Virus Laten Lalai

Virus Laten Lalai
Oleh: Abu Bakr

Tatkala gemerlap dunia kian indah dan menghanyutkan, manusia semakin lupa akan hari kematian apalagi memperbanyak bekal untuk hari kebangkitan. Mall dan tempat hiburan jadi pilihan, masjid-masjid dan majelis taklim ditinggalkan. Ponsel dan berita jadi konsumsi harian, sementara membaca al-Qur’an hanya musiman. Ya, kita hidup di zaman yang sangat melalaikan sehingga mati menjadi suatu kebencian dan akhirat makin dilupakan.

Ibnu Umar d\ pernah menjual seekor unta yang bagus, lalu dikatakan kepadanya, “Kenapa tidak engkau tahan saja?” Beliau menjawab, “Ia memang sangat cocok buatku, namun ia telah mengambil sebagian hatiku dan aku tidak ingin hatiku sibuk dengannya…” (Shifat ash-Shafwah 1/273)

Lalu bagaimana jika hati kita telah terserak dengan pernak-pernik dunia ini…?? Bukankah akan semakin sibuk dan lalai…??

MAKNA LALAI

Berkata al-Jurjani, “Lalai adalah memperturutkan diri dalam sesuatu yang disenanginya.” (At-Ta’rifat: 2019) Berkata al-Ashfahani, “Lalai, yaitu lupa pada diri manusia yang disebabkan tidak ada penjagaan dan perhatian.” (Al-Mufradat 2/156) Lalai juga bisa bermakna, hilangnya kesadaran pada sesuatu yang seharusnya harus disadari. (Faidhul Qodir 1/262)

BAHAYA LATEN LALAI

Lalai termasuk penyakit hati yang ganas. Allah ﷻ mencela sifat lalai dan memperingatkan Nabi-Nya serta para hamba-Nya agar tidak menjadi orang-orang yang lalai dan berteman dengan orang yang lalai, karena akan membuat rugi di akhirat nanti. Allah ﷻ berfirman (yang artinya):

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. al-Kahfi: 28)

Dari Abu Hurairah a\, Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah sekelompok orang yang bangun dari suatu majelis yang tidak disebut nama Allah di dalamnya kecuali mereka bangun seperti bangkai keledai dan mereka akan mengalami kerugian.” (Shahih; HR. Abu Dawud: 4855, at-Tirmidzi: 3380)

JENIS-JENIS LALAI

Lalai ada dua macam:

  1. Lalai yang terpuji, yaitu lalai dari berbuat maksiat dan segala sesuatu yang tidak diridhai oelh Allah ﷻ. Allah berfirman (yang artinya):

Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah (berbuat zina) lagi beriman,  mereka kena la’nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka adzab yang besar. (QS. an-Nur: 23)

  1. Lalai yang tercela, yaitu lalai dari menaati Allah ﷻ, mengingat-Nya, dari hari kiamat, hisab dan pembalasan amal. Lalai yang tercela terbagi beberapa macam:
  2. Lalai yang datangya sewaktu-waktu. Lalai jenis ini sering menimpa orang-orang shalih -semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan mereka– pada saat-saat tertentu, namun mereka segera sadar kembali. Allah ﷻ berfirman (yang artinya):

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa waswas dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. (QS. al-A’raf: 201)

Lalai yang terus-menerus.

Adapun penyebab dari lalai jenis ini adalah:

  1. Ambisi terhadap dunia.
  2. Tidak merasa berdosa dengan kelalaian tesebut.
  3. Mengikuti hawa nafsu.
  4. Terlalu sibuk dengan urusan mencari nafkah.
  5. Sibuk dengan permainan dan olahraga.
  6. Bergaul dengan orang-orang yang lalai.
  7. Terlena dengan kelezatan hidup serba instan dan mewah.

Dari Ibnu Abbas d\, dari Nabi ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang memburu buruan maka ia akan lalai.” (HR. Abu Dawud: 2859) Berkata al-Hafizh, “Hadits ini dibawa kepada orang yang  rutin melakukannya, sehingga ia melupakan maslahat agama yang lain.” (Fathul Bari 9/662)

FENOMENA LALAI MASA KINI
  1. Lalai dari mempelajari agama.
  2. Lalai dari mempelajari Kitabullah, membaca dan mengajarkannya.
  3. Lalai dari dzikrullah.
  4. Lalai dari mengikhlaskan niat.
  5. Lalai dari amalan-amalan sunnah. (Al-Ghaflah, Syaikh Shalih al-Munajjid: 24-36)
TANDA-TANDA ORANG YANG LALAI
  1. Malas melakukan ketaatan.
  2. Meremehkan dosa-dosa.
  3. Senang dengan kemaksiatan.
  4. Menyia-nyiakan waktu tanpa faedah. (Al-Ghaflah, Syaikh Ibnu ‘Ali al-Qahthani: 20-26)
 SOLUSI DARI KELALAIAN…
  • Rutin membaca al-Qur’an dan menghadiri majelis ilmu.

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.  (QS. Thaha: 124)

  • Menjaga dzikir di setiap keadaan baik dzikir mutlak (bebas) atau muqayyad (terbatas).

Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (QS. al-A’raf: 205)

  • Menjaga shalat lima waktu dengan berjamaah.

Dari Abu Hurairah a\, Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang menjaga shalat yang lima waktu ini maka ia tidak dicatat sebagai orang yang lalai.” (HR. Ibnu Khuzaimah 2/280, ash-Shahihah: 643)

  • Bersemangat mengerjakan Qiyamul lail.

Dari Abdullah Ibnu ‘Amru bin al-‘Ash d\, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang shalat malam membaca 10 ayat maka ia tidak dicatat sebagai orang yang lalai.” (Shahih Sunan Abi Dawud 1/387)

  • Menjaga shalat-shalat sunnah seperti shalat Rawatib, Dhuha, dan Witir.

Rasulullah ﷺ menyebutkan tentang shalat Dhuha, “Shalat awwabin adalah tatkala anak unta mulai kepanasan.” (HR. Muslim)

 Awwabin, artinya orang-orang yang taat, orang-orang yang kembali kepada Allah. Dinamakan demikian karena di waktu itu manusia sangat sibuk dengan dunianya, sehingga lalai dan sedikit yang melakukannya.

Berkata Bakar al-Muzani, “Setiap kali dunia ini terbuka sedikit maka jiwa pun akan semakin terbuka dengannya.” (Mausu’ah Ibnu Abi ad-Dunya 4/119)

Berkata Abi Utsman al-Hairi, “Kegembiraanmu dengan dunia akan menghilangkan kegembiraanmu dengan Allah dari dalam hatimu.” (Tahdzib as-Siyar)

PETUAH PARA SALAF

Berkata Muhammad Ibnu Wasi’, “Telah berkata Khalid al-Mishri, ‘Kita semua meyakini kematian namun kita tidak bersiap-siap. Kita semua meyakini surga tetapi kita malas beramal. Kita semua meyakini neraka namun kita tidak takut. Wahai saudaraku, berjalanlah kepada Allah dengan perjalanan yang baik.’” (Mausu’ah Ibnu Abi Dunya 3/337)

Berkata Ibnul Qayyim, “Seukuran seorang hamba lalai dari mengingat Allah maka seukuran itulah ia jauh dari-Nya,”… “Tidak ada jalan bagi orang-orang  lalai untuk sampai ke derajat ‘ihsan’ sebagaimana tidak ada jalan bagi orang yang duduk di rumahnya untuk sampai ke Baitullah.” Beliau juga berkata, “Majelis dzikir adalah majelis Malaikat dan majelis kesia-siaan dan kelalaian adalah majelis setan.” (Al-Wabil ash-Shayib 1/65)

Allahummaj’alna minal qanitin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *