Bukti Atas Kemampuan Allah Dan Kebesarannya

Bukti Atas Kemampuan Allah Dan Kebesarannya 

Oleh: Ust. Muhammad Aunus Shofy

(Tafsir Surat al-Mursalat [77]: 20-28)

اَلَمْ نَخْلُقْكُّمْ مِّنْ مَّاۤءٍ مَّهِيْنٍۙ, فَجَعَلْنٰهُ فِيْ قَرَارٍ مَّكِيْنٍ, اِلٰى قَدَرٍ مَّعْلُوْمٍۙ, فَقَدَرْنَاۖ فَنِعْمَ الْقٰدِرُوْنَ, وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ, اَلَمْ نَجْعَلِ الْاَرْضَ كِفَاتًاۙ, اَحْيَاۤءً وَّاَمْوَاتًاۙ, وَّجَعَلْنَا فِيْهَا رَوَاسِيَ شٰمِخٰتٍ وَّاَسْقَيْنٰكُمْ مَّاۤءً فُرَاتًاۗ, وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ

Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina, kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim), sampai waktu yang ditentukan, lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Bukankah Kami menjadikan bumi (tempat) berkumpul, orang-orang hidup dan orang-orang mati, dan Kami jadikan padanya gunung-gunung yang tinggi, dan Kami beri minum kamu dengan air tawar? Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.

Di antara kebesaran dan kemampuan Allah ﷻ yang sempurna, Dia ﷻ menciptakan manusia yang asalnya tidak ada dan memberi mereka limpahan nikmat yang terus-menerus, dan disingkapnya segala kesulitan dengan dibukanya jalan-jalan kemudahan. Semua ini mendorong seorang yang memiliki fitrah dan akal yang sehat untuk mencintai siapa yang memberi nikmat serta kebaikan kepadanya.

Ketahuilah, bahwa kebutuhan hamba untuk mengenal Rabbnya dan mendalaminya lebih besar dari kebutuhan hamba kepada makan dan minum. Begitu juga, tidak ada kebahagiaan di dunia maupun di akhirat kecuali dengan mengenal Allah, mencintai-Nya serta beribadah kepada-Nya saja. Dan manusia yang lebih mengenal Allah, merekalah yang paling mengagungkan-Nya, mengimani-Nya dan yang paling bertakwa. Karena kepatuhan hati lebih penting daripada anggota badan. Jika hati baik, akan baik semua anggota badan. Sebaliknya, jika hati rusak maka akan rusak semua anggota tubuhnya.

Di dalam al-Qur’an banyak kita jumpai, bahwa Allah mengarahkan akal manusia supaya merenungi semua ciptaan-Nya yang ada di langit dan di bumi agar menjadi yakin dan lebih beriman kepada-Nya. Allah pun memberi gambaran yang hidup mengenai segala kesempurnaan kemampuan Allah, di antaranya yang terdapat di dalam ayat ini, sebagai bukti atas kemampuan-Nya untuk membangkitkan kembali manusia setelah mati pada hari kiamat.

Tafsir Ayat:

Tatkala Allah ﷻ mengancam para pendusta agama dan hari pembalasan dengan kehancuran, sebagaimana dihancurkannya kaum-kaum terdahulu yang semisal mereka, pada ayat selanjutnya Allah sebutkan bukti-bukti kepada mereka atas kemampuan-Nya tentang adanya hari pembalasan. Yaitu, bahwa siapa yang mampu memulai mampu untuk mengulangi lagi, dan siapa yang mampu menciptakan yang lebih besar dari manusia, niscaya sangat mudah untuk menghidupkan yang lebih kecil.

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di menafsirkan: “Yaitu; Bukankah Allah ﷻ menciptakan kalian, wahai manusia, dari air yang sangat hina, yang keluar dari antara tulang punggung laki-laki dan tulang dada perempuan, sehingga Allah meletakkannya pada tempat yang kokoh yaitu rahim?! Di dalamnya akan menetap dan terus berkembang sampai pada waktu yang ditentukan. Kemudian Allah tentukan dan atur janin itu di dalam kegelapan. Allah ubah air mani itu menjadi segumpal darah, kemudian menjadi segumpal daging sampai menjadi jasad yang utuh, lalu ditiupkan ruh di dalamnya, dan di antara mereka ada yang meninggal sebelum itu. Maka Allahlah sebaik-baik yang menentukan, yang mana ketentuan Allah mengikuti hikmah-Nya dan pujian-Nya. Kecelakaan yang besar pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, setelah Allah menjelaskan kepada mereka tanda-tanda kebesaran-Nya dan memperlihatkan kepada mereka pelajaran-pelajaran dan bukti-bukti.

Bukankah Allah ﷻ telah memberi anugerah dan kenikmatan kepada kalian dengan ditundukkannya bumi untuk kemaslahatan kalian, lalu Allah jadikan bumi sebagai tempat berkumpulnya kalian yang hidup di dalam rumah-rumah dan yang meninggal di dalam kuburan?! Sebagaimana bahwa rumah dan istana merupakan nikmat pemberian Allah kepada hamba-Nya, begitu juga dengan kuburan, merupakan rahmat bagi haknya orang yang meninggal, dan sebagai penutup bagi mereka dari keberadaan jasad mereka terbuka untuk makanan hewan buas dan yang lain.

Dan Allah membuat gunung-gunung yang tetap lagi tinggi di dalam bumi sebagai tiang-tiangnya agar bumi tak bergoyang bersama penghuninya. Allah kuatkan bumi dengan keberadaan gunung-gunung yang kokoh dan tinggi yaitu panjang dan lebar, dan Allah memberi minum kalian dengan air yang tawar, segar lagi jernih, sebagaimana Allah ﷻ berfirman:

اَفَرَءَيْتُمُ الْمَاۤءَ الَّذِيْ تَشْرَبُوْنَۗ, ءَاَنْتُمْ اَنْزَلْتُمُوْهُ مِنَ الْمُزْنِ اَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُوْنَ, لَوْ نَشَاۤءُ جَعَلْنٰهُ اُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُوْنَ

Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya? Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur? (QS. al-Waqi’ah: 68-70)

Celakalah pada hari itu bagi orang yang mendustakan, padahal Allah telah memperlihatkan kepada mereka dari kenikmatan-Nya yang Allah buat sendiri dan Dia khususkan mereka dengannya, lalu mereka menghadapinya dengan kedustaan.”[1]

Faedah Ayat:

  • Penciptaan manusia termasuk bukti kebesaran Allah ﷻ.

Allah ﷻ menciptakan manusia dari suatu benda yang terlihat sangat lemah, rendah dan kecil, yaitu air mani laki-laki. Lalu menempatkannya di dalam tempat yang tersembunyi, gelap dan kokoh, yaitu rahim wanita. Kemudian dari tempat itu dimulailah ciptaan manusia yang membawa benih-benih keturunan dengan bertemunya sperma dan sel telur sehingga terjadilah pembuahan. Jika melihat lebih detail tentang bagaimana proses pembuahan dan pertumbuhan manusia di dalam rahim serta bagaimana rahim mampu menjaga dari keguncangan dan memberinya makan selama sembilan bulan, niscaya akan membuat takjub siapa saja yang mau merenungi kesempurnaan kemampuan Allah ﷻ. (QS. al-Mu’minun: 14)

  • Peringatan dari Allah ﷻ agar manusia tidak takabur.

Jika seseorang mengetahui dan menyadari dari apa dia diciptakan, akan menghalangi dia untuk berlaku sombong dan congkak. Karena manusia diciptakan dari air yang sedikit lagi hina, namun dengan kehendak dari Allah mampu berubah menjadi manusia yang besar lagi kuat. Lalu pantaskah manusia berlagak sombong di hadapan Allah dan di hadapan sesamanya, padahal dia tidak mampu menghidupkan dirinya sendiri?! Ingatlah, bahwa manusia makhluk yang lemah, bahkan tidak ada apa-apanya dibanding dengan sebagian makhluk yang lain, dan kesombongan ialah penyebab seseorang tidak masuk ke surga.

Rasulullah ﷺ bersabda,

«لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ» قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً، قَالَ: «إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ»

“Tidaklah masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sifat takabur walaupun seberat dzarrah.” Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi ﷺ, “Bagaimana dengan seseorang yang senang berpakaian bagus dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah dan mencintai keindahan. Takabur adalah menentang kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim)

  • Allah ﷻ, Dzat tunggal yang berhak untuk dipuji.

Segala pujian hanya milik Allah. Dialah yang pantas untuk dipuji, disanjung dan diibadahi. Allah ﷻ pun sangat mencintai apabila Dia dipuji dan disanjung, sebagaimana di dalam ayat ini Allah memuji diri-Nya sendiri, bahwa Dialah Sebaik-baik yang menentukan, karena Allah Mahatinggi dalam zat dan sifat-Nya dan yang memiliki segala puncak kesempurnaan kekuatan serta kemuliaan.

Rasulullah ﷺ bersabda,

«إِنَّ اللهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الْأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا»،

Sesungguhnya Allah akan merasa senang kepada seorang hamba yang memakan makanan, lalu ia memuji Allah atas anugerah makanan tersebut atau ia meminum minuman, lalu ia bersyukur kepada Allah atas anugerah minuman tersebut.” (HR. Muslim: 2734)

  • Rumah dan kuburan merupakan nikmat dari Allah ﷻ.

Allah ﷻ menjadikan bumi sebagai tempat berkumpulnya manusia yang hidup maupun yang mati, berupa rumah-rumah untuk yang hidup dan kuburan untuk yang sudah meninggal adalah nikmat yang harus disyukuri. Dengan adanya rumah sebagai tempat tinggal manusia untuk istirahat pada malam hari agar terhindar dari bahaya malam dan tempat berteduh dari panasnya siang. Begitu juga kuburan adalah nikmat, baik untuk yang meninggal atau yang hidup. Dengan adanya kuburan, ia mampu menutup aurat dan aib orang yang wafat dan terjaga dari binatang buas. Nikmat pula untuk orang yang hidup, karena akan terhindar dari bau bangkai dan menjadikan bumi lapang. Bukankah dahulu anak Nabi Adam, Qabil, merasa bingung setelah membunuh saudaranya, dan mengatakan:

“Aduhai, celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu, jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal. (QS. al-Ma’idah: 31)

  • Gunung merupakan tanda-tanda kebesaran Allah ﷻ.
  • Air merupakan pemberian Allah ﷻ yang wajib disyukuri. Karena itu, Allah ﷻ mengkhususkannya dari nikmat rezeki yang lain, karena apabila air sudah menjadi kering atau tidak tawar lagi, siapakah yang dapat mengalirkannya lagi?
  • Ambillah pelajaran dari alam, dan gunakan akal untuk memahami bukti kebesaran Allah.
  • Bantahan bagi yang mengingkari hari kebangkitan dan pembalasan, bahwa yang mampu menciptakan manusia dari air, pasti lebih mampu untuk menghidupkannya kembali.
  • Ancaman bagi yang mendustakan hari kebangkitan dengan adanya adzab di hari kiamat.

Wallahu A’lam. 


[1] Tafsir as-Sa’di, hal. 903-904.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *