu sudah benar-benar di rumah, untuk tidak meninggalkan dirinya lagi.

Anak sebagai penyejuk pandangan (qurratu a’yun) akan selalu membuat kita tidak mampu lagi untuk mengejar ambisi dunia. Sungguh, tiada nilainya dengan uang yang kita peroleh setiap bulan dbanding dengan senyuman dan tatapan anak-anak kita ketika pagi hari. Kedekatan seorang ibu takkan bisa terbayarkan oleh materi sebesar apa pun. Wahai wanita pengejar dunia, apa yang akan kau cari, selain ketenangan batin dari anak-anak kita? Sadarkan diri bahwa kita dikodratkan untuk selalu di rumah menjaga dan membimbing anak-anak supaya kita tidak menyesal di kemudian hari. Senyuman dan pelukan hangat dapat memberikan kekuatan yang luar biasa bagi anak-anak kita. Seiring waktu berjalan, mereka akan tumbuh besar bersama didikan kita, pendidikan yang mereka terima insya Allah akan membuahkan hasil yang maksimal sesuai yang kita idam-idamkan.

Namun seiring waktu itu pula akan terjadi masalah dengan perkembangan anak, baik yang menyangkut fisik maupun psikologi. Di sinilah peran kita dituntut sebagai orangtua untuk bisa memberikan yang terbaik buat anak-anak kita dengan memberikan arahan, bimbingan, nasihat yang tak ada hentinya. Dengan perilakunya yang baik maka kita akan semakin mencintai dan menyayanginya. Kita tunjukkan kalau kita sangat mendukung dan memperhatikannya. Namun jika anak berbuat salah, jangan langsung kita hukumi bahwa perbuatannya salah, tetapi kita tanyakan dahulu apa alasan anak ini melakukan demikian. Begitu pula jika anak kita sakit, kita coba tanyakan pada diri kita, sudahkah kita memperhatikan kesehatannya secara optimal? Bagaimana pola makannya? Jam tidurnya dan waktu bermainnya? Mudah-mudahan kita sebagai seorang guru di rumah selalu diberikan kekuatan dan kesabaran dalam mendidik dan merawat anak-anak kita. Bersabar atas kenakalannya, bersabar atas polah dan tingkah lakunya. Karena itulah anak-anak. Kita harus masuk dalam dunianya, sehingga mereka akan mengenal lebih dekat dengan sosok ibunya yang selalu ikhlas menjaganya. Allahul musta’an.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *