Agar Keluarga Jadi Penyebab Masuk Surga

Agar Keluarga Jadi Penyebab Masuk Surga 

Oleh: Ust. RIfaqAshfiya’ Lc.

Rumahku surgaku.” Sebuah ungkapan yang sering kita dengar, yang menggambarkan keinginan setiap insan akan kebaikan dan kebahagiaan dalam kehidupan keluarganya. Begitu pula setiap jiwa jika ditanya; ingin masuk surga atau ke neraka?Seorang non-muslim pun akanmenjawab dengan tegas, bahwa ia ingin masuk ke dalam surga.Terlebih dengan kita semua, sebagai muslimyang jelas menginginkan pertemuan bersama keluarga, Rasulullah ﷺ serta orang shalih lainnya di surga Allah ﷻ.

Allah ﷻ telah menjadikan rumah tangga dan keluarga sebagai tempat yang disiapkan untuk manusiaagar dapatmerengkuhketenteramandankebahagiaan, sebagai anugerah bagisetiap hamba. Allah ﷻ berfirman yang artinya:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.(QS. ar-Rum:21)

 TANGGUNG JAWAB ORANG TUA

Peran orang tua sangat menentukan baikburuk serta utuh atau tidaknya kepribadian anak. Untuk itu orang tua pasti akan dimintai pertanggunganjawab di hadapan Allah ﷻ tentang anak-anaknya.Perhatian perintah Allah berikut ini yang artinya :

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya Malaikat-Malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.(QS. at-Tahrim:6)

Abdullah bin Mas’ud a\ dan para ulama salaf rahimahumullah berkata, “Jika engkau mendengar Allah ﷻ berfirman dalam al-Qur’an, ‘Hai orang-orang yang beriman,’ maka perhatikanlah ayat itu dengan telingamu, karena itu merupakan kebaikan yang Dia perintahkan padamu, atau keburukan yang Dia melarangmu darinya.”[1]

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Tiada seorangpun yang dilahirkan kecuali di atas fitrah (Islam)nya. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.”(HR. al-Bukhari dan Muslim)[2]

Hadits ini menunjukkan bahwa orang tua sangat menentukan shalihatautidaknya anak. Sebab, pada asalnya setiap anak berada pada fitrah Islam dan iman; sampai kemudian datanglah pengaruh-pengaruh luar, termasuk orang tua yang mendidik mereka.

Rasulullah ﷺjuga bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ اْلإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

Setiap engkau adalah pemelihara, dan akan dimintai pertanggung jawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya;seorang pemimpin adalah pemelihara, ia akan dimintai pertanggung jawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya. Seorang laki-laki juga pemelihara dalam keluarganya, ia akan dimintai pertanggung jawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya. Dan seorang perempuan adalah pemelihara dalam rumah suaminya, ia akan dimintai pertanggung jawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya.”(HR. al-Bukhari)[3]

 PENDIDIKAN ISLAMI DALAM KELUARGA

Jika dikembalikan kepada tujuan diciptakannya manusia, yaitu hanya untuk beribadah kepada Allah ﷻ,maka peran orang tua menjadi sangat besar untuk mengarahkan anak-anaknya menjadi hamba Allah ﷻ yang shalih dan hanya beribadah kepada-Nya saja. Merupakan dosa besar jika orang tua tidak sungguh-sungguh mengarahkan anak-anak menuju peribadatan yang menjadi tujuan diciptakannya manusia.

Dalam hal ini keteladanan para Nabi harus diikuti. Sebagai contoh, Allah ﷻ menceritakan perhatian Nabi Ya’qub p\ terhadap anak-anaknya dan wasiat beliau kepada anak-anaknya saat menjelang wafat dalam surat al-Baqarah ayat 133 yang artinya:

Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya:Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Sesembahan-mu dan Sesembahan nenek moyangmu; Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, (yaitu) Sesembahan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk kepada-Nya.”(QS. al-Baqarah:133)

Meskipun ayat ini sebenarnya ditujukan untuk membantah anggapan orang-orang ahli kitab, bahwa Ibrahim, Ishaq, Isma’il dan Ya’qub adalah orang-orang yang beragama Yahudi atau Nasrani, namun juga mengandung pengertian, bahwa Nabi-Nabi tersebut senantiasa memperhatian akidah anak keturunannya. Yaitu, agar mereka selalu hanya beribadah kepada Allahﷻ.

Imam ath-Thabari mengatakan, “Tafsir ayat tersebut ialah: ‘Wahai orang-orang Yahudi dan Nasrani, orang-orang yang mendustakan kenabian Nabi Muhammad ﷺ,apakah kalian hadir dan menyaksikan keadaan Ya’qub pada saat menjelang wafatnya?’ Maksudnya; kalian saat itu tidak hadir. Oleh karenanya, kalian jangan mengaku-aku secara batil bahwa para Nabi dan Rasul-Ku beragama Yahudi dan Nasrani. Sesungguhnya Aku telah mengutus Khalil-Ku (kekasihku) Ibrahim, Ishaq, Isma’il dan anak keturunannya untuk membawa risalah Islam yang lurus. Dengan risalah inilah mereka memberi wasiat dan memerintah anak keturunannya agar mereka mengikutinya. Seandainya kalian hadir pada saat kematian mereka, tentu kalian mendengar dari mereka bahwa mereka tidak berada dalam agama yang kalian anggap.”[4]

Begitu juga perhatian dan pendidikan yang dilakukan Luqman kepada anaknya. Beliau memberikan wasiat kepada putranya dalam masalah agama, bukan wasiat duniawi yang sangat banyak didengungkan oleh banyak manusia zaman sekarang.Maka pendidikan islami dalam keluarga sudah barang tentu menjadi sebab masuk surganya keluarga tersebut.

Adapun di antara contoh pendidikan islami yang harus ditanamkan kepada keluarga:

Pertama: Mengajarkan ilmu seluruh anggota keluarga.

Sebagai contoh, Rasulullah ﷺ mengajari anak kecil tentang tauhid, doa, sebagaimana beliau bersabda.

يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

“Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andai mereka bersatu untuk membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”[5]

Allah akan menjaga agama dan iman keluarga tersebut jika memberikan pendidikan ilmu yang baik kepada mereka, terjaga dari perkara syubhat yang menyesatkan dan dari syahwat yang diharamkan.

Hal ini sebagaimana telah Allah buktikan pada Nabi Yusuf p\ ketikaiadigodaolehseorangperempuan jelita berdarah biru. Wanita tersebut mengajaknya untuk melakukan perbuatan keji di sebuah ruangan yang sangat sepi.Meskipun Yusuf juga berhasratkepadanya, akantetapi Allah ﷻ menjaganya sehingga ia selamat dari perbuatan keji tersebut. Allah ﷻ berfirman yang artinya:

Demikianlah kami palingkan Yusuf dari keburukan dan kekejian.Sungguh dia termasuk dari hamba Kami yang terpilih.(QS. Yusuf: 24)

Sungguh sebuah kemuliaan dari-Nya, Jika Allah ingin menjaga hamba-Nya, maka Diaakan menjaga anak keturunannya, meskipun orang tuanya sudah tiada. Hal ini sebagaimana telah Allah buktikan dalam kisah dua anak yatim yang ditolongolehKhadir.Anak tersebut ditolong lantaran orang tuanya seorang yang shalih. Allah ﷻ berfirman yang artinya:

Dan ayahnya adalah seorang yang shalih. (QS. al-Kahfi: 82)

Berkenaan dengan ayat ini, Imam al-Baghawi menukil perkataan Muhammad bin Munkadir, “Sesungguhnyaberkatkeshalihan seorang hamba, Allah akan menjaga anak keturunannya, sanak famili, dan keluarganya, serta orang-orang yang ada di sekitar rumahnya.”[6]

Contoh lainnya, tentang Pendidikan yang baik;dari Umar bin Abi Salamah a\, ia berkata, “Waktu aku masih kecil dan berada di bawah asuhan Rasulullah , tangankubersileweran di nampansaat makan. Maka Rasulullah bersabda,

يَا غُلاَمُ سَمِّ اللهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ » . فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِى بَعْدُ

‘Nak, sebutlah nama Allah (bacalah ‘Bismillah’), makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu.’Maka sepertiitulahgayamakankusetelahitu.” (HR. al-Bukhari: 5376, Muslim: 2022)

 Kedua: Senantiasabermal shalih.

Amal shalih adalah hiasandan bekal bagi keluarga calon penghuni surga. Tidak bisa dipungkiri kita semua telah paham bahwa banyak sekali amal shalih yang bisa kita lakukan dalam keluarga. Maka perlu teladan yang baik dari pemimpin keluarga, serta komitmen untuk saling menasihati dan memberi peringatan.

Betapa indahnya gambaran yang dicontohkan Rasul tentang komitmen untuk tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan antara pasutri.

رَحِمَ اللهُ رَجُلاً قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ رَحِمَ اللهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ

Semoga Allah merahmati seorang yang bangun di malam hari lalu shalat (Tahajjud) dan membangunkan istrinya. Jika istrinya enggan untuk bangun maka iapun percikkan air di wajahnya. Semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun di tengah malam lalu shalat (Tahajjud) dan membangunkan suaminya. Jika suaminya enggan untuk bangun maka ia percikkan air ke wajah suaminya.(HR. Abu Dawud 2/33 no. 1308 dan Ibnu Majah 1/424 no. 1336, dari Abu Hurairah a\. Dishahihkan oleh al-Albani)

Saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran adalah gerbang meraih keistiqamahan. Terkadang iman dan amal shalih anggota keluarga mengalami penurunan. Hal tersebut adalah sunatullah, karena memang tabiat iman sendiri bertambah dan berkurang. Oleh karena itu, disinilah letak pentingnya saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.Tiga ciri diatas sebenarnya intisari dari surat al-‘Ashr.

 PENANAMAN IMAN YANG KOKOH

Tanpa landasan iman, keluarga kita akan terpuruk selamanya. Tidak akan mungkin suatu keluarga akan menjadi penghuni surgatanpa iman.Bahkan itu suatuyang mustahil. Dengan berbekal iman yang kokoh, keluarga kita bisa bersama di dunia dan disurga. Allah ﷻberfirman yang artinya:

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka (Maksudnya: anak cucu mereka yang beriman itu ditinggikan Allah derajatnya sebagai derajat bapak-bapak mereka, dan dikumpulkan dengan bapak-bapak mereka dalam surga.) dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.(QS. ath-Thur: 21)

Berkaitan dengan ayat ini Imam Ibnu katsir berkata,“Allah mengabarkan keutamaan dan kemulian-Nya, karunia,kelembutan dan kebaikan-Nya pada hambaNya; bahwa orang-orang yang beriman apabila diikuti keturunan mereka dalam keimanan maka keturunan tersebut akan diikutkan pula di surga dengan nenek moyang mereka, meski tidak sampai derajat amalnya. Hal tersebut untuk mengokohkan pandangan bapak terhadap anaknya yang beriman dalam derajatnya. Maka berkumpulah diantara mereka dengan sebaik-baik penampilan. Yaitudengan cara ditinggikan orang yang kurang amalnya dengan orang yang sempurna amalnya. Dan pengangkatan derajat tersebut tidak mengurangi amal serta kedudukan orang yang tinggi amal dan derajatnya. Hal tersebut tidak lain untuk menyamakan kedudukan mereka.”[7]

 MENJAGA KETAKWAAN

Allah ﷻ berfirman,

لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

Bagi orang-orang yang bertakwa terdapat balasan di sisi Rabb mereka berupa surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, begitu pula mereka akan mendapatkan istri-istri yang suci serta keridhaan dari Allah. Allah Maha melihat para hamba-Nya. (QS. Ali ‘Imran: 15)

Syaikh Ibnu Utsaimin menguraikan jati diri orang bertakwa, bahwamereka itulah orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka. Mereka menjaga diri dari siksa-Nya dengan cara melakukan apa saja yang diperintahkan oleh Allah kepada mereka dalam rangka menaati-Nya dan karena mengharapkan balasan/pahala dari-Nya. Selain itu, mereka meninggalkan apa saja yang dilarang oleh-Nya, juga demi menaati-Nya serta karena khawatir akan tertimpa hukuman-Nya. (Majalis Syahri Ramadhan, hal. 119, cet. Dar al-‘Aqidah, 1423 H)

 Wallahu a’lam bishshawab. 


[1]Tafsir Ibnu Katsir 1/80.

[2]Tafsir ath-Thabari, Dhabth wa Ta’liq : Mahmud Syakir, Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, Beirut, cet. I – 1421 H/2001 M.

[3]FathulBari Syarh Shahih al-Bukhari, Ibnu Hajar al-‘Asqalani.

[4]Tafsir ath-Thabari, QS. al-Baqarah ayat 133, 1/650, Dhabth wa Ta’liq : Mahmud Syakir, Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, Beirut, cet. I – 1421 H/2001 M.

[5]At-Tirmidzi di dalam Sunan at-Tirmidzi no. 2516, Imam Ahmad di dalam alMusnad 1/307.

[6]Tafsir al-Baghawi 3/55.

[7]Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim 7/437.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *