Hindun binti Abi Umayyah

Kesetiaan Cinta dan Pengorbanan

Ummul Mukminin Hindun binti Abi Umayyah

Oleh: Ustadzah Gustini Ramadhani

        Ketika seseorang ditimpa musibah, tak ada pilihan kecuali bersabar.Enakatau tidak, buah itu mesti ditelan. Menangis dan meraung tak akan mengubah keadaan, bahkan bisa dikatakan hanya akan menambah kacau keadaan. Semestinya dalam keadaan itu kita memikirkan bagaiamana caranya agar musibah yang menimpa itu berujung kebahagiaan.Tidakhanya kebahagiaan dunia yang semu, tetapi juga mendapatkan kebahagiaan akhirat yang abadi. Kisah wanita teladan kita kali ini mengajarkan, bagaimana semestinya sikap seorang mukminah bila ditimpa musibah.

Ummu Salamah, putri bani Makhzum yang terhormat

        Beliau adalah Hindun binti Abi Umayyah bin al-Mughirah al-Qurasyiyyah dari bani Makhzum. Ayahnya adalah putra dari seorang Quraisy yang disegani dan terkenal dengan kedermawanannya. Ia dijuluki dengan “ZadarRakb“, yakni bekal perjalanan.Dijuluki demikian karena bila dia melakukan safar (perjalanan) tidak pernah lupa mengajak teman dan juga membawa bekal bahkan ia yang mencukupi bekal milik temannya. Adapun ibu beliau bernama ‘Atikah binti ‘Amir bin Rabi’ah al-Kinaniyah, dari bani Farras yang terhormat.

          Sebelum Islam,wanita ini dinikahi oleh Abu Salamah Abdullah bin Abdil Asad al-Makhzumi. Ketika Islam datang, pasangan suami istri ini termasuk orang-orang yang pertama beriman. Mereka merasakan bagaimana beratnya cobaan dan gangguan dari musuh-musuh Islam. Sampai akhirnya mereka meninggalkan negeri Makkah menuju Habasyah, berhijrah membawa keimanan. Di negeri inilah Ummu Salamahmelahirkan Zainab, Salamah dan Umar.

        Bersamaan dengan sobeknya naskah pemboikotan yang digantung di Ka’bah,maka secara tak langsung terhapuslah perjanjian dengan kaum kafir Quraisy yang merugikan. Maka kembalilah sepasang suami-istri ini ke Makkah bersama sahabat lainnya.

        Waktu berlalu. Manakala Nabi shallahu alaihi wasallam mengizinkan sahabatnya berhijrah ke Madinah, Abu Salamah bertekad untuk mengajak keluarganya hijrah.Namun menjalankan niat itu tak semudah yang dibayangkan.Banyakrintangan yang harus mereka hadapi, terutama dari keluarga sendiri yang akhirnya membuat mereka harus terpisah-pisah.Abu salamah dapat hijrah ke Madinah, sedang Ummu Salamah ditahan oleh keluarganya.Sementara putra mereka dibawa pergi oleh keluarga Abu Salamah.

Mencintai tak harus selamanya memiliki

        Setahun lebih Ummu Salamah merasakan getirnya kehidupan, sampai ada juga orang yang kasihan melihatnya setiap hari menangisi suami dan anaknya. Akhirnyasuami istri yang saling mencintai ini berkumpul kembali. Selama di Madinah,Ummu Salamah sibuk mendidik anaknya -inilah tugas pokok bagi wanita- dan mempersiapkan sesuatu sebagai bekal suaminya untuk berjihad dan mengibarkan bendera Islam. Dalam suatu peperangan,Abu Salamah terluka sangat parah sehingga mengharuskan beliau terbaring. Di saat dia mengobati lukanya, ia berkata kepada istrinya, “Ummu Salamah, aku dengar Rasulullahshallahu alaihi wasallam bersabda:

“Tiada seorang muslimpun yang ditimpa musibah kemudian dia mengucapkan kalimat istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un), dilanjutkan dengan berdoa, ‘Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibah ini dan gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya’, melainkan Allah akan menggantikan yang lebih baik darinya.

        Tak lama Ummu Salamahberdampingan dengan suami yang dicintainya,Abu Salamah harus mendahuluinyapergi menghadap Rabb-nya akibat luka yang dideritanya. Ummu Salamah melepas kepergian Abu Salamah pada bulan Jumada Tsaniyah tahun empat Hijriyah.Ummu Salamah menghadapi ujian tersebut dengan hati yang dipenuhi dengan keimanan dan jiwa yang diisi kesabaran.Beliaupasrah dengan ketetapan Allah ta’ala. Masih terngiang ditelinganya doa yang diajarkan Abu Salamah kepadanya.Sebenarnya ada rasa tak enak manakala dia membaca doa,“Dan gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya.”Hatinya bertanya-tanya,“Siapa gerangan yang lebih baik dari Abu Salamah?”Tetapi,walau pilu ia rasa,Ummu Salamah tetap menyempurnakan doanya agar bernilai ibadah.

Kejutan itu bernama Rasulullah shallahu alaihi wasallam

        Waktu terus berjalan. Ummu Salamah telah melalui masa ‘iddahnya sepeninggal Abu Salamah. Datang seorang yang paling mulia setelah Rasulullahshallahu alaihi wasallam, Abu Bakar a\berniat meminangnya. Ummu Salamah tegas menolak. Setelah itu, datang pula Umar bin Khaththab a\, menawarkan pinangan pula kepada Ummu Salamah. Kembali Ummu Salamah menyatakan penolakannya.

        Ternyata Allah ta’ala hendak menganugerahkan sesuatu yang lebih besar daripada itu semua. Rasulullah mendatangi Ummu Salamah, membuka pintu baginya untuk memasuki rumah tangga nubuwwah. Ummu Salamah menjawab tawaran itu, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku wanita yang sudah cukup berumur.Akumemiliki anak-anak yatim, lagi pula aku wanita yang sangat pencemburu.” Dari balik tabir, Rasulullahmenanggapi, “Adapun masalah umur, sesungguhnya aku lebih tua darimu. Tentanganak-anak, maka Allah akan mencukupinya. Sedangkan kecemburuanmu, maka aku akan berdoa kepada Allah agar Dia menghilangkannya.

        Tak ada lagi yang memberatkan langkah Ummu Salamah untuk menyambut uluran tangan Rasulullah. Bulan Syawal tahun empat setelah hijrah adalah saat-saat terindah bagi Ummu Salamah.Allah telah menjawab doanya.Iabenar-benar mendapatkan seorang yang lebih baik dari Abu Salamah, bahkan tidak hanya Abu Salamah, tetapi semua lelaki didunia ini! Rasulullah! Dan demikianlah ia awali hidupnya yang baru di samping seorang yang paling mulia.

        Maka jadilah Ummu Salamah sebagai Ummul mukminin. Kedudukanyang sangat bergengsi dan hanya dimiliki beberapa wanita saja didunia. Ummu Salamah,salah seorang dari Ummahatul Mukminin yang memiliki banyak keistimewaan dan keutamaan.Diantaranya, ia termasuksatu dari tiga Ummahatul Mukmininyang ketika wahyu diturunkan, Rasulullahshallahu alaihi wasallamsedang berada dirumahnya. Rasulullahshallahu alaihi wasallammenyebutnya dan anak-anaknya sebagaiAhlu Bait. Rasulullahjuga mendengarkan pendapatnya, serta masih banyak lagi keutamaannya yang lain.

Saatnya menutup mata dengan bahagia

          Setelah Rasulullahmenghadap ar-Rafiqul A’la, Ummu Salamah senantiasa memperhatikan urusan kaum muslimin dan mengamati peristiwa-peristiwa yang terjadi. Beliau selalu andil dengan kecerdasannya dalam setiap persoalan guna menjaga lurusnya umat ini dan mencegah mereka dari penyimpangan, terlebih lagi terhadap para penguasa dari para khalifah maupun para pejabatnya. Beliau singkirkan segala kejahatan dan kezaliman terhadap kaum muslimin.Beliauterangkan kalimat yang benar dan tidak takut terhadap celaan dari para pencela dalam rangka melaksanakan perintah Allah ta’ala.

          Tatkala tiba bulan Dzulqa’dah tahun 59 setelah hijrah, ruhnya menghadap Sang Pencipta dengan bahagia.Sedangkanumur beliau sudah mencapai 84 tahun.Beliaulah Ummul Mukminin yang paling terakhir wafatnya. Ummu Salamah meninggalkan dunia setelahbanyak meninggalkan banyak manfaat untuk umat, dari hadits-hadits Nabi yang banyak diriwayatkannya serta telah berhasil memberikan contoh kepada wanita dalam hal kesetiaan, jihad dan kesabaran.Wallahu ta’ala a’lam.

Referensi:

  • AlIshabah
  • SiyarA’laminNubala’
  • UmmahatulMuminin
  • – Mausu’ HayatiashShahabiyyat

                S

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *