AL-ALA’ BIN AL-HADHRAMI “Tiga permintaannya yang dikabulkan”

AL-ALA’ BIN AL-HADHRAMI rahimahullahu ta’ala anhu

Tiga permintaannya dikabulkan oleh Allah ta’ala

Ust. Mukhlis Abu Dzar al-Batawi

Diriwayatkan dari Sahm bin Munjab, dia berkata, “Dalam peperangan di wilayah ad-Darain –nama tempat di sekitar Bahrain—, al-Ala’ bin al-Hadhrami bersama-sama kami. Al-Ala’ memanjatkan tiga macam doa. Ketiga doa itu dikabulkan Allah ta’ala.

Kemudian kami berjalan bersama-sama, sehingga tiba di suatu tempat.Kami mencari air untuk berwudhu tetapi kami tidak mendapatkannya. Lalu al-Ala’ bin al-Hadhrami berdiri untuk mengerjakan shalat dua rakaat kemudian berdoa:

Ya Allah, Yang Mahamengetahui dan Mahabijaksana.Wahai Yang Mahatinggi dan MahaAgung.Sesungguhnya kami adalah para hamba-Mu yang sedang dalam perjalanan untuk memerangi musuh-Mu.Turunkanlah hujan kepada kami agar kami dapat minum, juga berwudhu dari hadats.Jika kami telah meninggalkan tempat itu, janganlah ada seorang pun yang Engkau beri jatah dari air hujan itu.

Belum jauh jarak perjalanan yang kami tempuh, kami tiba si sebuah sungai deras yang airnya berasal dari air hujan. Dia berkata, ‘Kita berhenti di sungai ini dulu untuk minum.‘Aku mengisi bejanaku, lalu sengaja meninggalkannya di tempat itu.Aku berkata, ‘Aku akan lihat, apakah betul permohonannya dikabulkan?’

Kemudian, kami berjalan kurang lebih satu mil.Aku berkata kepada teman-temanku, ‘Aku lupa, bejanaku tidak terbawa. ’Aku kembali lagi ke tempat itu, maka aku mendapati seolah-olah di sekitar daerah itu tidak pernah turun hujan.Selanjutnya, aku ambil bejanaku dan membawanya kembali.

Setelah kami sampai di ad-Darain, kami mendapati di hadapan kami terbentang sungai yang menghalangi antara kami dan pasukan musuh. Ketika itu Al-Ala’ memanjatkan doa lagi:

‘Wahai Allah, Dzat Yang Maha mengetahui, Yang Mahalembut, Yang Mahatinggi, Yang Maha Agung. Sesungguhnya kami adalah para hamba-Mu, kami dalam perjalanan memerangi musuh-Mu, bukalah jalan untuk kami menuju musuh-Mu.’

Tidak terduga, kami dapat melewati sungai tersebut.Bahkan, kuda-kuda kami satu pun tidak basah terkena air, sehingga kami dapat berhadapan dan menyerang musuh.

Setelah kami kembali dari peperangan, al-Ala’ mengeluh sakit perut, yang menyebabkannya meninggal dunia.Sedangkan kami tidak mendapati air untuk memandikan jenazahnya.Kemudian kami kafani dengan baju yang dia kenakan lalu kami kuburkan.

Tidak berapa lama dari perjalanan kami, kami mendapatkan mata air.Kemudian kami saling berkata, ‘Marilah kita balik ke tempat itu untuk mengeluarkan jenazah al-Ala’ dan memandikannya.’ Kami semua kembali, menyusuri tempat ia dimakamkan. Ternyata, kami tidak mampu menemukan makamnya.Dengan demikian, kami gagal memandikan jenazahnya.

Kemudian ada seorang laki-laki berkata, ‘Aku pernah mendengar dia berdoa kepada Allah:

‘Ya Allah, Dzat Yang Mahamengetahui, Mahasantun dan Maha Agung, sembunyikanlah jenazahku. Jangan Engkau perlihatkan auratku kepada seorang pun.’

Kamipun kembali dan meninggalkan jasad al-Ala’ yang telah dimakan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *