Anak Suka Membanding Bandingkan

Pertanyaan:

Bismillah. Bagaimana cara menghilangkan kebiasaan anak yang suka membanding-bandingkan? Misalnya, membandingkan antara pengajarnya yang satu dengan yang lain, atau membandingkan makanan yang ada dengan makanan yang diberi oleh orang lain. Terkadang si kecil mengungkapkan perbandingan ini langsung di hadapan orang yang bersangkutan. Kami sebagai orangtua khawatir sikapnya ini akan menyakiti perasaan orang lain.

(Bapak Lutfi, Lampung)

Jawaban:

Bapak Lutfi yang baik, melakukan perbandingan sebenarnya adalah suatu kemampuan yang menunjukkan tingkat perkembangan kognitif anak.Setiap anak perlu memiliki kemampuan ini. Hanya saja dalam kasus putra/putri Bapak, iacenderung mengungkapkan pemikirannya, tidak sekadar berkata dalam hati. Sisi positifnya, hal ini menunjukkan bahwa ia termasuk anak yangcukup percaya diri dan mempunyai kemampuan yang cukup baik dalam berkomunikasi secara lisan.

Yang kemudian menjadi sumber ketidaknyamananorang tua adalah bahwa pemikiran tersebut iaekspresikan dalam situasi yang kurang tepat. Sesungguhnya hal ini juga dapat dimaklumi, mengingat anak-anak umumnya masih mempunyai cara berpikir yang cenderung egosentris. Artinya, si kecil belum bisa melihat persoalan dari sudut pandang orang lain. Iabelum bisa membayangkan dirinya berada dalam posisi orang lain yang sedang dibanding-bandingkan. Dengan demikian masalah yang ada di sini sebenarnya ialah pada pembentukanempati dan adab/sopan santun yang baik.

Mengajarkan adab/sopan santun kepada anak-anak bukanlah hal yang sangat sulit. Lain halnya bila anak sudah mencapai usia remaja. Maka mumpung belum terlanjur, upayakan untuk mulai mengajarkannya dengan memperhatikan beberapa prinsip berikut ini:

  1. Memberi contoh yang benar.

Hendaknya orang tua selalu menunjukkan sikap yang benar, adab/sopan santun yang sesuai dengan norma agama dan sosial. Dalam hal ini, orang tua sungguh-sungguh berusaha untuk tidak membanding-bandingkan sesuatu yang mengandung makna negatif di hadapan anak agar tidak ditiru.Jangan lupa, bahwa ketika anak meniru sikap atau perbuatan yang kurang baik, sering sekali mereka meniru dalam versi yang lebih buruk dari contohnya.

  1. Berikan pemahaman.

Sampaikan kepada anak bahwa sikap yang ia tunjukkan adalah tidak sopan, sehingga dapat membuat orang lain merasa terganggu.Tumbuhkan empatinya dengan mengajaknya membayangkan bila ada teman yang bersikap seperti itu kepadanya.Tekankan kepada si kecil bahwaia hanya boleh menceritakan kekurangan orang lain kepada ayah dan ibu saja, jangan sampai terdengar orang lain.

  1. Segera meluruskan.

Setiap kali anak mengulang sikap buruknya, segera hentikan perkataannya dan ingatkan bahwa itu tidak sopan. Menunda koreksi akan menyulitkan anak dalam mengingat sikap apa yang harus ia tinggalkan.

  1. Memberi motivasi.

Agar anak mau mengubah sikapnya dengan senang hati, tunjukkan kepadanya apa saja manfaat menjadi anak yang sopan santun.Di antaranya adalah mudah mendapat teman, disenangi banyak orang, dan gampang dipercaya.

  1. Berusaha konsisten.

Arahkan anak secara konsisten, tidak berubah-ubah.Jangan sampai hari ini dilarang, namun besok dibiarkan.Pendidikan yang kurang konsisten akan memperlambat terbentuknya sikap yang diharapkan.

  1. Memandangnya sebagai proyek jangka panjang.

Pembentukan sikap yang benar sering membutuhkan waktu yang cukup panjang.Terkadang sikap buruk anak muncul kembali pada situasi yang tak terduga.Bila ini terjadi, jangan memandangnya sebagai kegagalan.Tegur dan ingatkan, itu saja. Lihatlah ini sebagai proses yang dibutuhkan untuk memperkuat penanaman sikap yang baik pada anak.Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *