Kenyataan Kehidupan

Saudaraku, Inilah Kenyataan Kehidupan Kita

Oleh: Amatus Sattar Ummu Muhammad al-Ausath – Bekasi

            Saudaraku yang sedang galau, gundah dan gulana. Ke manakah engkau larikan luka hatimu yang perih? Ketika engkau kehilangan seseorang yang kau cintai, atau kehilangan sesuatu yang begitu berarti dalam hidupmu. Di saat engkau merasa berat menggenggam panasnya bara Sunnah di tengah kehidupan manusia yang didominasi oleh kebebasan hawa nafsu, merasa pilu dengan perlombaan dalam perkara dunia yang menyesakkan dada, saat engkau mengernyitkan dahi karena harus menelan pahitnya kedengkian sesama muslim dan menutup telinga karena kerasnya gema pemikiran yang menuhankan kesenangan semu yang mendiktekan kepada jiwa yang sakit bahwa manusia dapat bertahan hidup tanpa tawakkal kepada Rabbnya. Untukmu saudaraku yang kucintai karena Allah, yang hidup di tengah zaman keterasingan dan langkanya para pengibar bendera Rasulullah ﷺ. Di tengah manusia yang belum banyak mengenal kemuliaan Islam.

Saudaraku, apakah kehidupan kita seperti ini?

            Saudaraku, di tengah keterasinganmu dan ketika rasa itu semakin sakit, maka marilah kita lipur hati yang terkoyak ini dengan mendengar untaian dialog yang menyentuh jiwa dari Syaqiq al-Balkhi[1] dengan muridnya, Hatim al-Asham. Ketika Syaqiq bertanya kepada Hatim:

            “Wahai Hatim, kamu sudah bergaul denganku beberapa waktu lamanya. Apa yang telah kamu pelajari?” Melalui kecerdasan yang telah Allah karuniakan kepadanya, Hatim menjawab dengan membeberkan delapan poin penting sebagai inti dari pergaulan mereka selama ini:

“Pertama: Aku memperhatikan manusia, dan ternyata setiap orang memiliki orang yang dicintai. Namun bila sudah tiba di kuburan, keduanya berpisah. Maka aku menjadikan yang kucintai adalah kebaikan-kebaikanku agar ia senantiasa bersamaku hingga di alam kubur.

Kedua: Aku membaca firman Allah ﷻ (yang artinya): ‘Dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya.’ (QS. an-Nāzi’āt: 40) Maka aku berupaya keras agar jiwaku melawan hawa nafsunya, sehingga ia bersemayam di atas ketaatan kepada Allah.

Ketiga: Aku melihat siapa saja yang memiliki sesuatu yang berharga akan ia jaga. Kemudian aku memperhatikan firman Allah ﷻ (yang artinya), ‘Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang di sisi Allah adalah kekal.’ (QS. an-Nahl: 96) Karenanya, setiap aku mempunyai sesuatu yang berharga, aku akan memberikannya kepada Allah agar ia tetap terjaga di sisi-Nya.

Keempat: Aku lihat orang-orang yang saling berlomba dalam urusan harta, kedudukan dan kemuliaan, padahal ia bukan apa-apa. Lalu aku memperhatikan firman Allah ﷻ (yang artinya), ‘Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu.’ (QS. al-Hujurāt: 13) Maka aku berusaha bertakwa agar menjadi orang yang mulia di sisi-Nya.

Kelima: Aku melihat orang-orang saling dengki, lalu aku memperhatikan firman Allah ﷻ (yang artinya), ‘Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.’ (QS. az-Zumar: 32) Maka aku pun meninggalkan sifat dengki.

Keenam: Aku melihat manusia saling bermusuhan, lalu aku memperhatikan firman Allah ﷻ (yang artinya), ‘Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu).’ (QS. Fāthir: 6) Maka aku tidak memusuhi manusia dan (sebaliknya) menjadikan setan sebagai satu-satunya musuhku.

Ketujuh: Aku melihat manusia merendahkan diri mereka dalam mencari rezeki, maka aku memperhatikan firman Allah ﷻ (yang artinya), ‘Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah yang memberi rezekinya.’ (QS. Hūd: 6)

Kedelapan: Aku melihat mereka bertawakal (mengandalkan terhadap) perdagangan, pekerjaan dan kesehatan tubuh mereka, maka aku (hanya akan) bertawakal kepada Allah ﷻ (saja).”

Saudaraku, mungkin petikan dialog di atas dapat sedikit mengobati kegalauan jiwa kita yang semakin merana. Semoga kita tetap istiqamah di atas jalan kebenaran hingga akhir hayat. Jangan lupa, panjatkanlah juga sebuah doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ, teladan kita,

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِكَ أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ وَنُوْرَ صَدْرِيْ وَجَلاَءَ حُزْنِيْ وَذَهَابَ هَمِّيْ

Ya Allah, sesungguhnya aku ini adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu (laki-laki), anak dari hamba-Mu (yang perempuan). Ubun-ubunku berada di tangan-Mu, mengikuti keputusan takdir-Mu dan berjalan sesuai dengan ketetapan-Mu. Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang menjadi milik-Mu, nama yang Engkau lekatkan sendiri untuk diri-Mu atau yang Engkau sebutkan dalam kitab-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang di antara hamba-Mu, atau yang Engkau sembunyikan dalam ilmu kegaiban-Mu; kiranya Engkau menjadikan al-Qur’an ini sebagai penyejuk hatiku, cahaya dalam dadaku, penghilang kesedihanku dan penolak rasa gundahku.” (HR. Ahmad: 4318 dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib: 1822)

Semoga Allah selalu memberikan kita kemudahan dalam meniti jalan hidayah-Nya. Amin.

Sumber:

–          Mukhtashar Minhajul Qashidin edisi terjemah, penerbit: Darul Haq.

–          Doa dan Wirid, penerbit: Pustaka at-Tibyan.


[1] Beliau adalah Abu Ali Syaqiq bin Ibrahim al-Azdi al-Balkhi. Seorang ulama Ahli Sunnah abad kedua hijriah. Beliau adalah guru dari Hatim al-Asham. Beliau gugur di medan pertempuran Kulan tahun 194 H. Biografi beliau dapat dilihat dalam Siyar A’lamin Nubala’.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *