Bagaimana Memulai Hidup Berumah Tangga?

Oleh: Abu Ammar al-Ghoyami

www.alghoyami.wordpress.com

 

Setelah menikah, seseorang pasti mengalami berbagai perubahan dalam hidupnya. Bagi yang tidak siap, berbagai perubahan tersebut dirasa begitu sulit, meski sejatinya ia juga begitu mudah. Bagaimana agar semua menjadi mudah? Berikut ini sedikit bekal pasutri untuk mengawali hidup berumah tangganya.

Masa transisi pasti terjadi pada pasangan suami istri muda. Yang tidak bisa tidak ialah transisi peran masing-masing. Saat pertama kita hidup bersama dalam ikatan pernikahan maka sebagai seorang laki-laki peranan kita sudah berubah dari hidup sendiri menjadi seorang suami yang harus bertanggung jawab dan mengayomi istri. Dan sebagai seorang wanita peranan kita pun telah berubah dari yang biasa sendiri dan ditanggung orang tua menjadi seorang istri yang mendampingi suami kita.

Dalam melalui masa transisi pasutri muda membutuhkan banyak penyesuaian dan bekal cinta dan kasih sayang di antara mereka. Ada beberapa keadaan yang mengharuskan pasutri muda beradaptasi. Kita ambil contoh, masalah keuangan untuk mewujudkan beberapa kebutuhan rumah tangga. Pengelolaan keuangan saat setelah menikah tentu berbeda dengan saat masih sendiri. Sekecil apa pun pendapatan dirasa besar karena hanya untuk diri sendiri. Belum lagi, kebutuhan sehari-hari biasanya masih mendapat dukungan orang tua. Berbeda keadaan setelah menikah, ketika seseorang harus mulai memikirkan kebutuhan bersama di atas kebutuhannya sendiri.

Di lain keadaan diakui bahwa pasangan muda adalah orang-orang yang memiliki mobilitas sangat tinggi. Sehingga tidak sedikit pasangan muda yang memaksakan diri membeli rumah meski jauh di pinggiran kota atau hanya sekadar mengontrak karena perlunya menyesuaikan kebutuhan dengan keadaan keuangan. Situasi ini tentu membawa berbagai perubahan dalam menjalani hari-hari.

Juga keadaan setelah menikah membuat seseorang memiliki kesempatan mendapat teman-teman baru karena pindah lokasi tinggal maupun tambahan teman dari pasangan. Di saat sama, pernikahan juga membuat seseorang kehilangan beberapa dari temannya karena alasan yang sama. Belum lagi perubahan status, dari single menjadi menikah, membuat seseorang cenderung mencari teman berstatus sama untuk berbagi pengalaman dan saling belajar kebaikan.

Yang tidak kalah penting ialah perubahan penampilan. Jika hari-hari pertama menikah pasangan selalu terlihat rapi, wangi, cantik dan enak dipandang, maka tidak jarang akan terjadi perubahan setelah pernikahan berjalan beberapa waktu. Harus dimaklumi bila mendapati pasangan dalam keadaan tidak siap, karena yang pasti tidak ada dandanan yang dapat bertahan 24 jam tanpa ada pergantian. Semuanya mendasari pentingnya beradaptasi saat pertama memulai hidup berumah tangga.

Harus Pandai Beradaptasi

Satu hal yang telah diterima oleh banyak ulama, bahwa kunci pernikahan bahagia adalah fleksibilitas atau adaptasi. Pasangan yang memiliki kemampuan beradaptasi pada berbagai perubahan, dan memiliki kemampuan untuk mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin timbul, akan memiliki hubungan yang kuat dan dapat bertahan lama.

Menerima berbagai perubahan yang tidak bisa diramalkan sebelumnya memang tidak mudah. Untuk itu diperlukan sikap bijak, harus ada usaha belajar menyesuaikan diri dan meningkatkan toleransi terhadap berbagai hal baru yang ditemui dalam perjalanan pernikahan. Sikap saling mengerti dan memahami kesulitan masing-masing dalam beradaptasi menumbuhkan rasa kebersamaan saat mencari solusi yang tepat dalam menyelaraskan hubungan. Karenanya antisipasi masalah ini adalah keterbukaan. Terbukalah kepada pasangan. Ungkapkan hal-hal yang mengganjal selama proses penyesuaian diri dengan berbagai perubahan yang muncul. Dan, komunikasikan berbagai harapan Anda dengan jelas. Selain itu juga dibutuhkan kesabaran yang seimbang. Anda harus sabar mendengarkan pesan yang tersirat dalam ungkapan-ungkapan yang disampaikan pasangan. Komunikasi yang baik mendukung proses penyesuaian diri, serta menimbulkan rasa kebersamaan yang kuat untuk menghadapi segala masalah yang mungkin menghadang.

Bulan-bulan pertama pernikahan identik dengan masa penyesuaian. Sadari, bahwa di masa ini Anda masih belajar untuk hidup berdua, dan tengah mempersiapkan diri belajar hidup bertiga, dengan kehadiran anak. Bisa jadi masa ini akan berlangsung setahun. Maka di masa ini mulailah belajar memupuk minat pada kegiatan yang sama. Ada baiknya Anda dan pasangan mulai melihat jauh ke depan. Buatlah rencana jangka pendek dan jangka panjang rumah tangga Anda; dari masalah anak, tarbiyah (pendidikan) mereka, keuangan, tempat tinggal dan sebagainya. Tak perlu cemas bila dalam masa penyesuaian terjadi beda pendapat dan keinginan. Yang penting, temukan cara penyelesaian yang terbaik dan gunakan pengalaman yang didapat untuk menghadapi masalah serupa. Yaitu pandai berkompromi atau bermusyawarah untuk mencapai manfaat.

 

Pandai Berkompromi

Memasuki masa perencanaan membangun masa depan rumah tangga terkadang banyak menimbulkan berbagai konflik akibat perbedaan sifat dan pendapat. Keadaan ini mungkin menjadikan Anda sempat putus asa. Sehingga di masa ini meski belum bisa sepenuhnya menerima perbedaan, mulailah belajar saling kompromi. Konflik biasanya timbul bila masing-masing memiliki harapan dan aspirasi berbeda terhadap pasangan. Jadi, sedapat mungkin saling komunikasikan, apa yang Anda harapkan dari pasangan.

Setelah benar-benar kita bulatkan tekad dan telah kita ikatkan mitsaqon gholizhon sebagai ikatan pernikahan, perlu kita sadari tentang pentingnya penyamaan tujuan pernikahan yang ada di antara kita berdua. Hal ini sangat penting, sebab perbedaan yang ada tentu akan menyampaikan kita berdua ke muara yang berbeda pula. Sebab perbedaan di awal ini akan mungkin sekali menimbulkan perbedaan yang berlanjut ke sebuah muara yang menyulitkan dalam menumbuhkan kasih sayang yang kita harapkan, dan bisa saja berujung pada perpisahan.

Seyogianya kita membuka lembaran baru hidup berumah tangga dengan musyawarah ringan, membicarakan tujuan masing-masing kita menikah. Musyawarah ringan tapi besar sekali faedahnya ini dilakukan hanya untuk menyamakan tujuan pernikahan yang diridhai Allah Subhanahu wa ta’ala. Bila sudah ada kesamaan, maka kita harus komitmen memegang tujuan tersebut untuk diusahakan pencapaiannya bersama-sama.

 

Pandai Introspeksi

Telah dimaklumi, bahwa dalam hubungan dengan pasangan, baik di masa adaptasi maupun masa kompromi, tak jarang terjadi salah paham. Apabila dipelajari lebih lanjut hal itu bisa terjadi karena kurangnya introspeksi diri. Dalam berkompromi, sadarilah bahwa Anda mungkin tersalah sebagaimana mungkin juga pasangan Anda yang tersalah. Juga sadarilah bahwa tak ada yang bisa berubah total dalam waktu singkat. Dengan pemahaman ini akan meringankan beban hati Anda, membuat Anda lebih sabar, dalam menghadapi kelemahan-kelemahan pasangan. Tidak malah saling menyalahkan dan menyudutkan.

Kita tentunya telah memahami bahwa mengubah karakter seseorang itu tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu rentang waktu yang cukup, dengan proses penyesuaian yang bertahap. Oleh sebab itu perlu adanya sikap saling mengerti dan memahami karakter masing-masing setelah saling introspeksi.

Saat harus introspeksi dan berkompromi, jangan mendasarinya dengan buruk sangka terhadap pasangan. Allah Subhanahu wa ta’ala melarang kaum mukminin dari berprasangka jelek alias kecurigaan. (QS. al-Hujurat: 12)

Kita hendaknya mendasari kompromi kita dengan berbaik sangka dan menaruh kepercayaan atas apa yang ada pada pasangan kita sehingga akan terbuka lebar pintu kebaikan. Pembicaraan dari hati ke hati akan terjadi dengan baik bila didasari saling percaya dan membuang segala macam curiga. Dengan begitu akan muncul tekad bersama-sama mencari titik temu yang memberi kebaikan buat kepentingan berdua. Tidak jarang pasutri yang melalaikan satu masalah ini. Sehingga ia selalu curiga dan berprasangka jelek atas apa saja yang ada pada pasangannya. Kita tentunya setuju, bahwa sebagai pasutri harus saling mengerti dan memahami sifat masing-masing, lalu mengapa masih ada buruk sangka dan curiga? Buruk sangka dan curiga itu wujud tidak adanya sikap mau saling mengerti.

Mengerti dan memahami bukan sekadar tahu apa dan bagaimana sifat serta karakter pasangan kita, namun sekaligus harus bisa bersikap bijak dalam mengimbangi perbedaan karakter pasangan kita tersebut sehingga menjadi padu dan tetap bisa berjalan bersama. Bila sifat pasangan kita keras, maka imbangi dengan kelembutan sehingga bila dipadukan akan terwujud sifat yang sederhana. Bila sifat pasangan kita terlalu lemah, maka imbangilah dengan mengangkat lemahnya menjadi sebuah ketegasan sehingga bisa membuahkan faedah. Terkadang untuk tujuan menyeimbangkan sifat sehingga tetap bisa diambil faedahnya bersama-sama butuh keterbukaan dan dialog dari hati ke hati.

 

Pandai Membina Keharmonisan

Mengingat pernikahan merupakan proyek besar kita dalam membangun rumah tangga demi mewujudkan cita-cita bersama, maka suatu kemestian bila kita berdua harus saling bekerja sama. Seluruh aktivitas yang kita lakukan harus senantiasa ada di atas semangat kerja sama yang harmoni di antara kita. Sebagai suami ia memimpin, memprakarsai dan mengayomi, sedangkan istri mendukung dan membantu. Saat suami menunaikan kewajiban atas hak istri, istri bersyukur dan bijak dalam mempergunakan hak-haknya. Ketika istri menunaikan kewajiban atas hak suami, suami bersyukur dengan semakin memperbaiki pergaulannya terhadap istrinya.

Demi membina keharmonisan harus ada yang mau mengalah. Dan harus dipahami, bahwa orang yang mengalah tidak selalu kalah, terkadang mengalah justru membuahkan kemenangan. Yaitu mengalah untuk kebaikan bersama.

Dalam usaha meraih tujuan tidak perlu merasa rendah diri saat kita harus mengalah. Boleh saja kita memiliki prinsip dalam berpendapat, namun bila pendapat kita kurang efektif untuk mewujudkan tujuan bersama, maka bukan aib bila kita harus mengubah prinsip dengan mengalah. Bila kita sebagai pasutri sama-sama tidak ada yang mau mengalah, akankah kita berjalan sendiri-sendiri mengikuti kemauan menuju arah yang berbeda? Jelas ini tanda adanya perpecahan dan hilangnya kepercayaan serta keharmonisan. Tentunya bila berlanjut, semakin suburnya keengganan untuk tetap hidup bersama.

Semoga dengan yang sedikit ini kita bisa memulai hidup berumah tangga dengan bahagia dan mendapat ridha-Nya Subhanahu wa ta’ala. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *