Kutakut Mati

Oleh: Ummu Muhammad – Gresik

 

Rumah kami dilalui sebuah jalan. Jalan itu terbujur dari arah timur ke barat. Suasananya hampir selalu sepi. Keramaian hanya nampak di sore hari. Ketika anak-anak kecil bermain bersama. Ketika anak-anak besar berjalan-jalan melepas kepenatan sekolah.

Di ujung barat, jalan itu berbelok ke selatan. Akan tetapi kalau mau, kita masih bisa terus berjalan ke arah barat melewati jalan yang tidak lagi beraspal. Jalan kecil itu hanya sedikit peminatnya. Untuk sebagian orang, pemandangannya terlalu menyeramkan. Untuk sebagian orang lagi, kondisinya menyulitkan kendaraan. Adapun bagiku, jalan itu mengingatkan pada kematian.

Ya, jalan itu berdampingan dengan area pemakaman. Sebuah tempat yang tidak didatangi siapa pun tanpa keperluan. Tujuan terakhir semua orang, yang kebanyakan dari kita tidak terpikir untuk menyiapkan.

Kutakut mati. Sejak kecil aku sering bertanya-tanya apa yang terjadi kalau seseorang mati. Ditimbun tanah, ditinggal seorang diri. Adakah yang lebih mengerikan dari keadaan ini?

Aku sungguh berharap tak perlu mati. Bagaimana bisa? Aku sudah terlanjur lahir dan hidup di muka bumi. Menyesalinya hanya akan menambah frustrasi. Mengabaikannya tak akan membebaskanku dari kegelisahan ini.

Aku mengenal dua orang wanita yang sudah lanjut usia. Keduanya sungguh berbeda dalam menghadapi bayangan kematian. Wanita pertama adalah seorang wanita sederhana. Suatu ketika ia mengalami cedera yang tak kunjung pulih. Ia merasakan sakitnya semakin menjadi hingga mulai berpikir bahwa ajalnya sudah dekat.

Dalam keadaan ini dia mulai berpamitan kepada sanak keluarga yang datang berkunjung. Memohon maaf atas segala kesalahannya. Bisa jadi pertemuan ini adalah pertemuan yang terakhir.

Bagi wanita ini, kematian itu sendiri bukanlah hal yang paling menakutkan. Kehidupan setelah matilah yang membuatnya khawatir. Maka ia berharap semua orang memaafkannya, demi meringankan dosa-dosanya.

Wanita kedua adalah seorang wanita yang sepanjang hidupnya tidak mudah menyerah. Penuaan yang menggerogoti tubuhnya pun ia lawan dengan membeli berbagai obat dan ramuan yang ia kira dapat mencegah takdir. Ketika sakit bertambah parah, yang ia inginkan adalah tinggal di rumah sakit. Hatinya tak bisa tenang bila berada jauh dari dokter dan perlengkapan medisnya.

Bagi wanita ini, kematian adalah akhir dari segalanya. Perpisahan dengan semua yang ia cintai, menjadi seorang diri di suatu tempat yang tidak pasti. Apa pun akan dia lakukan agar itu tidak terjadi.

Baiklah, kita semua akan mati. Dan kurasa wanita yang pertama itu benar. Tak ada yang bisa kita lakukan untuk menolak kematian. Namun ada banyak hal yang bisa kita kerjakan untuk meraih kehidupan yang bahagia setelah mati.

Rasa takut mati begitu mempengaruhiku. Hingga beberapa keputusan besar kubuat karena takut mati sebelum bertaubat. Di antaranya adalah keputusan untuk mulai berhijab.

Pada awal masuk perguruan tinggi, aku belum mengenakan hijab. Pergaulanku dengan teman-teman yang telah berhijab membuatku tergerak untuk mengikuti mereka. Herannya, selalu saja ada alasan bagiku untuk menunda.

Hingga suatu sore musibah itu terjadi. Seorang pengendara motor yang ceroboh menyeberang dengan tiba-tiba. Tabrakan tak terhindarkan. Tak lama setelah tubuhku terhempas di jalan beraspal, suara rem mobil terdengar berdecit di belakangku.

Sang sopir turun dari mobilnya sambil menyumpahi laki-laki penyebab kecelakaan itu. Laki-laki itu hanya diam terpaku. Ia pun menurut saja ketika kuminta KTP-nya sebagai jaminan bagiku.

Di perjalanan pulang, peristiwa itu terus terbayang di benakku. Aku hampir saja mati. Aku belum berhijab dan aku hampir saja mati. Selang beberapa hari kemudian, kubulatkan tekad untuk mulai berhijab. Alhamdulillah, hatiku menjadi lega. Seolah beban berat telah terangkat dari pikiranku.

Qaddarullah, kecelakaan itu bukanlah yang terakhir. Kali ini aku telah bekerja di sebuah perusahaan kecil di dekat rumah, dan mempunyai pekerjaan paruh waktu di akhir pekan.

Pekerjaan menyebabkanku tak bisa selalu menghindar dari interaksi dengan lawan jenis. Setelah mengenal dakwah sunnah, barulah aku mengerti kekeliruanku. Aku sadar aku harus meninggalkan kemaksiatan ini. Namun lagi-lagi hati ini merasa berat untuk berhenti.

Hingga musibah itu terulang kembali. Seorang pengendara motor yang ceroboh tidak menyalakan lampu di senja yang bergerimis. Ia nekat memasuki lajur kanan agar dapat mendahului antrean panjang kendaraan di tengah kemacetan lalu lintas. Singkat cerita, tabrakan tak terhindarkan.

Kali ini motor yang kukendarai mengalami kerusakan di sana-sini. Untunglah, setelah Allah, ada kakak yang selalu siap memberi bantuan materi. Satu hal yang kusadari, inilah peringatan keras dari Sang Pencipta langit dan bumi.

Kusampaikan pengunduran diri dari pekerjaan paruh waktu. Pekerjaan ini memang mengandung lebih banyak madharat ketimbang pekerjaan tetapku. Memang seharusnya kutinggalkan juga pekerjaan tetapku. Tapi sungguh berat rasanya kalau harus melepas keduanya sekaligus.

Laa haula wala quwwata illa billah... Untuk kesekian kalinya musibah kecelakaan itu kembali terulang. Lagi-lagi seorang pengendara motor yang ceroboh menyebabkan tabrakan tak terhindarkan. Motorku rusak parah. Aku pun tak bisa berjalan untuk beberapa waktu.

Aku sungguh heran dengan kejadian itu. Bagaimana mungkin aku mengalami dua musibah seperti ini hanya dalam tempo dua minggu? Rasanya tak percaya, tapi inilah kenyataannya.

Maka kuputuskan untuk menyerah. Kuajukan pengunduran diri dari pekerjaan tetapku. Jangan sampai peringatan Allah menjadi lebih keras kepadaku.

Sore itu terdengar langkah-langkah kaki saling mendahului. Mereka bergerak dengan cepat ke arah barat. Kurasa di ujung sana mereka akan merapat, mengantar seorang saudara beristirahat.

Ternyata ia adalah seorang wanita yang kukenal. Wanita sederhana dengan riwayat hidup yang luar biasa. Rela berpisah dengan belahan jiwa, demi meraih cinta Sang Pencipta. Menjalani hidup apa adanya, bersabar dalam kesedihannya. Tak bisa kubayangkan tangis pilu buah hatinya.

Suatu saat nanti orang-orang akan mengantarku ke sana. Menimbunku dengan tanah, meninggalkanku sendirian. Dan ketika Malaikat datang menanyaiku… Ya Rabb, berilah hambamu ini kemudahan…

Wahai jiwa, ingatlah waktumu akan berakhir. Kapan saatnya, tak ada yang tahu. Periksalah perbekalanmu dan jangan tertipu. Luruskan niatmu, jagalah amalanmu. Janganlah sekali-sekali kau bayar kebahagiaan dunia dengan kesusahan di akhirat. Wahai jiwa, bersiaplah … bersiaplah… bersiaplah…

 

Ummu Muhammad, Gresik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *