Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib

Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib 

Seorang Ahlul Bait, saudara al-Hasan 

Oleh: Tim TARJIM

            Jika dua edisi yang lalu kalian sudah mengenal al-Hasan bin Ali, maka yang ada di hadapan kalian sekarang ini adalah adik dari al-Hasan yang bernama al-Husain. Usia beliau hanya terpaut satu tahun dengan al-Hasan, kakaknya. Namun dalam masalah semangat menjaga kehormatan agama dan kebenaran, dirinya tak kalah dengan sang kakak.

            Seperti halnya al-Hasan, al-Husain pun menjadi salah satu anggota Ahlul Bait Rasulullah ﷺ. Dialah orang yang paling mirip dengan Ali dalam hal keberanian dan kekuatan, sedangkan sang kakak lebih mirip dengan Ali dalam kebijaksanaan.

Beliau dilahirkan pada bulan Sya’ban tahun 4 H. Rasulullah ﷺ  juga sempat men-tahniknya (mengunyahkan kurma kemudian dimasukkan ke mulut bayi dengan digosokkan ke langit-langitnya), mendoakan dan menamainya al-Husain. Dan al-Husain bersama sang kakak tumbuh di dalam asuhan sang ayah dan ibunya serta dalam pengawasan kakeknya, yaitu Rasulullah sendiri.

Al-Husain terbunuh dalam keadaan terzalimi

            Ketika Yazid bin Mu’awiyah diangkat sebagai khalifah, banyak di antara para sahabat yang tidak setuju. Mereka memandang bahwa masih ada yang lebih layak dijadikan khalifah selain Yazid. Di antara mereka adalah Abdullah bin Zubair dan al-Husain bin Ali. Para sahabat yang tua memilih untuk bersikap diam dan taat dalam masalah yang baik, walaupun mereka sebenarnya juga ada yang tidak setuju.

Adapun al-Husain, maka beliau lebih memilih untuk melawan. Terlebih lagi ketika orang-orang Kufah yang sudah tidak senang dengan pemerintahan Daulah Umawiyah sering mengirimi al-Husain surat untuk segera pindah ke Kufah dan bersama-sama rakyat Kufah membuat pemerintahan yang baru. Walaupun sebenarnya dirinya telah dinasihati oleh para pembesar sahabat seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Umar agar tetap diam di tempat. Para pembesar sahabat tersebut juga mengingatkannya akan perlakuan penduduk Kufah dahulu semasa Ali, ayahnya menjadi khalifah yang cenderung suka berkhianat.

            Mereka mengatakan bahwa sekitar 12-18 ribu orang siap membai’at dan membela al-Husain untuk melawan pemerintahan Yazid. Namun pergerakan al-Husain ke Kufah sudah tercium oleh pihak Damaskus. Akhirnya gubernur Kufah yang lama di ganti dengan seorang gubernur baru yang bernama Ubaidullah bin Ziyad. Gubernur baru ini lebih bertindak secara keras. Ia pun segera menangkap para pendukung al-Husain dan mengancam mereka agar tidak membantu al-Husain. Maka 12 pendukung al-Husain di Kufah pun satu persatu mundur dari dukungannya.

Perlawanan hingga titik darah penghabisan

            Ketika al-Husain telah sampai di Karbala, ternyata dirinya bersama rombongan telah dihadang oleh pasukan Ubaidullah bin Ziyad.  Awalnya beliau mengajukan 3 permintaan yang semuanya berujung pada perdamaian kepada Umar bin Sa’d yang tengah memimpin pasukan yang mengepungnya. Umar pun setuju, tetapi sebagai bawahan ia tak berani memutuskan begitu saja sebelum ada persetujuan dari Ibnu Ziyad. Akhirnya Umar bin Sa’d mengabarkan kepada Ibnu Ziyad bahwa al-Husain meminta salah satu dari tiga permintaan tersebut. Awalnya Ibnu Ziyad cenderung menerima usulan tersebut, namun seorang pegawainya yang bernama Syamr bin Dzil Jausyan mengisyaratkan agar tidak menerima permintaan dari al-Husain tersebut kecuali harus menyerah tanpa syarat atau berperang.

            Pada akhirnya Ubaidullah pun bergerak bersama pasukan yang dipimpinnya sendiri ke Kufah untuk menyerang rombongan al-Husain. Setelah tahu bahwa usulannya ditolak dan tidak tersisa pilihan lagi, maka al-Husain bersama rombongan terpaksa melawan. Adu senjata pun terjadi. Kekuatan mereka sangat tak imbang, karena rombongan al-Husain berjumlah kurang dari 100 orang, sedangkan pasukan Ibnu Ziyad lebih dari 4.000 pasukan.

            Akibat jumlah yang tidak seimbang tersebut maka pada tanggal 10 Muharram tahun 61 H, terbunuhlah al-Husain di tangan pasukan Ibnu Ziyad dalam keadaan terzalimi. Semoga Allah mengampuni semua kesalahan kita semua dan mengumpulkan kita di surga-Nya yang maha luas.

Untuk orang tua dan pendidik:

  1. Jelaskan kepada anak bahwa pertempuran ini termasuk fitnah yang menguji keimanan kaum muslimin pada saat itu hingga sekarang.
  2. Jelaskan kepada anak bahwa peringatan hari Asyura oleh Syi’ah adalah sebuah kesalahan. Karena jika mereka bersedih lantaran kematian al-Husain, mengapa dahulu nenek moyang mereka tidak membantu al-Husain saat dikepung oleh tentara Ibnu Ziyad.
  3. Jagalah diri dan keluarga kita dari bahaya Syi’ah yang sekarang mulai gencar menyerang.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *