Fenomena Permusuhan yang Salah Kaprah

Fenomena Permusuhan yang Salah Kaprah 

Oleh: Abu Usamah al-Kadiri

Seorang muslim disifati oleh Allah ﷻ di dalam QS. al-Fath ayat 29, bahwa mereka sangat menyayangi sesama muslim dan amat keras permusuhannya terhadap orang-orang kafir.

مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِ ۗوَالَّذِيْنَ مَعَهٗٓ اَشِدَّاۤءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاۤءُ بَيْنَهُمْ

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.

Di tempat yang lain, Allah ﷻ juga menjelaskan bahwa setan merupakan musuh yang nyata bagi kita. Setelah itu semua, seharusnya kita sebagai muslim tak lagi bingung untuk menentukan siapa kawan dan lawan kita sebenarnya.

Namun disayangkan, ada saja sebagian muslim yang masih belum tahu (atau memang tak mau tahu) tentang siapa saja musuh yang seharusnya diwaspadai dan dibenci maupun kawan yang seharusnya diloyali dan disayangi. Sehingga banyak terjadi anomali dalam sikap cinta dan benci ini.

Sebagian muslim mengikuti tradisi jahiliah, mungkinkah tiba masanya?

Sebelum kedatangan Islam, masyarakat jahiliah (secara umum) adalah sebuah koloni yang sangat jelek akhlak serta ibadahnya. Mereka sering terlibat permusuhan hanya masalah yang sepele.[1]

Rasulullah ﷺ meninggalkan kita dalam keadaan agama Islam telah sempurna. Semua telah dijelaskan oleh Nabi dengan baik dan lengkap. Termasuk wasiat-wasiat, perintah dan ancaman, semua telah beliau sampaikan. Rasulullah pernah bersabda, bahwa nanti kaum muslimin ada yang mengikuti jalan hidup dan kebiasaan orang jahiliah.

Beliau ﷺ juga menjelaskan bahwa kehancuran umat Islam tidak akan berasal dari faktor musuh yang ada di luar, akan tetapi itu akan terjadi antar sesama muslim. Nabi ﷺ bersabda setelah berdoa sangat lama,

سَأَلْتُ رَبِّى ثَلاَثًا فَأَعْطَانِى ثِنْتَيْنِ وَمَنَعَنِى وَاحِدَةً سَأَلْتُ رَبِّى أَنْ لاَ يُهْلِكَ أُمَّتِى بِالسَّنَةِ فَأَعْطَانِيهَا وَسَأَلْتُهُ أَنْ لاَ يُهْلِكَ أُمَّتِى بِالْغَرَقِ فَأَعْطَانِيهَا وَسَأَلْتُهُ أَنْ لاَ يَجْعَلَ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ فَمَنَعَنِيهَا.

“Aku memohon tiga hal kepada Rabbku, maka Dia memberiku dua dan tak mengabulkan satu permintaanku. Aku memohon supaya Rabbku tidak menghancurkan umatku dengan sebab kekeringan dan paceklik, Dia pun mengabulkan. Aku meminta pula agar umatku tak dimusnahkan dengan bencana banjir, Dia pun mengabulkan. Lalu aku meminta agar pertikaian tak terjadi di antara mereka, namun Dia tak mengabulkan.” (HR. Muslim: 7442)

Memang sangat mengenaskan, akan tetapi mungkinkah sekarang waktu yang dimaksud itu adalah sekarang??

Semua rasa cinta dan benci dari seorang muslim harus didasarkan pada kecintaan dan kebencian karena Allah ﷻ, bukan karena selain-Nya. Dan itulah tali keimanan yang paling kuat. Rasulullah ﷺ menyebutkan,

 أَوْثَقُ عُرَى الْإِيْمَانِ اَلْمُوَالَاةُ فِي اللهِ وَ الْمُعَادَاةُ فِي اللهِ وَ الْحُبُّ فِي اللهِ وَ الْبُغْضُ فِي اللهِ

 “Tali keimanan yang paling kuat adalah loyalitas karena Allah dan permusuhan karena Allah. (Juga) rasa cinta karena Allah serta kebencian karena Allah.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir no. 11537, dihasankan oleh al-Albani karena banyaknya jalur yang menguatkan dalam as-Silsilah ash-Shahihah 4/306 no. 1728, dari sahabat Abu Dzar a\)

 Beberapa fenomena permusuhan yang salah alamat

Anomali permusuhan yang terpampang di depan mata kita dari sebagian saudara semuslim sudah tak lagi mengikuti kaidah dan cenderung ngawur. Banyak yang mendasari permusuhannya dengan kebodohan, hawa nafsu atau kebodohan dan hawa nafsu sekaligus.

Di antara bentuk anomali permusuhan yang salah alamat di atas ialah:

  1. Bermusuhan karena hawa bodoh terhadap ilmu agama. Syaikh Ibnu Baz v\ (Min Aqwal Samahat asy-Syaikh fi ad-Da’wah) pernah menyebutkan, bahwa seorang yang bodoh tidak bisa membangun, tetapi ia cenderung merusak. Karena itu banyak masalah yang timbul dari sebab kebodohan. Sama halnya di dalam masalah permusuhan, maka seorang yang bodoh cenderung tidak mengetahui mana yang harus dimusuhi dan mana yang selayaknya dijadikan kawan. Atau bilapun ia telah mengetahui mana lawannya serta kawannya, namun kadang ia tak mengerti bagaimana etikanya saat harus bermusuhan.

Di antara contoh yang termasuk dalam jenis ini ialah:

  • Saling bermusuhan karena hal-hal keduniaan, semisal masalah pekerjaan, berbenturan ide dan pendapat (selain masalah prinsip dalam agama). Rasul ﷺ bersabda, “Tidak halal bagi seseorang apabila ia memutuskan hubungan dengan saudaranya sesama muslim melebihi tiga hari, keduanya saling bertemu namun saling tak acuh satu sama lain. Sedang yang terbaik dari keduanya adalah yang memulai menegur dengan mengucapkan salam.” (HR. al-Bukhari: 5727, Muslim: 2560)
  • Saling bermusuhan karena seorang tokoh yang diidolakan, baik tokoh itu adalah seorang muslim yang fasik maupun seorang kafir. Bahkan, bila yang mendasari permusuhan ini adalah keberadaan orang kafir yang menjadi idola, maka dikhawatirkan muslim yang bermusuhan tersebut keluar dari Islam. (QS. al-Mumtahanah: 1)
  • Memusuhi pelaku maksiat atau seorang kafir (selain kafir yang sedang diperangi) sehingga tidak bermuamalah bersama mereka dengan muamalah serta pergaulan yang baik. Hal itu diniatkan untuk menampakkan permusuhan kita kepada mereka. Maka hal ini kurang benar, walaupun niatan dari orang ini baik. Sebab, sangat berbeda antara bermuamalah dengan baik kepada orang kafir atau fasik yang ahli maksiat dengan mencintai dan loyal kepada mereka.

Kita membenci kekafiran dan kefasikan mereka, namun itu semua tak menghalangi muamalah yang baik kepada semua makhluk, selama tak mempengaruhi keyakinan dalam hati. (QS. al-Mumtahanah: 8)[2]

  1. Bermusuhan karena memperturutkan hawa nafsu. Bila hawa nafsu yang mengontrol diri, maka kehancuranlah jawabnya. Ilmu tak lagi bermanfaat, karena jiwa telah dibutakan oleh nafsu angkara.

Di antara contoh yang termasuk dalam jenis ini ialah:

  • Contoh paling awal dari jenis permusuhan ini ialah permusuhan antara Iblis bersama anak turunnya melawan Adam beserta anak turunnya. Iblis mengetahui bahwa Adam p\ lebih mulia, ia juga tahu bahwa perintah Allah ﷻ wajib ditaati, namun Iblis enggan dan lebih memilih diusir dengan laknat dari surga yang abadi.
  • Di antaranya lagi, para da’i penyeru manusia kepada kesesatan. Ia pun tak segan menyerang para da’i kebenaran dan memusuhi mereka, walaupun pada asalnya para pembela kesesatan itu tahu mana yang benar dan yang salah.
  • Contoh lain, ialah seorang yang memaksakan kaidah tanpa dasar dan sedikit memaksa dalam masalah tahdzir (ultimatum) dan hajr (boikot). Bahwa siapa saja yang baik muamalahnya terhadap seorang yang ditahdzir atau dihajr, maka ia juga harus dijauhi dan diboikot. Padahal sudah jelas perbedaan antara sikap loyal dan muamalah yang baik sebagaimana disinggung di atas.
  1. Bermusuhan karena bodoh dan hawa nafsu. Permusuhan jenis ini lebih berat pengobatannya daripada dua jenis permusuhan di atas. Karena orang yang bodoh namun keras kepala, ia tak bisa diharapkan kebaikannya.

Di antara contoh yang termasuk dalam jenis ini ialah:

  • Orang-orang yang tak berilmu namun fanatik buta membela kelompok, tokoh kebanggaannya, atau yang lain dan akan memusuhi siapa saja yang berseberangan dengannya secara membabi buta. Kalbunya tak tergerak untuk mencari kebenaran, hawa nafsunya pun dibiarkan merajalela menguasai hati dan badan. Mereka tak ubahnya seperti hewan, bahkan lebih jelek.

Allah ﷻ berfirman (artinya): Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. al-A’raf: 179)

Ingatlah masa-masa indah dulu

Ingatlah saat-saat indah dahulu, manakala Islam masih berkembang sebelum menjadi kekuatan besar, para pendahulu kita yang shalih sibuk merajut tali-tali keimanan yang amat kuat sebelum kelak diwariskan kepada penerus mereka.

Namun lihat kini, tali iman yang kuat itu seakan telah mulai rapuh karena kita sia-siakan. Untaian dan simpul-simpul kuatnya mulai renggang tergerus oleh kebodohan dan kesombongan. Mungkinkah kita orang-orang yang disabdakan oleh Rasulullah ﷺ dalam haditsnya di atas, “Lalu aku meminta agar pertikaian tak terjadi di antara mereka, namun Dia tak mengabulkan.”?

Jika ya, maka amat jeleklah kita. Semoga Allah ﷻ menghindarkan kita dan semua kaum muslimin dari sebab-sebab yang dapat mengantarkan pelakunya menuju permusuhan yang dilarang oleh agama. Amin….


[1] Ar-Rahiq al-Makhtum hal. 35-47.

[2] Demikian pula yang dijelaskan oleh Syaikh Shalih al-Fauzan dalam Durus fi Syarh Nawaqidh al-Islam hal. 91-94.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *