Adab Mencari Rezeki

Oleh: Abu Bakr

 

DEFINISI REZEKI

Rezeki adalah segala sesuatu yang dapat diambil manfaatnya dari harta, kemuliaan, jabatan, kesehatan, keselamatan, makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, kendaraan, keturunan, ilmu dan semua yang dibutuhkan oleh manusia.Rezeki mencakup semua pemberian dunia dan akhirat. (LisanulArab 3/1636)

Berkata Syaikh as-Sa’di, “Rezeki dunia diberikan kepada muslim maupun kafir, sementara rezeki untuk hati berupa ilmu agama, iman, kecintaan, takut dan berharap kepada-Nya serta yang lainnya tidak diberikan kecuali kepada yang Dia cintai.” (TaisiralKarimir Rahman, hal. 95)

MACAM-MACAM REZEKI

Rezeki dibagi dua macam:

  1. Rezeki yang diperoleh dengan sebab berupa usaha, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Maryam (yang artinya):Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.(QS. Maryam: 25)
  2. Rezeki yang diperoleh tanpa usaha seperti harta warisan, hadiah, sedekah dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):Zakariya berkata: “Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.(QS. Ali ‘Imran: 37)

 

ADAB-ADAB MENCARI REZEKI

  1. Takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):

Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.Danbarangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.(QS. ath-Thalaq: 2-3)

Bukanlah yang menjadi ukuran banyaknya rezeki, namun berkahnya. Berkata Syaikhul Islam, “Jika ada orang yang berkata,‘Kita melihat ada orang yang bertakwa namun tidak mendapatkan rezeki yang banyak, sementara ada yang tidak bertakwa namun ia diberikan rezeki yang banyak’Maka jawabannya,‘Ayat tersebut menunjukkan bahwa orang yang bertakwa diberikan rezeki dari arah yang tidak diduga-duga dan bukan menunjukkan bahwa yang tidak beriman tidak berikan rezeki sama sekali. Semua makhluk pasti mendapatkan rezeki. Harta yang diperoleh oleh seseorang dengan cara yang haram pun masuk dalam kategori rezeki. Orang kafir terkadang diberikan rezeki dari jalan yang haram maupun jalan yang baik, dan terkadang diberikan rezeki dengan susah payah. Adapun ahli takwa diberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka dan bukan dari jalan yang haram atau tidak baik.Orang yang bertakwa tidaklah dicegah dari rezeki yang ia butuhkan, namun mereka dijaga dari rezeki yang berlebihan sebagai rahmat dan kasih sayang bagi mereka, karena diluaskannyarezeki terkadang menjadi bahaya bagi seseorang dan dibatasi rezekinya adalah bentuk rahmat kepada mereka.” (Majmu’ Fatawa 16/52-63)

Wahb Ibnu Munabbih berkata, “Termasuk dari hikmah Allah, Dia menciptakan makhluk yang berbeda-beda penciptaan dan takdirnya. Ada makhluk yang tetap ada selama dunia ini ada, tidak dikurangi dan hancur oleh pergantian hari.Ada yang berkurang, hancur, mati karena pergantian hari. Ada juga yang diciptakan tidak diberikan makan maupunrezeki.Ada yang diberikan makan dan rezeki, Allah menciptakannya bersama rezekinya.Kemudian Allah menciptakan makhluk darat dan makhluk di laut.Kemudian Allah menciptakan rezeki ciptaan-Nya tersebut. Makhluk darat rezekinya dari darat dan makhluk laut rezekinya dari laut. Tidak akan bisa hewan yang di darat hidup di laut dan hewan laut hidup di darat. Tidak bermanfaat rezeki hewan laut untuk hewan darat, dan sebaliknya. Jika hewan laut ke darat maka mereka akan binasa sebagaimana juga jika hewan darat masuk ke laut maka mereka akan binasa. Maka hendaklah wahai anak Adam, kalian mengambil pelajaran dari pembagian rezeki Allah tersebut. Tidaklah datang suatu rezeki melainkan seperti itulah pembagian dari Allah. Tidak ada yang bisa mengubahnya maupun mencampuri urusan-Nya. Sebagaimana semua hewan apabila ia hidup di tempatnya masing-masing dan menerima rezekinya maka mereka akan bisa hidup dan menjadi lebih baik. Demikian pula anak Adam jika merasa cukup dengan pemberian Allah maka ia akan tetap bisa hidup dengan baik, namun apabila ia menginginkan harta orang lain maka rezeki tersebut akan membuatnya semakin merasa kurang dan dapat membahayakannya.” (HilyatulAuliya’ 4/29)

  1. Tawakal kepada Allah dengan sebenarnya bersama dengan usaha serta yakin dengan apa yang di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Orang-orang pernah mendatangi Abu Hazim seraya berkata, “Wahai Abu Hazim, tidakkah engkau melihat harga-harga melambung naik?”Abu Hazim berkata, “Apa yang membuat kalian risau? Bukankah Zat yang memberi kita rezeki di waktu murah, Dia juga yang akan memberikannya di waktu mahal?” (Tahdzib al-Hilyah 1/526)

  1. Perbanyak istighfar.

Seorang hamba yang bertakwa terkadang dihalangi rezekinya dengan sebab suatu dosa dan maksiat, sehingga dianjurkan untuk membersihkannya dengan memperbanyak taubat dan istighfar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):

Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan.(QS. Hud:3)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda,“Sesungguhnya seseorang dihalangi rezekinya dengan sebab dosa yang diperbuatnya.” (HR. Ahmad 5/277, al-Hakim 1/493, dan ia menshahihkannya serta disepakati oleh adz-Dzahabi)

  1. Banyak bersyukur dan qana’ah dengan pemberian Allah.

Tidak sedikit orang yang merasa rezekinya seret karena penghasilannya sedikit, sementara dia anak-anaknya dalam keadaan sehat walafiat, masih dapat makan, minum dan lainnya.Ia tidak menyadari bahwa rezeki bukan hanya uang, sehingga sikap seperti ini membuatnya selalu menggerutu dengan rezeki yang sedikit dan menipis (terutama pada akhir bulan). Tentunya ini adalah bentuk tidak bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman (yang artinya):

Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Berkata Bakr al-Muzani, “Wahai anak Adam, jika engkau ingin mengetahui kadar nikmat Allah kepadamu maka tutuplah dua matamu.” (Mausu’ah Ibnu Abi ad-Dunya 1/524).

Berkata Sa’d Ibnu Abi Waqqash kepada anaknya, ‘Umar, “Apabila engkau mencari kekayaan maka carilah dengan qana’ah, karena jika engkau tidak qana’ah maka harta apa pun tidak akan membuatmu cukup.” (‘Uyunul Akhbar 3/187)

  1. Berinfak di jalan Allah, berbuat baik kepada kedua orang tua dan tidak lupa berdoa kepada Allah Yang Mahakaya. Diantara doa Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam adalah:

اللَّهُمَّ ابْسُطْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِكَ وَرَحْمَتِكَ وَفَضْلِكَ وَرِزْقِكَ

“Ya Allah, luaskanlah bagi kami dari berkah, rahmat, keutamaan dan rezeki-Mu.” (HR. Ahmad 3/424, al-Hakim 3/23, ShahihalAdab alMufrad 541/699) Wallahul Muwaffiq.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *