ABU ABDILLAH AL-QALANISI “Dan Seekor Gajah”

ABU ABDILLAH AL-QALANISI  Dan Seekor Gajah

Oleh: Ust. Mukhlis Abu Dzar al-Batawi

Dalam sebuah perjalanan saat Abu Abdillah al-Qalan isi menumpangi perahu, tiba-tiba angin kencang mengguncang perahu tersebut.Seluruh penumpang berdoa dengan khusyuk demi keselamatan mereka dan mereka mengucapkan sebuah nadzar.

Para penumpang berkata kepada Abu Abdillah, “Masing-masing kami telah berjanji kepada Allah dan bernadzar agar Allah Ta’alamenyelamatkan kami.Maka hendaknya kamu juga bernadzar dan bersumpah kepada Allah.”

Abu Abdillah menjawab, “Aku ini orang yang tidak peduli dengan dunia, aku tidak perlu bernadzar.”

Tetapi mereka memaksa.Lalu Abu Abdillah bersumpah, “Demi Allah, sekiranya Allah Ta’alamenyelamatkan aku dari musibah yang menimpaku maka aku tidak akan makan daging gajah.”

Mereka bertanya, “Apakah boleh bernadzar seperti itu?Apakah ada orang yang mau makan daging gajah?”Aku menjawab, “Itulah pilihanku, semoga Allah memberi ganjaran atas lisanku yang mengucapkan kata-kata itu.”

Benar, tidak lama kemudian kapal itu pecah.Para penumpang terdampar di sebuah pantai.Berhari-hari mereka berada di pantai tersebut tanpa makan sesuatu pun.

Ketika mereka sedang duduk beristirahat, ada anak gajah lewat didepanorang-orang. Mereka menangkap anak gajah tersebut, menyembelih lalu memakannya.Mereka menawari Abu Abdillah makan seperti mereka. Abu Abdillah menjawab, “Aku telah bernadzar dan bersumpah kepada Allah untuk tidak makan daging gajah.”

Mereka mengajukan alasan, bahwa ia dalam keadaan terpaksa, sehingga dibolehkan untuk membatalkannya. Abu Abdillah menolak alasan mereka dan tetap memenuhi sumpahnya.Setelah makan, mereka merasa kenyang lalu tidur.

Pada saat mereka tidur, induk gajah datang mencari anaknya.Iaberjalan mengikuti jejak anaknya sambil mengendus-endus. Hingga akhirnya ia menemukan potongan tulang si anak.

Induk gajah itu pun sampai di tempat perisitirahatan kaum. Abu Abdillah memperhatikannya.Satu demi satu orang dia ciumi. Setiap kali ia mencium bau daging anaknya pada orang itu, maka orang itu diinjak dengan kaki atau tangannya sampai mati. Kini mereka semua telah mati.

Tiba saatnya induk gajah mendekati Abu Abdillah, ia menciuminya tetapi tidak mendapatkan bau daging anaknya pada diri Abu Abdillah. Lalu ia menggerakkan tubuh bagian belakangnya, ia memberi isyarat, kemudian mengangkat ekor dan kakinya.

Dari gerakan tubuh gajah itu Abu Abdillah mengerti bahwa ia menghendaki agar dia menungganginya. Lalu Abu Abdillah naik, duduk dia atasnya.Sang gajah memberi isyarat agar ia duduk dengan tenang di atas punggungnya yang empuk. Ia membawa Abu Abdillah berlari kencang, sehingga malam itu juga tiba di sebuah perkebunan yang banyak pepohonan. Ia memberi isyarat agar Abu Abdillah turun dengan bantuan kakinya. Kemudian ia berlari lebih kencang daripada larinya saat ia membawanya tadi.

Di pagi hari, Abu Abdillah menyaksikan di sekelilingnya terdapat hamparan sawah, perkebunan, dan sekelompok orang.Orang-orang tersebut membawanya ke rumah kepala suku.Juru bicara suku itu memintanya berbicara.Kemudian, Abu Abdillah menceritakan tentang dirinya dan kejadian yang dialami sekelompok rombongan dalam perahunya.

Juru bicara itu bertanya kepada Abu Abdillah, “Tahukah kamu berapa jauh jarak perjalananmu dengan seekor gajah itu?”Dia jawab, “Tidak tahu!”Ia menjawab, “Sejauh perjalanan selama 8 hari! Sementara gajah itu membawamu lari hanya dalam satu malam.”

Selanjutnya, aku diperkenankan tinggal bersama mereka di desa tersebut sehingga mendapat pekerjaan.Setelah itu, Abu Abdillah pulang ke kampungnya.[1]

[1]Al-Hilyah 10/160.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *