Anak Menolak Saudara Baru

Anak Menolak Saudara Baru 

Oleh : Ummu Muhammad Widyastuti Husadani, S.Psi

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Tahun ajaran baru kemarin saya berinisiatif memanggil salah satu keponakan istri saya dari kampung untuk disekolahkan di TK. Pertimbangan saya, karena orang tua anak tersebut telah bercerai dua bulan sebelum Ramadhan yang lalu.

Kita sebut saja namanya Dh. Dia adalah seorang putri berusia 6 tahun yang ikut ayahnya tinggal di kampung setelah bercerai dari mamanya di Jakarta. Ayah Dh belum memperoleh pekerjaan. Karena itulah saya memohon kepada mertua, ipar dan istri supaya Dh boleh ikut tinggal bersama kami, sehingga bisa bersekolah.

Saya dan istri telah mempunyai dua orang anak. Yang pertama, anak laki-laki usia 12 tahun, kelas 6 SD. Yang ke dua, anak perempuan usia 9 tahun, kelas 3 SD. Setelah beberapa minggu Dh tinggal bersama kami, muncul masalah yang tidak saya perkirakan sebelumnya.

Anak pertama mulai menampakkan rasa cemburu berlebihan. Padahal mereka dulunya akur baik ketika bermain, pergi mengaji atau shalat di masjid, makan dan belajar. Saya perhatikan bahwa si sulung selalu mengancam dan memukul sepupunya kalau tidak ada yang melihat. Saya dan istri sering menegur, menasihati, dan juga sampai memarahi, tapi ia selalu membuat alasan yang tidak-tidak. Bahkan suatu ketika ia mengatakan bahwa kami hanya memperhatikan Dh. Adik yang tadinya selalu main bersama Dh, ia pengaruhi supaya tidak mau lagi menemani Dh.

Saya dan istri merasa capek menegur anak pertama supaya tidak berperilaku seperti itu, tetapi dia malah melawan. Mohon diberikan masukan yang insya Allah bermanfaat. Amin.

(xxxxxxxabdulxx@gmail.com)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Bapak Penanya yang baik, perubahan adalah kondisi yang mudah sekali menimbulkan rasa tidak nyaman bagi anak-anak. Perubahan sikap putra bapak terhadap sepupunya, Dh kemungkinan disebabkan oleh terjadinya perubahan yang tidak Anda sadari dalam hal rutinitas dan kebiasaan keluarga. Padahal rutinitas tersebut sangat penting baginya. Terlebih lagi bila ia termasuk anak yang sensitif terhadap perubahan. Ditambah lagi bila pada awalnya ia belum mengetahui rencana kepindahan Dh ke dalam keluarga Anda.

 Dalam permasalahan putra Anda ini ada beberapa hal yang bisa saya sarankan:

  1. Luangkan waktu khusus bersamanya.

Langkah awal untuk mengurangi rasa cemburu si Sulung adalah dengan meluangkan waktu khusus berdua dengannya. Anda (atau istri) bisa gunakan waktu khusus ini dengan bermain bersama, atau sekadar duduk berbincang di kamar atau lainnya. Usahakan untuk bisa meluangkan waktu semacam ini setiap hari, meskipun hanya 15 menit.

  1. Pahami sudut pandangnya dan luruskan.

Berusahalah untuk menggali isi hati dan pikirannya. Hindari mengkritik apa-apa yang ia ungkapkan. Kritikan hanya akan membuatnya membantah dan kemudian menutup diri. Bila ini terjadi, orang tua akan semakin kesulitan dalam memahami masalahnya.

Maka jadilah pendengar yang baik, jangan terburu-buru memberi masukan. Bila waktunya sudah tepat, luruskanlah kesalahan berpikirnya dengan mengajaknya menimbang masalah secara lebih realistis dan proporsional.

  1. Tumbuhkan empati dan rasa bersyukur.

Ajaklah anak untuk membayangkan dirinya sebagai Dh dengan segala kesulitannya. Ajaklah ia untuk merenungi bagaimana rasanya bila orang lain memperlakukan dirinya seperti perlakuannya terhadap Dh.

Tunjukkan kepada anak betapa ia mempunyai banyak kemudahan dan keberuntungan dibandingkan sepupunya, dan ajaklah untuk bersyukur. Sampaikan pula bahwa orang yang kurang bersyukur mudah sekali merasa kesusahan dalam hidupnya.

  1. Ajarkan bagaimana mengatasi konflik.

Tanamkan bahwa kekerasan tidak akan menyelesaikan konflik. Sekalipun ia berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan, keuntungannya tidaklah sepadan dengan kerugian yang ia dapatkan. Di antara kerugiannya adalah mendapatkan musuh, kebencian, perasaan takut ketahuan, dan didoakan kejelekan.

Ajarkan kepada anak bagaimana bersikap dewasa. Tunjukkan bagaimana seharusnya ia menyampaikan masalahnya secara baik kepada ayah dan ibu, mengungkapkan apa yang ia inginkan, dan membicarakan alternatif penyelesaiannya dengan kepala dingin.

  1. Ajarkan tentang Islam, tetapkan peraturan.

Anak-anak hendaknya telah kita biasakan dengan norma-norma Islam sebelum mencapai usia akil baligh. Dalam hal ini, Bapak perlu mengingatkan anak tentang adanya hukum qishash dalam Islam. Maksudnya, adalah untuk menunjukkan besarnya akibat dari menyakiti orang lain.

Agar anak sungguh-sungguh mau berusaha memperbaiki diri. Tegaskan bahwa Anda menginginkannya menjadi anak yang shalih serta selamat di dunia dan akhirat. Karena itu ia akan dihukum bila menyakiti sepupunya lagi. Sampaikan bentuk hukuman tersebut dengan jelas agar ia tidak ingin mengulang perbuatannya.

  1. Identifikasi sebab-sebab

Perlakuan putra sulung Anda terhadap sepupunya termasuk dalam kategori bullying. Adalah penting bagi orang tua untuk mengetahui dari mana anak mengenal perilaku semacam ini. Tujuannya adalah untuk mencegah berulangnya masalah yang sama di kemudian hari.

Jika ternyata anak meniru kawan-kawan di sekolah, maka ia perlu diminta untuk menjauh dari teman-teman tersebut. Kalau anak meniru tokoh-tokoh yang ada dalam tontonan, berarti Anda perlu lebih berhati-hati dalam menghindarkan anak dari tontonan-tontonan yang negatif.

Yang lebih dikhawatirkan, adalah bila ternyata putra Anda sendiri telah menjadi korban bullying, sehingga kemudian ia mempraktikkannya kepada orang lain yang lebih lemah. Bila ini yang terjadi, berarti ada masalah lain lagi yang juga perlu diatasi.

Lalu, bagaimana bila dengan upaya-upaya tersebut si Sulung tetap tidak berubah? Pertimbangkanlah untuk berkonsultasi langsung dengan psikolog atau mengembalikan Dh kepada ayahnya. Hal ini dikarenakan perlakuan negatif yang ia dapatkan secara terus-menerus dalam jangka panjang dapat mengakibatkan munculnya gangguan psikologis yang cukup serius. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *