Abu Musa al-Asy’ari

Abu Musa al-Asy’ari Radhiallahu anhu

Oleh: Ust. Abdur-Rahman al-Buthoni

Berkata Imam Ahmad,“Ushul (pokok) Sunnah bagi kita adalah berpegang teguh pada apa yang ditempuh oleh para sahabat Nabi….”

Usul Sunnah artinya pokok akidah.Yaitu dasar utama akidah setiapmuslim adalah berpegang teguh kepada ajaran para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam. Lawannya adalah prinsip akidah bid’ah sesat adalah berpegang teguh pada ajaran yang bertentangan dengan ajaran para sahabat Nabi dan memusuhi mereka.

Oleh karena semua ahli bid’ah, bahkan ahli kufur seperti Jahmiyyah, Rafidhah,Batiniyyah, Ahmadiyyah mengaku Islam dan berpegang teguh kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, maka untuk menjelaskan antara yang haq dan batil, para ulama menjadikan prinsip berpegang teguh kepada ajaran para sahabat sebagai pembeda antara keduanya.Oleh karena itu,maka pokok akidah bagi umat Islam adalah berpegang teguh dengan ajaran para sahabat, sebagaimana kata Imam Ahmad dalam Ushul as-Sunnah.

KEUTAMAAN ABU MUSA Radhiallahu anhu

Beliau berkun-yah Abu Musa al-Asy’ari, bernama Abdullah bin Qais,Imam Besar, sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,dari bani Tamim, ahli fikih dan ahli Qur’an.

Beliau termasuk sahabat yang mengambil dan membaca al-Qur’an langsung dari Rasulullah dan mengajari penduduk Bashrah al-Qur’anserta mengajari mereka fikih Islam.

Dalam ash-Shahihain, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

اللهم اغْفِرْ لِعَبْدِ اللهِ بْنِ قَيْسٍ ذَنْبَهُ وَأَدْخِلْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُدْخَلًا كَرِيْمًا

“Ya Allah, ampunilah Abdullah bin Qais dosanya dan masukkan dia pada hari kiamat ke dalam surga.”(HR. al-Bukhari, Muslim)

Rasulullah mengutusnya sebagai da’i bersama Mu’adz bin Jabal ke Yaman kemudian datang ke Madinah pada malam perang Khaibar dan ikut berjihad bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam serta mengambil ilmu yang banyak darinya. Beliau menjadi wali kota Kufah dan Bashrah bagi Umar dan Utsman d\, dan beliau membebaskan kota Ashbahan pada zaman Khalifah Umar.

Tatkala Abu Musa datang menemui Mu’awiyah dan menginap di salah satu rumah maka Mu’awiyah keluar malam hari untuk mendengarkan bacaannya.

Abu Musa Radhiallahu anhu masuk Islam di Makkah lalu hijrah ke Habasyah dan datang bersama Muhajirin dari Habasyah menumpangi perahu.Sedangkan peperangan pertama kali yang beliau ikuti adalah Khaibar.

Beliau Juga membebaskan kotaTustar pada zaman Umar dan tidak ada pada sahabat yang paling bagus suaranya daripada beliau.Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memuji Ahli Hijratain(yang hijrah dua kali) dengan sabdanya:

لَكُمُ الْهِجْرَةُ مَرَّتَيْنِ هَاجَرْتُمْإِلَى النَّجَاشِيْ وَهَاجَرْتُمْإِلَيَّ

“Kalian memiliki hijrah dua kali; hijrah kepada an-Najasyi dan hijrah kepadaku.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Usamah bin Zaid dari Shafwan bin Sulaim berkata:“Tidak ada yang berfatwa di zaman Rasulullah kecuali Umar, Ali, Mu’adz dan Abu Musa al-Asy’ari.”

Dari Abu Salamah berkata:“Apabila Abu Musa duduk di sisi Umar maka Umar berkata,‘Hai Abu Musa,ingatkanlah kami.’Maka beliau membaca al-Qur’an.”

KEUTAMAAN AHLI HIJRATAIN

Para sahabat yang hijrah dari Makkah ke Habasyah tetap berada di sana dengan aman di bawah kekuasaan raja adil an-Najasyi hingga pada tahun ke-7 H mereka berhijrah dari Habasyah menuju Madinah. Mereka menumpang sebuah kapal yang dipimpin oleh Ja’far bin Ali bin Thalib Radhiallahu anhu hingga rombongan hijrah tersebut dikenal dengan Ash-hab as-Safinah (Rombongan Kapal).

Mereka bertemu dengan Rasulullah dan para sahabat yang baru selesai berperang dan mengalahkan Yahudi Khaibar.

Rasulullah sangat bergembira dengan kedatangan rombongan tersebut, beliau shallallahu alaihi wasallam berkata: “Aku tidak mengetahui, apakah aku senang dengan kemenangan pada perang Khaibar ataukah dengan kedatangan Ja’far bin Abi Thalib?”

Tatkala Umar bin Khaththab berkata kepada Asma’ binti Yazid (termasuk rombongan kapal):“Kami lebih dahulu hijrah ketimbang kalian maka kami lebih berhak dan lebih utama bagi Rasulullah.” Mendengar ini Asma’ binti Yazid bersumpah, demi Allah ia tidak akan makan makanan apapun dan tidak minum hingga ia sampaikan perkataan Umar itu kepada Rasulullah. Tatkala mendengar laporan Asma’, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لَيْسَ بِأَحَقَّ بِي مِنْكُمْ وَلَهُ وَلِأَصْحَابِهِ هِجْرَةٌ وَاحِدَةٌوَلَكُمْأَنْتُمْأَهْلُ السَّفِيْنَةِ هِجْرَتَانِ

“Dia tidak lebih berhak padaku dibanding kalian, padahal dia dan para sahabatnya hanya memiliki hijrah sekali.Adapun kalian rombongan kapal memiliki dua hijrah.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Mereka sangat gembira dengan persaksian Rasulullah ini,hingga para sahabat Ahli Safinah berdatangan kepada Asma’ untuk menayakan kebenarannya.

Abu Musa al-Asy’ari dan lainnya bergantian datang bertanya kepada Asma’ tentang hadits ini.Maka setelah mereka mendengarnya, tidak ada sesuatupun dari dunia yang paling menggembirakan mereka dan yang sangat agung di hati mereka melebihi hadits Rasulullah ini.

Imam Ahmad meriwayatkan dengan syarat al-Bukhari dan Muslim, dari Aisyah s\ berkata:“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendengar suara Abu Musa membaca al-Qur’an maka kata beliau,‘Sungguh Abu Musa al-Asy’ari telah diberi oleh Allah suara indah keluarga Dawud.’”

CELAKA RAFIDHAH

Syi’ah yang melampaui batas membenci Abu Musa Radhiallahu anhu karena tidak berperang bersama Ali bin Abi Thalib Radhiallahu anhu.

Syi’ah tidak memiliki kaidah untuk menilai kebaikan, kecuali ikut kesesatan mereka; fanatik buta pada ahli bait.

Sekalipun para shiddiqin, para syuhada, para wali Allah ta’ala, jika tidak ikut Syi’ah dan fanatik buta seperti mereka kepada ahli bait maka tetap digolongkan sebagai musuh Allah, kafir dan ahli neraka.Sebaliknya, sekalipun lebih buruk dari Abu Jahal akan tetapi fanati kepada Syi’ah maka dia dianggap sebagai muslim sejati.

Betapa hina sebuah paham yang tidak mengenal kebaikan selain fanatik kepada Ali Radhiallahu anhu dan tidak mengenal kejelekan kecuali lantaran tidak fanatik buta kepada Ali.Padahal Yahudi dan Nasrani tidak mengukur kebenaran dan kesesatan darirasa fanatik kepada orang tertentu.

Umat Yahudi dan Nasrani yang berpecah belah terdiri dari 70 golongan dan paham, bisa toleransi antar sesama mereka.Adapun Syi’ah Rafidhah, tidak ada toleransi dengan umat Islam dari golongan apapun, kecuali dengan kaum munafik, Bathiniyyah, Quburiyyah, Jahmiyyah atau Ahmadiyyah. Yaitu toleransi dan kerja sama bukan karena kesamaan paham akan tetapi karena kesamaan tujuan,yaitu mewujudkan kebatilan untuk kemenangan agama Iblis dan melenyapkan kebenaran agama Allah.Akan tetapi Allah senantiasa menyempurnakan dan memenangkan agama-Nya sekalipun umat kafir murka,memberontak dan tidak menghendaki.

Berkata Imam adz-Dzahabi: “Sungguh Abu Musa al-Asy’ari ahli puasa, ahli shalat, Rabbani, ahli zuhud, ahli ibadah termasuk diantara mereka yang menghimpun ilmu dan amal, jihad dan selamatnya dada.Tidak berubah dengan sebab kepemimpinan dan tidak tertipu oleh dunia.”

Maka celaka bagi yang tertipu dengan dunia dan hawa nafsu lalu mencela para sahabat.

Rasulullah berkata: “Hai Abu Musa, maukah kutunjukkan sebuah kalimat perbendaharaan surga?”Jawabnya:“Aku mau, ya Rasulullah.”Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:“Katakanlah Laa haula walaa quwwata illa billah….”

Sumber:

  • Siyar A’lam an-Nubala’ 4/44-57.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *