Kau Datang di Saat yang Tak Tepat

Oleh:  Abu Usamah

 

Dunia dipenuhi warna karena manusia juga tercipta berbeda-beda. Baik dari fisik, kemampuan olah pikir, maupun watak dan tabiatnya. Bak warna pelangi, keindahan dunia akan terasa kurang bila tak ada warna-warni makhluk yang menghiasi.

Baiklah, mungkin itu adalah cara pandang yang positif. Namun bagaimana jadinya bila seseorang selalu memandangnya dari sudut yang berbeda? Maksud saya, orang-orang yang agak cuek, bahkan tak pernah sama sekali mau memperhatikan perasaan orang-orang yang ada di sekitarnya. Singkatnya, ialah mereka-mereka yang tak (mau) mengetahui situasi dan kondisi. Mereka yang hanya bisa melihat satu warna dalam lengkung pelangi.

Supaya lebih jelas, mari kita lihat:

 

Fenomena di lapangan

Kejadian pertama, datang dari suami yang ingin melihat istrinya menjadi seorang wanita yang lebih baik, lebih shalihah dan lebih…. lebih…. Si suami pun selalu sigap meluruskan kesalahan si istri, baik yang kecil, sedang maupun yang besar. Metode meluruskan kesalahan yang dipraktikkan oleh si suami ini bisa dibilang tak kenal menyerah. Di setiap tempat dan setiap waktu, saat istrinya berbuat salah, suami langsung main ‘tegur di tempat’. Suatu ketika si istri terlambat naik bus karena suatu sebab, sedangkan sang suami telah berada di dalam bus. Karena khawatir ketinggalan bus, si suami pun menasihati istrinya dengan penuh semangat, dimulai dari berangkatnya bus hingga hampir sampai tempat tujuan. Saking semangatnya, lebih dari setengah penumpang bus ‘melongo’ menyaksikan pemandangan ‘nasihat suami kepada istri’ tersebut. Sayang, walaupun semangat empat lima, nasihat itu tak diterima.

Kejadian kedua, seorang manager yang sedang on fire mulai menjalankan program barunya berupa pengajuan kedatangan seluruh karyawan lima menit lebih awal dari jam kerja. Karena program masih baru disetujui kurang dari satu pekan, ada beberapa karyawan yang masih terlambat sekitar 5 menit dari jam masuk kerja atau datang pas jam kerja dimulai. Karena ingin menunjukkan keseriusannya dalam menjalankan program yang baik ini kepada seluruh karyawan, si manager pun langsung menindak di tempat si karyawan yang telat itu. Si manager pun berhasil membuat karyawan lain tahu tentang konsekuensi dari keterlambatan, karena nasihat itu dapat mereka saksikan sendiri. Namun sayang sekali, si karyawan yang dinasihati dengan ‘baik’ itu malah sakit hati dan terbiasa menelatkan diri, bahkan mulai suka membolos. Walaupun dipotong gajinya, maka ia dapat merasakan kepuasan karena telah berhasil ‘melawan’ si manager.

Kejadian ketiga, ada seorang suami yang setiap hari kerja dari pukul 07.30 hingga menjelang Maghrib di toko bangunan. Setelah seharian bekerja sang suami pun pulang dengan niat merehatkan badan. Sesampainya di rumah, dan ia belum sempat duduk, ternyata istrinya menyuguhinya dengan sederet laporan; tagihan listrik, uang jajan anak yang hampir habis, dan si anak sendiri yang terjerat kasus di sekolah. Laporan itu ditutup dengan tagihan SPP si anak yang harus segera dilunasi. Selesai menyampaikan laporannya, si istri merasa telah menunaikan kewajibannya sebagai istri yang perhatian dan menjalankan tugas dengan baik. Namun, anehnya si suami itu malah menghadapinya dengan muka masam, memilih untuk tidak meneruskan pembicaraan dan bergegas menuju kamar mandi sambil berujar seolah tak mau terbebani, “Emangnya gue pikirin..??!”

Kejadian keempat, ketika mengantarkan sepeda motor ke bengkel, terlihat di sana seorang montir yang tengah fokus mengerjakan perbaikan. Hampir satu jam si montir belum menyelesaikan tugasnya. Tiba-tiba ada seseorang kenalan akrab si montir mencoba mencairkan suasana. Dari arah belakang, si kenalan ini pun mencubit perut bagian samping si montir. Lagi-lagi sayang sekali, si montir malah berbalik arah dengan pandangan melotot dan seakan ingin mengambil palu untuk memukul si kenalan.

Ada yang salah?

 

Sebuah kisah pembanding

Sekarang, bandingkan empat kejadian di atas dengan kisahberikut:

Kisah pertama, sahabat Abu Thalhah dan Ummu Sulaim memiliki anak lelaki yang tampan. Ketika ditinggal safar oleh Abu Thalhah, anaknya yang masih kecil tersebut wafat. Untuk mengabarkan kejadian itu Ummu Sulaim mencobanya dengan berhias dengan sebaik mungkin.Ia pun memasak hidangan yang sedap dan tak lupa melayani kebutuhan batin Abu Thalhah. Setelah tugasnya dirasa cukup, barulah Ummu Sulaim mengabarkan wafatnya anak mereka.

Kisah kedua, dialami oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam sendiri. Ketika para sahabat telah yakin dapat berihram pada tahun 6 Hijriah. Nyatanya Quraisy tak mengizinkan mereka. Bahkan kaum muslimin ‘dipulangkan’ dan boleh berhaji tahun depan. Lantaran masih keadaan ihram, Rasul memerintah para sahabat yang masih capek dan kecewa untuk bertahallul dan menyembelih binatang kurban mereka. Namun tak satu pun dari sahabat yang bangkit melaksanakannya. Memang tak biasa. Namun keanehan ini terendus oleh Ummu Salamah Radhiallahu ‘anha, Ummu Mukminin. Beliau pun menasihatkan supaya Rasulullah yang memberikan contoh, bukan hanya sekadar praktik. Setelah itu barulah para sahabat menirunya.

Poin pentingnya, lihatlah bagaimana reaksi para sahabat yang masih capek dan kecewa diberi perintah oleh Rasulullah agar menuntaskan manasik mereka tanpa memasuki Masjidil Haram.

 

Belajar membaca situasi

Ketika membaca empat kejadian di bagian paling atas, kita mungkin sudah tahu, ada yang salah. Nasihat suami yang tak diterima oleh istri, teguran manager yang berujung pemberontakan, laporan istri yang tak dihiraukan suami, sampai si montir yang seakan menganggap musuh kenalan baiknya. Pasti ada yang salah.

Setelah itu bandingkan dengan kejadian pada subjudul setelahnya. Niscaya kita akan dapati, bahwa terkadang niat baik kita bermuamalah bersama orang lain itu saja tak cukup. Karena kita juga harus pandai membaca situasi, supaya niat baik yang coba kita sampaikan tak salah diterima.

Belajar membaca situasi tak hanya diperlukan dalam mengelola bisnis dan usaha. Akan tetapi ia juga amat dibutuhkan dalam pergaulan anak manusia sehari-hari.Bahkan mungkin dalam beberapa keadaan membaca situasi dalam pergaulan sehari-hari lebih penting dari sekadar intuisi dalam bisnis. Karena itu, perhatikanlah. Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *