Jagalah Hatimu, Karena Ialah Rajanya

Jagalah Hatimu, Karena Ialah Rajanya 

Oleh: Abu Kayyisah 

Banyak yang mengatakan bahwa hati adalah pusat segala aktivitas seorang manusia. Di dalam hati ia memikirkan, merencana, mempertimbangkan, kemudian dilanjutkan oleh anggota badan yang lain saat tiba masanya eksekusi. Hati adalah kreator, dalam hal kejahatan maupun kebajikan. Beruntunglah orang-orang yang menyucikan hatinya dan amat sangat rugi mereka-mereka yang mengotori kesucian hatinya.

Syaikh Muhammad Hassan , salah satu da’i as-Sunnah yang ada di Mesir pernah membawakan satu kisah dalam sebuah majelisnya. Kisah tersebut berkenaan dengan kedudukan hati yang sangat vital bagi diri manusia. Bahkan ia masih dapat berperan dominan saat semua anggota badan tak berfungsi lagi.

Beliau mengatakan, “Dan telah berkata Imam kita, Ibnu Katsir , ‘Sungguh Allah ﷻ telah memberlakukan takdir dengan kemurahan-Nya. Bahwa barangsiapa yang terbiasa hidup di atas sesuatu maka ia akan meninggal pula dalam keadaan seperti itu. Dan siapa saja yang meninggal dalam sebuah keadaan tertentu, maka ia akan dibangkitkan pula dalam keadaan yang semisal itu,’ ……… Siapa saja yang terbiasa hidup di atas ketaatan, ia pun akan mati di atas ketaatan. Allahu Akbar….!!”

Beliau melanjutkan kisahnya, “Demi Allah yang tiada sesembahan berhak diibadahi selain Dia, salah satu kenalanku yang berprofesi sebagai dokter pernah bersumpah di hadapanku.

Katanya, ‘Di antara pemandangan yang sangat membuat diriku heran, wahai Syaikh, ada seorang penghafal al-Qur’an yang datang kepada saya untuk dilakukan tindakan operasi. Usianya saat itu sudah 60 tahun lebih. Jenggotnya putih, wajahnya nampak bercahaya. Namun ketika ia sudah mengenakan baju operasi, orang tua itu menangis. Lalu dokter berkata kepadanya untuk menenangkan, ‘Mengapa Anda menangis? Masya Allah, Anda adalah seorang penghafal Qur’an, wajah Anda nampak berseri…? Anda pantas memimpin kami (ketika shalat).’

Kakek tua itu menjawab, ‘Wahai anakku, aku tak menangis karena takut akan mati ataupun takut dengan tindakan operasi.’

Dokter kembali bertanya, ‘Lalu, mengapa Anda menangis?’

Sang kakek menjawab, ‘Aku tahu bahwa proses operasi mungkin akan memakan waktu lama, sekitar 4 jam atau lebih. Aku menangis karena pada hari ini aku akan kehilangan waktu yang biasa kusediakan untuk dzikir harianku dengan membaca al-Qur’an.’ (!!)

Dokter yang heran kembali bertanya, ‘Berapa juz biasanya Anda membaca Qur’an setiap hari?’

Sang Kakek menjawab, ‘Alhamdulillah, aku biasanya membaca sepuluh juz setiap hari, sehingga setelah tiga hari aku mengkhatamkannya. Dan sekarang ini aku hawatir akan kehilangan waktu khususku untuk membaca al-Qur’an.’

Kenalan saya itu mengungkapkan, ‘Demi Allah, pada saat mendengar perkataan sang kakek saya merasa sangat rendah sekali di hadapan dia. Seorang tua yang tengah sakit, berada pada proses operasi, menangis karena harus kehilangan waktu khusus yang dia sediakan untuk membaca al-Qur’an!! Sedangkan saya, sehat, segar, bugar, namun tak merasa sedih ketika seminggu, bahkan sebulan tak pernah membaca satu ayat pun dari Kitabullah…?!!’

Si kakek lalu menatap dokter kemudian berkata, ‘Wahai anakku, aku memiliki dua buah permintaan. Aku ingin shalat dua rakaat. Setelah itu, jika kalian telah meletakkan diriku di atas pembaringan untuk dioperasi, aku mohon tinggalkan aku sendiri satu jam penuh. Supaya aku bisa memulai bacaan dzikir al-Qur’anku seperti biasa. Jika sudah satu jam, silakan bius saya seperti para pasien yang lainnya. Setelah itu aku hanya bisa mendoakan bagi kalian supaya diberi taufik oleh Allah ﷻ pada saat membedah tubuhku.’

Para dokter pun mengiyakan serempak.

Ketika sang kakek telah berada di pembaringan, ia pun mulai membaca al-Qur’an dari hafalannya! Karena dia termasuk penghafal Qur’an. Setelah satu jam berlalu, salah satu dokter membiusnya. Sang kakek pun tak sadarkan diri.’”

Syaikh Muhammad Hassan meneruskan, “Kenalan saya tadi bersumpah sekali lagi dengan nama Allah kepada saya, lalu ia berkata, ‘Demi Allah, wahai Syaikh Muhammad, orang tua ini tetap meneruskan bacaannya dengan suara yang jelas terdengar sepanjang proses pembedahan!’”

Saudaraku, lihatlah kisah yang dibawakan oleh Syaikh Muhammad Hassan di atas. Dalam alam bawah sadar, kakek tua itu terus melanjutkan bacaan Qur’annya. Anda tahu mengapa? Karena semua anggota badan tunduk kepada hati. Jika hati tersibukkan dengan al-Qur’an, niscaya anggota badan lainnya juga ikut tersibukkan dengan al-Qur’an.

Abu Hurairah a\ pernah mengatakan, “Hati adalah raja, sedangkan anggota badan lainnya adalah pasukan dan rakyatnya. Jika hati baik, maka pasukan dan rakyat akan ikut menjadi baik, namun jika raja seorang yang busuk, pasukan dan rakyat pun akan ikut menjadi busuk.”

Merenung kembali

Saudaraku, setelah membaca kisah di atas, nyatalah bagi kita bahwa kedudukan hati amatlah penting. Ia ibarat raja yang berkuasa atas para rakyat dan pasukannya. Hati yang memerintah, membisiki, membuat ide dan perencanaan. Sedangkan anggota badan lainnya hanyalah pelaksana dari perintah hati.

Karenanya, amatlah bahaya orang yang sudah terkunci mati hatinya. Karena sudah barang tentu ia tak akan dapat menerima saran dan nasihat dalam kebaikan. Ia pun dapat dipastikan akan memperoleh akhir kehidupan yang tragis.

Tak mengherankan jika Rasulullah ﷺ saja sering mengulang-ulang doa kepada Allah ﷻ agar hati beliau ditetapkan di atas agama-Nya dan keimanan. Maka dari itu, bagaimanakah dengan keadaan kita?

“Ya Allah, Dzat Yang membolak-balik hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu. Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami di atas ketaatan pada-Mu…” Amin…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *