Maryam di Bawah Asuhan Nabi Zakariya

Maryam di Bawah Asuhan Nabi Zakariya 

            Setelah Maryam lahir, ibundanya yang bernama Hannah menyusuinya dan mengasuhnya. Tak berselang lama dari pengasuhan ibundanya, Maryam dibungkus kain kemudian dibawa ke masjid. Sesampainya di masjid, ibundanya menyerahkan Maryam kepada orang-orang yang tinggal di masjid tersebut.

Mereka Berselisih

            Setelah ibundanya menyerahkan Maryam kepada orang-orang tersebut, lantas mereka berselisih tentang siapakah di antara mereka yang paling berhak mengasuh Maryam. Pada saat itu Zakariya adalah seorang Nabi. Beliau bermaksud mengambil Maryam untuk diberikan kepada istrinya yang tak lain adalah bibi Maryam sendiri. Namun, orang-orang yang berada di sekitarnya tidak terima dan menuntut agar dilakukan undian, karena mereka juga mempunyai keinginan yang sama dengan Nabi Zakariya.

Undian pun dilakukan

            Karena banyak yang berkeinginan untuk mengasuh Maryam maka undian terpaksa dilakukan agar semua merasa senang dan ridha dengan hasil undian tersebut. Undian berlangsung hingga tiga kali putaran:

  1. Masing-masing dari mereka melemparkan anak panah, lalu mereka membawanya dan meletakkan di suatu tempat. Kemudian mereka menyuruh seorang anak yang belum baligh untuk mengambil salah satu anak panah tersebut. Ternyata yang diambil anak tersebut adalah anak panah Nabi Zakariya. Kebanyakan dari mereka tidak terima dari hasil undian tersebut. Akhirnya mereka menuntut diadakan undian lagi.
  2. Undian kedua pun dilakukan. Caranya, masing-masing melemparkan anak panahnya ke sungai. Barangsiapa yang anak panahnya melawan arus maka dialah pemenangnya. Setelah semua melempar, ternyata anak panah Nabi Zakariya yang melawan arus. Jadilah beliau sebagai pemenangnya.
  3. Kali ini ketentuannya berbeda dengan yang kedua. Barangsiapa yang anak panahnya terbawa arus maka dialah pemenangnya. Mereka semua bergegas untuk melempar anak panahnya ke sungai. Anehnya, semua anak panah justru melawan arus. Hanya anak panah Nabi Zakariya yang terbawa arus. Akhirnya Maryam diserahkan kepada Zakariya, karena beliaulah yang paling berhak untuk mengasuh Maryam, baik secara syariat maupun takdir dari Allah.

Di bawah asuhan Zakariya

            Setelah Maryam dibawa Nabi Zakariya, beliau membuatkan tempat khusus di dalam masjid. Tidak ada yang boleh masuk ke dalamnya kecuali dirinya saja. Kemudian Maryam tumbuh dalam asuhan Nabi Zakariya. Maryam beribadah kepada Allah di tempat yang telah disediakan untuknya dengan khusyuk, baik siang maupun malam. Sehingga ia menjadi teladan yang baik bagi bani Isra’il. Yang membuat Nabi Zakariya heran, setiap kali ia masuk ke tempat Maryam, beliau menjumpai buah-buahan pada musim panas padahal saat itu sedang musim dingin. Begitu juga sebaliknya. Ketika Nabi Zakariya bertanya, “Dari mana ini semua, wahai Maryam?” Maryam menjawab, “Semua dari Allah. Sesungguhnya Dia memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.”

Untuk orang tua dan pendidik:

  1. Buatlah mereka senang untuk membaca cerita orang-orang shalih agar mereka bisa meneladaninya.
  2. Kisah ini bisa di baca di awal-awal surat Maryam.
  3. Jelaskan pada mereka, bolehnya melakukan undian dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh syariat Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *